Artikel Dakwah

Hikmah Ketiga Puluh Tujuh : Keyakinan akan kekuasaan Allah (18/03/2019)

 

Sekiranya seluruh makhluk bersatu padu ingin memberikan satu kebaikan kepadamu, maka itu tidak akan pernah terjadi selama Allah tidak mengizinkannya. Demikian pula adanya, sekiranya seluruh makhluk bersatu padu ingin menimpakan satu keburukan kepadamu, maka itu juga tidak akan pernah terjadi selama Allah tidak menghendakinya. Yakinlah tidak ada satupun kekuatan yang sanggup menolak keburukan, sebagaimana tidak ada satupun kekuatan yang sanggup untuk mendatangkan kebaikan kecuali dengan izin Allah semata-mata. Bersandarlah hanya kepada Allah, kuatkanlah jiwamu dengan keyakinan akan kekuasaan-Nya.

 

Apa yang anda rasakan ketika tidak makan dan minum selama beberapa hari?

Tubuh menjadi loyo, lemas dan tidak bertenaga.

Lalu bagaimana keadaan anda ketika kehilangan keyakinan kepada Allah selama beberapa detik?

Jiwa akan menjadi lemah dan tidak bersemangat. 

 

Begitulah keadaan manusia. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari jiwa dan tubuh. Keduanya membutuhkan suplemen untuk menjaga kekuatannya. Suplemen tubuh adalah makanan dan minuman, sedangkan suplemen jiwa adalah keyakinan.

Tanpa makan dan minum, tubuh akan menjadi lemas dan tidak berdaya, namun tanpa keyakinan maka jiwa yang akan menjadi lemah tanpa semangat.

Keyakinan tertinggi seorang manusia adalah keyakinan kepada Pencipta, Pemelihara dan Penguasa alam semesta, Allah swt

Dengan keyakinan kepada Allah swt., maka setiap kesulitan akan dilewati dengan penuh kesabaran. Semua tantangan akan dihadapi dengan penuh kegigihan. Semua keinginan akan diupayakan dengan penuh keuletan Usaha akan dikerahkan dengan maksimal, sembari menyandarkan hasil akhirnya hanya kepada Allah swt.

Begitu pentingnya memiliki keyakinan akan kekuasaan Allah swt., Rasulullah saw memberikan pesan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. Sebagaimana yang terangkum dalam hadis berikut ini:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فَقَالَ « يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ ».

 

Artinya:

Dari Ibn ‘Abbas ia berkata, suatu hari saya di belakang Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: ”Wahai anak kecil! Sesungguhnya saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Peliharalah Allah, niscaya Allah akan memeliharamu; peliharalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu; apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah; apabila engkau memohon bantuan, mohonlah kepada Allah; Ketahuilah! Sekiranya seluruh makhluk bersatu padu ingin memberikan satu manfaat kepadamu, maka itu tidak akan pernah terjadi kecuali telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Demikian pula adanya, sekiranya seluruh makhluk bersatu padu ingin menimpakan satu keburukan kepadamu, maka itu tidak akan terjadi kecuali telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

(HR al-Turmudzi)

 

Dari sekian banyak pesan yang disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada ‘Abdullah ibn ‘Abbas, salah satu di antaranya adalah pesan untuk menanamkan keyakinan di dalam diri bahwasanya hanya Allah swt. satu-satunya yang bisa memberikan manfaat atau menimpakan satu keburukan kepada manusia.

Keyakinan bahwa tidak ada satupun kekuatan yang sanggup menolak keburukan, sebagaimana tidak ada satupun kekuatan yang sanggup untuk mendatangkan kebaikan kecuali dengan izin Allah semata-mata adalah kandungan dari kalimat La haula wa la quwwata illa billah

            Dengan keyakinan semacam ini, maka seseorang tidak akan terpengaruh dengan penilaian dan pandangan manusia, selama apa yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah swt. karena yang terpenting adalah mendapatkan ridha Allah swt.

 

Dr. H.Syahrir Nuhu, Lc, M.TH.I

 


Salam
Pengurus

MENUNAIKAN SHALAT (09/03/2019)

Qasim Mathar

(Guru Besar Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar)

 

Alhamdulillah, semangat untuk menunaikan shalat (sembahyang) oleh ummat Islam tampak menggembirakan. Setidaknya hal itu ditunjukkan oleh informasi media sosial yang dikirimkan ke grup-grup media sosial. Ada statistik di media sosial yang menunjukkan bahwa sekitar tiga puluh persen, atau sepertiga dari  seluruh, kaum muda Muslim suka ke mesjid untuk menunaikan shalat. Ada video yang beredar di media sosial yang memperlihatkan dua orang polisi wanita, dengan berkendaraan mobil polisi berkeliling kota, melalui pembesar suara mobil tersebut, menyeru agar kaum laki-laki Muslim bersiap-siap untuk berangkat ke mesjid karena waktu untuk shalat Jumat sudah akan masuk.

Semangat menunaikan shalat yang demikian juga diserukan di mimbar-mimbar mesjid oleh para dai dan muballigh. Ada dai menyatakan mudahnya melakukan salat, sekalipun kita berpergian ke daerah. Katanya, sepanjang daerah, wilayah yang dilewati, terdapat mesjid-mesjid yang berdiri di pinggir jalan yang dilalui. Memang kenyataannya begitu.

Keadaan seperti itu, sekali lagi, tentu menggembirakan. Orang-orang Muslim menunaikan kewajiban dalam agama mereka, yaitu menunaikan shalat. Sesungguhnya, ajakan dan seruan untuk melaksanakan ajaran agama, seperti salat (sembahyang) itu, hendaklah diiringi dengan bimbingan bagaimana ajaran agama tersebut ditunaikan di dalam kondisi zaman sekarang.

Kalau diperhatikan sumber yang meriwayatkan praktik shalat Nabi Muhammad Saw., ternyata Nabi memberi contoh cara shalat yang bermacam-macam. Berkaitan dengan kesulitan dan kemudahan teknis salat, Nabi melakukan shalat jamak dan qasar. Shalat jamak ialah menunaikan dua waktu shalat pada satu waktu. Misalnya, shalat Zuhur dan Asar dilaksanakan pada waktu Zuhur, atau Asar. Jika dilaksanakan pada waktu Zuhur disebut jamak taqdim. Jika di waktu Asar disebut jamak takhir. Shalat Magrib dan Isya juga boleh dijamak demikian.

Shalat qasar ialah shalat yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Salat Magrib dan Subuh tidak diqasar. Shalat subuh tidak boleh dijamak dengan salainnya. Shalat yang boleh dijamak, boleh juga sekaligus diqasar.

Kemudahan salat yang demikian, dibimbingkan juga oleh Nabi tentang teknis yang lain. Misalnya, shalat dalam kondisi duduk, berbaring, dan sesuai kondisi orang Muslim. Salat duduk di pesawat udara, bukan hanya dilakukan oleh yang sedang dalam perjalanan umrah atau haji. Tapi, boleh juga dilakukan kapanpun selain umrah dan haji. Misalnya, dalam kondisi di dalam mobil di jalan yang macet. Tentu dalam kondisi begitu, cukup bertayammum, pengganti wuduk, di bagian mobil itu sebelum salat duduk di mobil.

Kemudahan salat sebagai yang dibimbingkan oleh Nabi, sebaiknya disebarluaskan juga agar shalat dengan mudah bisa ditunaikan dalam kondisi bagaimanapun. Tidak perlu diserukan keseragaman teknis shalat itu. Bagi yang berpergian keluar kota, boleh singgah di mesjid setiap waktu shalat, boleh juga sekali singgah tapi menjamak/mengqasar shalatnya. Jika mau, jalan terus, tapi shalat ditunaikan di dalam mobil, boleh juga. Nabi telah membawa dan mengajarkan Islam dengan segenap kemudahan-kemudahannya. Sebarluaskanlah segenap kemudahan itu dan jangan, memang tidak berguna, mencela tata cara yang bermacam-macam dari kaum Muslimin dalam ber-Islam, khususnya dalam menunaikan shalat. Gembirakanlah mereka dalam beragama dengan berbagai versinya!

 

 


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Enam : Mensyukuri Nikmat (01/03/2019)

Assalamu alaikum Wr Wb

 

Ketika nikmat Allah masih ada dalam genggaman, seringkali manusia tidak menyadari nilainya, sehingga ia kemudian menyia-nyiakannya. Namun ketika nikmat itu Allah cabut darinya, barulah manusia tersadar dan menyesali diri. Tidak ada yang lebih mengetahui nilai sebuah nikmat dibandingkan dengan mereka yang telah kehilangan nikmat tersebut. Namun mereka yang mendapatkannya kembali akan jauh lebih menyadari nilainya. Manfaatkanlah nikmat yang Allah karuniakan kepadamu sebelum engkau kehilangannya dan bersyukurlah apabila engkau diberi kesempatan kedua untuk memperoleh nikmat tersebut.

 

            Siapakah yang lebih menyadari nikmatnya kesehatan?

Bukan orang yang sehat, tetapi orang yang sakit.

Siapakah yang lebih menyadari nikmatnya waktu luang?

Bukan orang yang memiliki waktu luang, tetapi orang yang punya banyak kesibukan.

Siapakah yang lebih menyadari nikmatnya usia muda?

Bukan orang yang masih muda, tetapi orang yang sudah lanjut usia.

 

Begitulah nikmat Allah, ketika masih ada dalam genggaman, seringkali manusia tidak menyadari nilainya, sehingga ia kemudian disia-siakan. Namun ketika nikmat itu Allah cabut darinya, barulah manusia tersadar dan menyesali diri.

Sungguh benar ungkapan yang menyatakan: “Tidak ada yang lebih mengetahui nilai sebuah nikmat dibandingkan dengan mereka yang telah kehilangan nikmat tersebut”.

 

Bersyukur bukanlah perkara mudah. Secara jelas Allah swt. menyatakan di dalam al-Qur’an bahwa hanya sedikit di antara manusia yang tahu bersyukur.

Untuk memudahkan besyukur kepada Allah swt., Nabi saw. telah memberikan tuntunan. Di antara tuntunan tersebut, terdapat di dalam hadis berikut ini:

 

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Artinya:

Dari Nu’man bin Basyir ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan mensyukuri nikmat yang banyak. Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah swt. adalah wujud rasa syukur dan meninggalkannya adalah bentuk kekufuran. Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah azab.

(HR. Ahmad)

 

Di dalam hadis di atas, Rasulullah saw memberikan beberapa tuntunan untuk bisa bersyukur kepada Allah swt. Di antara tuntunan tersebut adalah:

Pertama, mensyukuri nikmat yang sedikit. Allah swt. memberikan nikmat kepada manusia, biasanya tidak langsung dalam jumlah yang banyak, tetapi bertahap. Apabila seseorang bisa mensyukuri nikmat yang sedikit tersebut, maka Allah swt menjanjikan akan menambah nikmat-Nya

Kedua,berterima kasih kepada manusia. Kemauan seseorang untuk berterima kasih kepada sesama menunjukkan kerendahhatian dan pengakuan terhadap orang lain. Sikap ini pada akhirnya akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Allah swt.

Ketiga, menceritakan nikmat kepada orang lain dan tidak menyembunyikannya. Menceritakan nikmat kepada orang lain diperbolehkan, bahkan dianjurkan selama itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt. dan ingin membagi rasa syukur tersebut dengan orang lain, bukan sebagai ungkapan kesombongan dan keinginan untuk membuat iri orang lain.     

 

Bersyukurlah atas nikmat yang telah Allah swt. karuniakan dengan mengakui di dalam hati bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah swt., lalu pujilah Allah swt dengan lisan yang tulus, kemudian gunakan nikmat tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Bersyukurlah atas segala nikmat-Nya, sebelum nikmat tersebut dicabut karena tidak disyukuri. Manfaatkanlah nikmat yang Allah karuniakan kepadamu sebelum engkau kehilangannya dan bersyukurlah apabila engkau diberi kesempatan kedua untuk memperoleh nikmat tersebut.

 

(Dr..Syahrir Nuhun, Lc.M.Th.I)

 


Salam
Pengurus

BELA UMAT DAN ULAMA (12/02/2019)

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Jika merujuk ke kitab suci Alquran, kata "ummat" ("ummah") memiliki arti yang banyak. Kata itu bahkan bisa berarti sekelompok burung yang terbang di udara. Juga binatang-binatang yang ada di dunia. Menyepadankan kata "umat" dengan "bangsa", tentu tidak salah. Maka, berkata "umat Indonesia", itu sama artinya dengan "bangsa Indonesia".

Tapi, bila dibawa ke wacana politik, kata "ummat" berbeda dari "bangsa". Ungkapan "demi kepentingan umat", terutama bila ungkapan itu diucapkan oleh politisi Islam, sangat mungkin yang dimaksud ialah warga Indonesia yang beragama Islam saja. Warga Indonesia yang bukan Islam, tidak termasuk. Jika yang dimaksudkan untuk semua warga, maka ungkapan yang dipakai ialah "bangsa" atau "rakyat".

Kata umat Islam pada masa penjajahan dahulu mencakup semua orang Islam yang hidup dan menjadi penduduk di negeri-negeri atau di seluruh belahan dunia yang terjajah, di Asia dan Afrika. Di bagian-bagian dunia itu, umat Islam adalah satu rasa solidaritas. Satu rasa senasib dan satu rasa sepenanggungan. Satu umat itulah yang menjadi faktor penting yang mendorong dan menggerakkan perjuangan melawan dan melepaskan diri dari penjajahan. Satu persatu negeri-negeri umat itu menjadi negeri yang merdeka. Pada saat yang sama makna umat mulai bergeser menjadi lebih sempit. Umat adalah umat Islam Indonesia, Pakistan, India, Tiongkok, Irak, Turki, Iran, Mesir, Sudan, Aljazair, Libia, Marokko, dan lain-lain. Di negeri-negeri itu, jumlah umat Islam ada yang mayoritas, ada pula yang minoritas. Umat Islam di Indonesia, bahkan yang terbesar di dunia. Ada umat Islam yang minoritas di negara berpenduduk mayoritas bukan muslim. Seperti di Tiongkok, Jepang, Rusia, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan di benua Australia. Kini umat sedang mengalami bentuk bernegara yang disebut dengan negara bangsa (nation state) dan sistem berpemerintahan, ada yang republik, kerajaan, atau kombinasi dari kedua bentuk itu. Ada pula yang memberi atau mencangkokkan ke dalamnya model yang sesuai dengan corak keislaman yang dianut. Misalnya, lembaga Wilayatul Faqih guna melengkapi Trias Politica di Republik Islam Iran. Satu hal yang mesti dicatat ialah ummat dalam negara-negara bangsa memiliki kepentingan nasional (nation) masing-masing yang bisa saling berbeda.

Sistem khilafah Islam yang pernah berjaya pada masa lampau, meskipun sesudahnya mengalami kemerosotan dan kebangkrutan pada masa modern, menggugah kalangan pemikir Islam tertentu menyeru untuk menghidupkan kembali sistem kekhalifahan tersebut. Sebenarnya, seruan kembali ke masa lampau yang berjaya sebanding dengan seruan mewujudkan masa depan yang lebih baik dari sekarang. Cuma, pikiran maju selalu berpihak kepada masa depan yang lebih baik. Bukan kembali ke masa lampau yang juga mengandung kelemahan, selain kekuatannya. Umat masih berada di posisi antara keduanya. Artinya, bila pikiran maju lebih besar pada umat, maka kembali ke masa lampau bukan pilihan. Kecuali bila kondisi umat adalah kebalikannya.

Tampaknya, dalam wacana politik, kata "ulama" bernasib serupa dengan kata "umat". Kedua kata itu diulur dan ditarik menurut kepentingan politisi dan partai politik. Karena itu, dalam politik, pernyataan "bela umat" atau "bela ulama", tidak usah dipercaya. Sebab, itu hanya pernyataan politik yang bisa dinyatakan oleh politisi-politisi yang saling beda partai atau koalisi. Memang, istilah "ulama" adalah produk politik. Bukan produk yang lahir dari Alquran. Sedang istilah "umat" tidak apa-apa dipakai untuk makna yang banyak; itu sudah sesuai dengan Alquran.

 

Oleh : Prof DR.H.M. Qasim Mathar

(Guru Besar UIN Alauddin Makassar )


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Lima : Mengajarkan Ilmu (06/02/2019)

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Air kalau tidak mengalir akan menjadi keruh. Sebaliknya air apabila mengalir dengan lancar maka akan menjadi jernih. Begitulah ilmu yang tidak diajarkan akan mengeruhkan jiwa pemilik ilmu. Sebaliknya, dengan mengajarkannya kepada orang lain akan menjernihkan hati pemilik ilmu. Maka ajarkanlah ilmu yang engkau miliki kepada siapapun yang membutuhkan dan jangan menyimpannya untuk dirimu sendiri.

 

“Sebetulnya dia orang yang berilmu, sayang sekali ilmunya tidak pernah diajarkan kepada orang lain”.

Begitulah komentar orang banyak terhadap seorang teman yang memang berilmu, tetapi jarang menyampaikan ilmunya

 

Ilmu bukan hanya untuk ilmu. Pengetahuan bukan hanya sebatas untuk diketahui. Lebih dari itu, Ilmu untuk diamalkan dan diajarkan.

Ilmu seumpama air. Perhatikanlah air yang tidak mengalir. Ketika alirannya tersendat, maka ia akan menjadi keruh. Sebaliknya air apabila mengalir dengan lancar maka akan menjadi jernih. Begitulah ilmu yang tidak diajarkan akan mengeruhkan jiwa pemilik ilmu. Sebaliknya, dengan mengajarkannya kepada orang lain akan menjernihkan hati pemilik ilmu.

Maka ajarkanlah ilmu yang engkau miliki kepada siapapun yang membutuhkan dan jangan menyimpannya hanya untuk dirimu sendiri. Begitu pentingnya mengajarkan ilmu yang dimiliki sehingga Nabi saw. mengingatkan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

Artinya:

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ditanya satu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang oleh Allah dengan kekang yang terbuat dari api di hari kiamat.

(HR. Abu Dawud)

           

            Ilmu yang diajarkan kepada orang lain tidak akan berkurang kadarnya. Sebaliknya ilmu yang diajarkan akan semakin bertambah kuantitas dan kualitasnya. Semakin sering diajarkan, maka akan semakin tersimpan dalam ingatan. Allah swt. juga akan memberikan keberkahan ilmu kepada yang mengajarkannya.

Ilmu yang diajarkan tidak hanya memberikan manfaat di dunia, tetapi sampai di hari kemudian kelak. Ketika seseorang telah meninggalkan dunia ini, maka ia masih bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang pernah ia ajarkan.

Semoga Allah swt menjadikan para pembaca dan saya sebagai orang yang berilmu, mengamalkannya, mengajarkan ilmunya, dan ikhlas dalam beramal.

 

Oleh : Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THI


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Empat : Menasehati dan Mempermalukan (28/01/2019)

Assalamu alaikum Wr Wb.

 

Menyampaikan nasehat haruslah berangkat dari niat yang tulus untuk memperbaiki dan dengan cara yang benar dan baik. Terkadang ada yang memberi nasehat karena keangkuhan merasa diri lebih suci daripada yang dinasehati. Terkadang ada pula yang menyampaikan nasehat dengan cara yang tidak bijaksana sehingga mempermalukan orang lain. Menasehati dan mempermalukan adalah dua hal yang sangat berbeda jauh.

 

 

Dua orang yang berbeda menyampaikan nasehat yang sama kepada satu orang. Nasehat pertama ditolak mentah-mentah, sedangkan nasehat kedua diterima dengan lapang dada.

 

Mengapa ada nasehat yang begitu mudah menggugah jiwa dan berbuah penerimaan, namun ada pula nasehat yang tidak berbekas di hati, sehingga malah menghasilkan penolakan?

 

Menyampaikan nasehat yang bisa diterima orang lain tidaklah mudah. Nasehat haruslah berangkat dari niat yang tulus dan dilakukan dengan cara yang benar dan baik.

Sampaikanlah nasehat dengan niat untuk melksanakan peintah Allah sebagai bagian dai upaya untuk memperbaiki diri sendiri dan memperbaiki orang lain, bukan karena merasa lebih baik dibandingkan dengan orang yang dinasehati. Terkadang ada yang memberi nasehat karena keangkuhan merasa diri lebih suci daripada yang dinasehati.

Tidak selayaknya seseorang merasa lebih suci dibandingkan dengan orang lain. Allah swt. mengingatkan di dalam firman-Nya:

 

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

 

Terjemah:

Dia lebih mengetahui kamu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu Maka janganlah kamu menyatakan diri kamu suci, Dialah yang paling mengetahui orang-orang yang bertakwa.

(QS an-Najm: 32)

 

Selain niat yang tulus, cara menyampaikan nasehat juga harus benar dan baik. Terkadang ada yang menyampaikan nasehat dengan cara yang tidak bijaksana sehingga lebih terkesan mempermalukan orang lain daripada memperbaikinya.

Menasehati dan mempermalukan adalah dua hal yang sangat berbeda. Ketika seseorang menasehati orang lain, maka kehormatannya akan dijaga. Namun apabila kehormatannya diabaikan, maka pada hakikatnya itu bukanlah nasehat, tetapi mempermalukan.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Tiga : Keberhasilan Dakwah (17/01/2019)

Assalamu alaikum Wr. Wb

 

Keberhasilan sebuah ceramah tidaklah diukur dari banyaknya orang yang tertawa karena kelucuannya. Keberhasilan ceramah juga tidak diukur dari banyaknya orang yang menangis karena terharu. Tetapi keberhasilan sebuah ceramah yang merupakan bagian dari dakwah adalah ketika mampu mengeluarkan diri sendiri dan orang lain dari aneka kegelapan dan membawanya menuju kepada sebuah cahaya.

Keberhasilan sebuah ceramah tidaklah diukur dari banyaknya orang yang tertawa karena kelucuannya. Keberhasilan ceramah juga tidak diukur dari banyaknya orang yang menangis karena terharu. Tetapi keberhasilan sebuah ceramah yang merupakan bagian dari dakwah adalah ketika mampu mengeluarkan diri sendiri dan orang lain dari aneka kegelapan dan membawanya menuju kepada sebuah cahaya.

 

Apakah indikator keberhasilan sebuah ceramah?

Banyaknya gelak tawa?

Riuhnya tepuk tangan yang membahana?

Atau suara isak tangis?

Keberhasilan sebuah ceramah tidaklah diukur dari banyaknya orang yang tertawa karena kelucuannya. Keberhasilan ceramah juga tidak diukur dari banyaknya orang yang menangis karena terharu. Keberhasilan ceramah juga tidak dinilai dari banyaknya orang yang memuji karena menyukainya.

Keberhasilan sebuah ceramah sebagai bagian dari dakwah adalah ketika mampu mengeluarkan diri sendiri dan orang lain dari aneka kegelapan dan membawanya menuju kepada sebuah cahaya.

Allah swt. berfirman:

الر كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِم

 

Terjemah:

Alif Lam Ra. Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari aneka kegelapan menuju satu cahaya dengan izin tuhan mereka

(QS. Ibrahim: 1)

 

Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah jalan hidup Rasululullah saw dan jalan hidup para pengikutnya. Demikian penegasan Allah swt dalam QS Yusuf ayat 108. Maka menjadi Da’i (penyeru manusia ke jalan Allah) adalah satu kemuliaan.

Syekh Muhammad Namr al-Khatib dalam kitab Mursyid al-Dua’ ilallah mendefinisikan dakwah sebagai bangkitnya ulama yang tercerahkan untuk menyampaikan Islam kepada manusia dan mengajarkan kepada mereka urusan agama yang akan membuka mata kepala mereka dan memberikan kepada mereka tuntunan tentang hakikat dunia sesuai dengan agama Allah menurut ukuran kemampuan. Sementara itu, Dr. Rauf Syalabi dalam kitabnya al-Dakwah fi ‘Ahdiha al-Makky mendefinisikan dakwah sebagai harakah Islamiyah dalam dua sisinya, teori dan praktik, sebagai sebuah harakah untuk membangun daulah Islamiyah dan mempertahankan keberlanjutan eksistensinya.

Dakwah dengan ceramah adalah dua hal yang berbeda meskipun terkadang sebagian orang mengidentikkannya. Ceramah hanyalah salah satu uslub di antara sekian banyak uslub dakwah. Dakwah lebih luas daripada ceramah. Baik dalam dakwah secara umum, maupun dalam ceramah secara khusus dibutuhkan keikhlasan dan ilmu dari pengembannya agar mencapai keberhasilan dan terhindar dari kegagalan.

Keberhasilan dakwah sangat ditentukan oleh tingkat kesesuaiannya dengan manhaj Nabi saw. Dakwah yang mengikuti manhaj Nabi saw. akan mampu mengeluarkan manusia dari aneka kegelapan menuju kepada satu cahaya.

 

Dr. H. Syahrir nuhun, Lc, M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Dua : Memahami Alasan suatu Tindakan (07/01/2019)

Assalamu Alaikum Wr Wb

Belajarlah untuk selalu memahami orang lain, meskipun tidak semua tindakannya bisa dibenarkan. Seseorang tidak mungkin bisa membenarkan tindakan orang lain tanpa mengetahui alasannya dengan baik. Dengan mengetahui alasannya, sesalah apapun tindakan seseorang menurut penilaianmu, anda akan memahami tindakannya dan lebih bijak dalam menyikapinya. Lebih baik menyibukkan diri untuk memperbaiki kekurangan diri sendiri, daripada menghabiskan waktu untuk mempersalahkan orang lain.

 

Adakah seseorang yang semua tindakannya disetujui dan disepakati oleh orang lain? atau adakah seseorang yang bisa menyetujui dan menyepakati semua tindakan yang dilakukan oleh orang lain?

 

Sepertinya orang yang seperti itu tidak akan pernah ditemukan dalam dua kondisi tersebut. Boleh jadi, ada orang yang menampakkan secara lahiriahnya persetujuan dan kesepakatan atas semua yang dilakukan oleh orang lain, namun belum tentu persetujuan dan kesepakatan tersebut benar-benar muncul dari lubuk hatinya yang terdalam.

Seringkali seseorang menampakkan persetujuan dan kesepakatan terhadap orang lain, meskipun sebenarnya hatinya tidak menyetujui. Hal itu disebabkan oleh berbagai alasan. Boleh jadi karena ingin menyenangkan hatinya atau paling tidak untuk menghindarkannya dari kekecewaan.

Sebagaimana tidak mungkin semua tindakan anda disetujui, disepakati dan dibenarkan oleh orang lain, demikian pula anda tidak mungkin bisa menyetujui, menyepakati dan membenarkan semua tindakan orang lain. Maka, yang lebih penting daripada membenarkan tindakan seseorang adalah memahaminya.

Belajarlah untuk selalu memahami orang lain, meskipun tidak semua tindakannya bisa dibenarkan.

Untuk bisa memahami tindakan seseorang, maka minimal mengetahui alasan yang mendasarinya untuk melakukan hal tersebut. Anda tidak mungkin bisa membenarkan tindakan seseorang tanpa mengetahui alasannya dengan baik. Dengan mengetahui alasan seseorang melakukan suatu tindakan, maka anda akan memahami tindakannya dan bisa lebih bijak dalam menyikapinya.

Memahami alasan suatu tindakan juga akan menghindarkan seseorang dari sikap terlalu mudah menyalahkan orang lain. Selain itu, jauh lebih baik menyibukkan diri untuk memperbaiki kekurangan diri sendiri daripada menghabiskan waktu untuk mempersalahkan orang lain.

Seringkali seseorang menyibukkan diri dengan mencari-cari dan membicarakan aib orang lain, sedangkan aib besar yang ada pada dirinya sendiri luput dari perhatiannya.

Sungguh tepatlah apa yang disebutkan di dalam hadis berikut:

 

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يبصر أحدكم القذاة في عين أخيه وينسى الجذع في عينه )

Atinya:

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran yang terdapat pada mata saudaranya, tetapi dia lupa kayu besar yang ada di matanya.

(HR. Ibn Hibban).

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan hadis di atas dalam kitab al-Adab al-Mufrad secara mauquf.

           

Dalam hadis di atas digambarkan sifat manusia yang dengan mudahnya bisa melihat kesalahan kecil yang dilakukan oleh orang lain, tetapi tidak memperhatikan kesalahan besar yang telah dilakukannya.

Mari lebih banyak memanfaatkan waktu untuk menilai diri sendiri, mencari kekurangan diri dan mempebaikinya.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc, MA


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Satu : Menerima Kekurangan Orang Lain (24/12/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb

.

Tidak ada kesempurnaan yang mutlak di bawah kolong langit dan di atas permukaan bumi, karena yang sempurna secara mutlak hanyalah Pencipta langit dan bumi. Seseorang tidak akan pernah menemukan sosok yang sempurna dalam kehidupannya. Siapapun orangnya: orang tua, anak, suami, istri, guru, murid, sahabat bahkan seorang tokoh agama dan pemimpin sekalipun, pasti memiliki kekurangan. Anda akan sangat kecewa kalau mengharapkan sosok yang yang sempurna. Sebaliknya kebahagiaan akan dirasakan jika mampu menerima orang lain secara sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hargailah kelebihan orang lain dan pahamilah kekurangannya.

 

Pernahkah anda merasa kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa seseorang yang pada awalnya sangat anda puja-puja, anda kagumi, anda idolakan dan anda jadikan sebagai figur yang sempurna untuk dijadikan teladan ternyata mempunyai banyak kekurangan yang tidak pernah anda duga?

 

Kalau anda pernah mengalaminya, maka jangan salahkan orang yang anda kagumi. Masalahnya sesungguhnya bukan pada orangnya, tetapi pada diri anda sendiri. Mengapa demikian? Di dunia ini memang tidak ada yang sempurna. Tidak ada kesempurnaan di bawah kolong langit dan di atas permukaan bumi, karena yang sempurna hanyalah Pencipta langit dan bumi.  

Sosok yang sempurna tidak akan pernah ditemukan dalam kehidupan ini. Siapapun orangnya dan dalam posisi apapun: sebagai orang tua, anak, suami, isri, guru, murid, sahabat bahkan seorang tokoh agama dan pemimpin sekalipun, pasti memiliki kekurangan.

Semua orang pernah melakukan kesalahan. Sangat tidak bijaksana apabila menuntut dari seseorang untuk tidak pernah melakukannya.  Allah swt. pun melewatkan apa yang dilakukan oleh manusia karena kesalahan, kelupaan dan keterpaksaan. Rasulullah saw. bersabda:

 

 عَنْ أَبِى ذَرٍّ الْغِفَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ ».

Artinya:

Dari Abu Dzar al-Ghiffari ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah melewatkan dari umatku (apa yang dilakukan) karena kesalahan, kelupaan dan keterpaksaan.

(HR. Muslim).

 

Kekecewaan akan dirasakan apabila mengharapkan dan memaksakan hadirnya sosok yang sempurna dalam kehidupan. Ketika merasa tidak puas dengan seseorang yang selama ini telah bersama menjalani hidup dan mengharapkan hadirnya sosok yang lain, yakinlah bahwa ketidakpuasan akan kembali dirasakan meskipun sosok yang diharapkan tersebut telah dimiliki. 

Kebahagiaan hanya akan bisa dirasakan apabila mampu menerima orang lain secara sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka hargailah kelebihan orang lain dan pahamilah kekurangannya. Sebagaimana orang lain memiliki kekurangan, anda pun pasti juga memilikinya.

 

Oleh : Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc, M.THi

 


Salam
Pengurus

Kisah Inspirasi, BERTANYA"MENGAPA?" (14/12/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Jika di tengah jalan terdapat sebuah batu besar, kemudian Anda diminta memindahkannya, apa yang pertama Anda tanyakan kepada orang yang menyuruh memindahkan batu tersebut?

Biasanya pertanyaan yang umum yaitu “Ke mana dipindahkannya?” atau “pakai apa?” Jarang sekali yang bertanya “mengapa dipindahkan?” atau “untuk apa dipindahkan?” Pertanyaan yang sering muncul lebih bersifat teknis, bukan filosofis.

Demikian pula dalam kehidupan, sangat jarang kita bertanya yang bersifat filosofis seperti “mengapa saya ada di dunia ini?” Atau “untuk apa saya hidup?” Padahal pertanyaan yang bersifat filosofis ini sangat penting dan menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Seperti halnya batu besar tadi.”Mengapa dipindahkan?” Jika jawabannya “karena menghalangi orang” atau “bisa mencelakakan kendaraan yang lewat”, berarti pemindahannya memiliki tujuan atau manfaat mulia.

Berbeda jika ceritanya seperti ini. Di dekat batu itu ternyata ada lubang besar. Batu sengaja dipasang untuk memberi tanda agar orang tidak terperosok ke dalam lubang. Jika dipindahkan berarti bisa mencelakakan orang.

Jika anda diminta memindahkannya, dan tahu kondisi itu, tentu saja Anda tidak mau memindahkannya.

Dalam ilmu manajemen dikenal ‘five why analysis” sebagai salah satu cara mencari akar masalah dengan bertanya ‘mengapa’ sampai lima kali.

Misalnya mengapa terlambat bangun? Karena terlambat tidur. Mengapa terlambat tidur? Karena begadang. Mengapa begadang? Karena mengerjakan tugas yang belum selesai. Mengapa belum selesai? Karena tugasnya kebanyakan.

Jika dirasa sudah tidak bisa lagi bertanya ‘mengapa?’ maka itulah akar masalahnya.  

Pendekatan ini bisa juga digunakan pada pertanyaan yang bersifat kontemplatif “five why contemplation”.

Cari pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Contohnya “mengapa bekerja?” Karena ingin punya uang. “Mengapa ingin punya uang?” “Karena harus membiayai diri dan keluarga”. Mengapa membiayai diri dan keluarga?” Karena tanggung jawab”. Mengapa tanggung jawab? Karena “amanah dari Sang Pencipta”.

Jadi ujungnya mengapa kita bekerja karena menjalankan amanah dari Sang Pencipta, mencari rejeki untuk membiayai diri dan keluarga. Tentu berbeda kalau hanya sampai jawaban pertama “ingin punya uang”. Jawabannya cenderung materialis. Hanya sekadar mengumpulkan harta.

Mengapa jadi pengusaha? Karena ingin kaya. Kalau hanya sampai di sini, berarti kapitalis. Coba kalau dilanjutkan pertanyaannya,

“mengapa ingin kaya?” Agar bisa membuat usaha lebih banyak lagi”. Mengapa ingin buat usaha lebih banyak lagi?” Agar banyak orang yang bekerja”. Mengapa? Agar bisa membantu banyak orang untuk mandiri secara ekonomi”. Mengapa? “agar tidak membebani orang lain dan Negara.

Jawaban ini tentu lebih bermakna. Itulah yang dinamakan ‘alasan keberadaan’ atau ‘misi’ yang menjawab ‘why we are in’.

Manusia diciptakan ke dunia tentu juga punya misi. Apa misinya? Berbagi. Apa yang dibagi? Manfaat. Maka wajar saja Rasulullah SAW bersabda “yang terbaik di antara kamu yaitu yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain”.

Itulah manifestasi manusia sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi ini. Pemimpin yang melayani. Itulah manifestasi manusia sebagai hamba Allah yang bersyukur dengan menggunakan segala nikmat dari Allah untuk hal-hal yang bermanfaat.

Akhirnya itu semua menjadi manifestasi ibadah manusia, ibadah yang bersifat sosial dan spiritual.

 

Syamril

Direktur Sekolah Islam Athirah

 


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh Satu : Menerima Kekurangan Orang Lain (04/12/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Pernahkah anda merasa kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa seseorang yang pada awalnya sangat anda puja-puja, anda kagumi, anda idolakan dan anda jadikan sebagai figur yang sempurna untuk dijadikan teladan ternyata mempunyai banyak kekurangan yang tidak pernah anda duga?

 

Kalau anda pernah mengalaminya, maka jangan salahkan orang yang anda kagumi. Masalahnya sesungguhnya bukan pada orangnya, tetapi pada diri anda sendiri. Mengapa demikian? Di dunia ini memang tidak ada yang sempurna. Tidak ada kesempurnaan di bawah kolong langit dan di atas permukaan bumi, karena yang sempurna hanyalah Pencipta langit dan bumi.  

Sosok yang sempurna tidak akan pernah ditemukan dalam kehidupan ini. Siapapun orangnya dan dalam posisi apapun: sebagai orang tua, anak, suami, isri, guru, murid, sahabat bahkan seorang tokoh agama dan pemimpin sekalipun, pasti memiliki kekurangan.

Semua orang pernah melakukan kesalahan. Sangat tidak bijaksana apabila menuntut dari seseorang untuk tidak pernah melakukannya.  Allah swt. pun melewatkan apa yang dilakukan oleh manusia karena kesalahan, kelupaan dan keterpaksaan. Rasulullah saw. bersabda:

 

 عَنْ أَبِى ذَرٍّ الْغِفَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ ».

Artinya:

Dari Abu Dzar al-Ghiffari ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah melewatkan dari umatku (apa yang dilakukan) karena kesalahan, kelupaan dan keterpaksaan.

(HR. Muslim).

 

Kekecewaan akan dirasakan apabila mengharapkan dan memaksakan hadirnya sosok yang sempurna dalam kehidupan. Ketika merasa tidak puas dengan seseorang yang selama ini telah bersama menjalani hidup dan mengharapkan hadirnya sosok yang lain, yakinlah bahwa ketidakpuasan akan kembali dirasakan meskipun sosok yang diharapkan tersebut telah dimiliki. 

Kebahagiaan hanya akan bisa dirasakan apabila mampu menerima orang lain secara sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka hargailah kelebihan orang lain dan pahamilah kekurangannya. Sebagaimana orang lain memiliki kekurangan, anda pun pasti juga memilikinya.

 

Oleh :  Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

Kisah Inspirasi : ALAT BUKAN TUJUAN (27/11/2018)

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Apapun yang diraih oleh manusia baik harta, tahta, pasangan hidup/keluarga, atau gelar keilmuan dapat dipandang dari dua sisi, yaitu sebagai TUJUAN dan ALAT. Jika sesuatu dipandang sebagai TUJUAN maka saat kita meraihnya ia sudah final, selesai, tutup buku.

Tapi jika dipandang sebagai ALAT, maka ia baru mulai, halaman pertama. Jika kita memandang segala yang diraih adalah amanah, maka sungguh itu adalah ALAT.

Harta yang kita cari setiap hari dengan bekerja keras bukanlah tujuan tapi alat untuk meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Demikian pula dengan tahta berupa jabatan, ia juga bukan tujuan tapi sebagai alat untuk berkontribusi dengan amal kerja agar dunia menjadi lebih baik. Agar banyak orang yang dapat dibantu dan disejahterakan.

Demikian pula dengan pasangan hidup/keluarga, itu juga alat bagi kita untuk beramal saleh. Apalagi ilmu, setelah diraih dengan gelar keilmuwan disertai wisuda yang membanggakan, berikutnya menanti aplikasi ilmu tersebut.  

Hati-hati, jangan pernah memandang sesuatu itu sebagai tujuan karena bisa ada dua kemungkinan. Jika berhasil diraih khawatir membuat lupa diri dan lupa konsekwesinya. Atau karena dia tujuan maka khawatir menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Memperturutkan hawa nafsu tanpa mendengar hati nurani. Padahal hawa nafsu memiliki kecenderungan kepada keburukan.  

Terkait penguasa, di dalam Al Qur’an ada kisah menarik tentang Nabi Sulaiman a.s yang Allah berikan kelebihan ilmu bisa memahami bahasa burung dan semut, kekuasaan kerajaan yang besar dengan balatentara dari jin dan manusia, dan harta dengan istana yang megah yang melimpah. Rasanya belum ada penguasa sekaliber Sulaiman a.s. Namun saat memiliki itu semua apa ungkapan beliau :

…. "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
(Q.S. An Naml : 40)

Sulaiman a.s. memandang itu semua cobaan, ujian apakah dapat disyukuri atau tidak. Apa bukti syukurnya? Ternyata dengan bekerja dan berkarya.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. (Q.S. Saba’ : 13)

 


Syamril

Direktur Sekolah Islam Athirah

 


Salam
Pengurus

Kisah Inspirasi : Tahi Lalat yang menawan (13/11/2018)

Assalamu Alaikun Wr.Wb

Waktu penulis masih kecil dulu di era tahun 1980-an salah satu bintang film cilik  favorit kami di kampung yaitu Rano Karno. Apa ciri khasnya? Yaitu tahi lalat di dagu sebelah kiri. Kami pun membuat tahi lalat palsu di dagu sebelah kiri kami dengan tinta pulpen. 

Biar mirip tahi lalat Rano Karno. Lebih lanjut biar jadi ganteng seperti Rano Karno, dan memang banyak orang apalagi wanita terlihat cantik karena punya tahi lalat.

Ada apa dengan tahi lalat? Jika Anda punya tahi lalat coba lihat ia dengan loop atau kaca pembesar. Apa yang tampak? Ternyata  ia adalah benda hitam yang jelek. Tapi mengapa saat ia dilihat pada keseluruhan wajah bisa membuat wajah jadi cantik? 

Inilah keanehan tahi lalat. Kalau mau melihatnya jadi cantik lihatlah pada keseluruhan wajah, jangan focus pada tahi lalatnya. 

Demikian pula dengan kehidupan kita. Ibarat tahi lalat itu ujian, cobaan dan musibah. Jika dilihat menggunakan loop atau kaca pembesar maka tampak sangat jelek, kita tidak menginginkannya. 

Oleh karena itu lihatlah dalam keseluruhan ‘wajah’ hidup Anda, maka tahi lalat itu menjadi indah dan mempercantik ‘wajah’ kehidupan Anda. Karena ujian, cobaan dan musibah maka manusia jadi dapat membuat perbandingan kehidupannya pada saat normal. 

Sakit sebagai ujian akan membuat kita sadar betapa berharganya kesehatan sehingga menjadikan kita bersyukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan. Kekacauan dan ketakutan akan membuat kita bersyukur atas keamanan yang kita rasakan. 

Kekurangan uang akan membuat kita bersyukur saat menerima gaji atau bonus.   

Cobalah flashback  kehidupan Anda selama ini dan perhatikan hal-hal yang menurut Anda waktu itu kesulitan, musibah atau mungkin bencana atau sesuatu yang tidak Anda inginkan. Pandanglah ia pada keseluruhan ‘wajah’ kehidupan Anda, bandingkan dengan keadaan Anda sekarang. 

Betapa indahnya terlihat kesulitan dan musibah tersebut di keseluruhan wajah kehidupan Anda. Ada pengalaman penulis waktu baru menikah sekitar 18 tahun yang lalu. Gaji yang pas-pasan harus dapat dihemat untuk belanja berdua setiap harinya. 

Suatu hari terjadi musibah, motor saya dipinjam oleh adik saya dan dia mengalami tabrakan. Masuklah motor ke bengkel dan biayanya hampir menghabiskan gaji saya sebulan. Wah, gimana nih untuk belanja sehari-hari? 

Apa yang kami lakukan? Mengumpulkan koran bekas yang ada di rumah kemudian ditimbang. Dapat uang yang tidak begitu besar namun rasa syukurnya yang sangat besar karena dengan uang itu kami dapat beli beras untuk dimakan. 

Lalu sambil bekerja sehari-hari dicobalah mencari tambahan dengan jualan pakaian bekas atau cakar. Ada teman bawa cakar dari Medan dengan harga murah. Saya pun ambil dan coba jual. 

Laku satu terasa sangat senang karena dapat untung meskipun cuma lima ribu tapi terasa sangat besar karena memang lagi butuh uang. Saat kejadian itu diingat kembali, maka timbul rasa syukur yang sangat dalam dengan apa yang Allah anugerahkan saat sekarang ini.   

Ternyata dalam kehidupan ini terkadang kita memandang sesuatu itu tidak baik padahal Allah punya maksud yang baik yang kita baru sadari setelah itu terjadi. Kesulitan, hambatan dan masalah ibarat obat yang pahit namun menyehatkan. 

Sering kita memohon sesuatu, tapi Allah memberi hal yang berbeda, yang berlawanan dengan permohonan kita. Jangan dulu berburuk sangka pada Allah sampai akhirnya berhenti berdo’a. Sering Allah memberikan sesuatu yang memang kita butuhkan tapi kita belum memahaminya. 

Perhatikan puisi ini : 

Saya memohon diberi Kekuatan...
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuat saya Kuat.
Saya memohon agar menjadi Bijaksana...
Dan ALLAH memberi saya Masalah untuk diselesaikan.
Saya memohon Kekayaan...
Dan ALLAH memberi saya Bakat,Waktu, Kesehatan dan Peluang . 
Saya memohon Keberanian…..
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.
Saya memohon Rasa Cinta...
Dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu.
Saya memohon Kelebihan...
Dan ALLAH memberi saya jalan utk menemukannya.
“Saya tidak menerima apapun yang saya minta..
.......Akan tetapi saya menerima semua yang saya butuhkan " 

Mengapa paradigma ini perlu dimiliki? Karena tabiat kita manusia salah satunya mudah berkeluh kesah. Tergambarkan dalam sya’ir Muhammad Agung Wibowo di bawah ini : 

Saat kita dalam keadaan susah 
Kita merasa yang tersusah di dunia 
Namun saat mendapat kesenangan 
Kita masih saja ingin seperti orang lain
(Sebenarnya kita juga sadar bahwa) 
Sesusah apapun kita, pasti ada yang jauh lebih susah
(Tapi kita manusia juga punya tabiat serakah sehingga)
sekaya apapun kita, pasti masih merasa belum puas 
(Bagaimana menyeimbangkannya?)
Rasakanlah cukup apa yang ada 
Daripada apa yang tiada 
Dan tetaplah meraih apa yang dicita 
Sambil bersyukur atas apa yang ada 

Sebagai penutup, Allah mengingatkan dalam Al Qur’an : 
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah : 216)

“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”  (Alam Nasyrah : 5-6) 

-Syamril, S.T.,M.Pd.

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

Kisah Inspirasi : Suami Istri Bahagia (08/11/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pasangan suami istri yang langka, istrinya sangat cantik tapi suaminya sangat jelek. Suatu hari saat sedang duduk berduaan, suaminya begitu terkesima melihat kecantikan istrinya.  Saat itu istrinya berucap “ada apa kanda? Kok lihat lihat saya terus?” Suaminya menjawab “saya sangat bersyukur punya istri yang cantik seperti adinda”. 

Istrinya menimpali “sungguh kita pasangan yang bahagia”. Suaminya bertanya “kok dikatakan bahagia?” Istrinya menjawab “kita berdua bahagia karena kanda bersyukur punya istri yang cantik dan saya bersabar punya suami yang jelek”. 

Ternyata kunci bahagia itu adalah syukur dan sabar. Syukur atas segala nikmat dan pemberian dari Allah dan sabar terhadap segala musibah yang menimpa. Dalam hidup ini selalu ada suka-duka, nikmat-musibah dan lain sebagainya. 

Tidak mungkin manusia hidup selalu dalam keadaan suka selamanya dan tak pernah berduka. Atau mendapatkan nikmat selamanya tidak pernah menghadapi musibah. Adanya kedua hal itu membuat hidup jadi penuh dinamika. 

Kondisi apapun yang terjadi jika dihadapi dengan rasa syukur dan sabar maka semua menjadi indah. Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga. Semuanya dapat menjadi indah jika suami istri memiliki syukur dan sabar. 

Apa sebenarnya syukur itu? “Seorang ibu selalu bersedih memikirkan nasib kedua anaknya. Apa masalahnya. Ternyata anak pertama pekerjaannya jualan payung dan anak kedua jualan sepatu kain. Mengapa sedih? Saat hujan dia memikirkan anaknya yang jualan sepatu kain. 

Sulit sepatu kain laku kalau musim hujan.  Saat panas dia memikirkan anaknya yang jualan payung. Sulit payung laku karena tidak ada hujan.  Sampai akhirnya datang seseorang memberinya solusi. Kata orang itu, biar ibu tidak bersedih, saat hujan pikirkan anak ibu yang jualan payung,  jangan yang jualan sepatu kain. Saat panas, pikirkan anak ibu yang jualan sepatu kain, jangan yang jualan payung”.

Jadi solusi masalah ibu tersebut adalah fokus pada yang ada, bukan yang tidak ada. Itulah makna sederhana dari syukur. Saat kita melihat pada apa yang kita miliki atau yang Allah anugerahkan maka kita akan mudah mensyukurinya. 

Namun saat fokus kita pada apa yang tidak ada maka yang terjadi adalah kita tidak bersyukur atas apa yang ada. Kita merasa kekurangan atau seolah-olah tidak memiliki apa-apa. 

Dalam rumah tangga karena keterbatasan penghasilan suami - istri terkadang banyak kebutuhan yang belum bisa dipenuhi. Teman saya punya pengalaman menarik. Dia hanya bisa beli motor, padahal anak lebih dari dua sehingga bepergian bersama sama dengan motor tidak mungkin dilakukan. 

Suami istri tersebut tetap bersyukur dan berpikir positif.  Dia berucap “Alhamdulillah, sudah ada motor. Dulu harus jalan kaki atau pakai angkot. Kalau mau berangkat bersama sama semuanya disiasati saja. Toh tidak selalu berangkat bersama. 

Apa pakai angkot atau pinjam mobil tetangga atau saudara. Jika tidak bisa juga, usahakan untuk tambah motor saja sehingga berangkat bersama dengan dua motor”. 

Orang yang punya motor jika pikirannya pada mobil yang belum ada maka dia akan kesulitan mensyukuri motor yang dimilikinya. Kalau dia fokus pada motornya dan mengatakan Alhamdulillah saya sudah punya motor yang bisa saya gunakan ke mana-mana, maka dia pun akan bersyukur dengan motor yang dimilikinya. 

Semoga dengan rasa syukur tersebut Allah akan memberinya rezeki sehingga mampu beli mobil atau dapat mobil dinas atau COP (Car Ownership Program) dari kantor. Allah berfirman : 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7) 

-Syamril-

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

Memahami Tanda-tanda (02/11/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb

Seorang karyawan alat-alat laboratorium dengan bangga pulang ke kampungnya. Dia sudah berhasil dan bekerja di tempat yang baik. Maka diapun membawa oleh-oleh untuk sahabat karibnya di masa sekolah. Apa oleh-olehnya? mikroskop. 

Ditunjukkannya ke sahabatnya kehebatan mikroskop yang bisa melihat benda kecil bahkan bakteri yang ada di dalam air. Sahabatnya pun kagum dan takjub. Hadiah itu diterima dengan senang hati. 

Setelah sang karyawan kembali ke kota maka temannya dengan bangga memperlihatkan kehebatan mikroskopnya ke orang-orang kampung. Diambilnya daun, kain, dan berbagai barang lain dan diperlihatkannya di bawah mikroskop. Orang kampung kagum dan takjub.   

Sampai akhirnya suatu hari saat dia di meja makan terlihat sambal yang selalu menjadi menu favoritnya. Dia penasaran untuk mencoba mengamati apa gerangan yang ada di dalam sambalnya. 

Diperiksanya dengan mikroskop. Alangkah kagetnya saat terlihat di mikroskop ternyata sambal favoritnya penuh dengan makhluk sejenis bakteri. Dia jadi galau.

Bagaimana ini? Sambal ini ternyata berbahaya, mengandung kuman penyakit. Tapi mau dibuang atau berhenti makan sambal juga rasanya tidak mungkin karena sudah menjadi kebiasaan dan nikmat rasanya. 

Akhirnya dia kecewa dengan mikroskopnya. Dia memutuskan membuang mikroskop itu. Gara gara mikroskop ini dia jadi takut dan khawatir makan sambal. 

Cerita di atas mungkin menggambarkan diri kita yang gagal memahami tanda-tanda. Kata pepatah "buruk wajah cermin dibelah". Kita tidak ingin menerima tanda-tanda karena ego dalam diri kita.  

Mungkin tanda itu berupa nasehat atau syariat agama. Kita tidak terima karena mengganggu zona nyaman dan kebiasaan kita yang salah. Kita sadar bahwa nasehat itu benar. Tapi hawa nafsu kita menolaknya. Akhirnya orang yang memberi nasehat kita benci dan musuhi. Kita pun mencari pembenaran untuk menolak kebenaran. 

Bisa juga tanda itu berupa keadaan fisik kita yang tidak nyaman. Mulai terasa kurang fit. Tanda kita harus istirahat. Tapi kita abaikan akhirnya sakit menimpa kita. 

Bisa juga tanda itu meminta kita untuk diet atau olahraga atau mengubah pola makan. Tapi kita abaikan karena membuat kita menderita. Akibatnya sakit melanda dan barulah kita menyesal. 

Bisa juga tanda itu berupa musibah yang menimpa. Itu tanda dari Allah agar kita kembali kepada Nya. Bertaubat dan sadar atas segala kesalahan. Tapi kita abaikan sampai datang musibah yang lebih besar. 

Semoga kita menjadi manusia yang mau menerima tanda-tanda yang itu untuk kebaikan kita. Itulah hidayah. 

 

Syamril, ST, M.Pd.

Direktur Sekolah Islam Athirah

inspirasi dr ceramah subuh ust. Ansarul


Salam
Pengurus

Hikmah Ketiga Puluh : Menjaga Ucapan dan Tindakan (29/10/2018)

Assalamu alaikum Wr. Wb.

 

Satu orang yang membencimu, sudah sangat banyak, karena akan sangat menyesakkan hati dan membuat dunia terasa sempit. Seribu orang yang mencintaimu, masih terlalu sedikit. Maka berhati-hatilah dalam berucap dan bertindak. Jangan membuat orang yang tadinya mencintaimu berubah menjadi orang yang sangat membencimu.

Pernahkah anda mengalami berada di suatu lokasi yang sama dengan orang yang membencimu?

Kalau pernah apa yang anda rasakan ketika itu? Merasa sempit dan terhimpit

 

Begitulah kebencian. Tempat yang boleh jadi luas, tetapi justru akan terasa sangat sempit. Satu orang yang membenci, sudah sangat banyak, karena akan sangat menyesakkan hati dan membuat dunia terasa sempit. Sebaliknya, seribu orang yang mencintai, masih terlalu sedikit.

Cobalah sejenak meluangkan waktu untuk mengingat kembali orang-orang yang dulunya sering bersamamu, selalu menemanimu dalam berbagai suasana, membagi suka dan duka, tetapi kemudian berubah drastis menjadi orang yang membencimu.

Lalu renungkanlah apa sesungguhnya yang menjadi penyebab cinta itu berubah menjadi kebencian?

Boleh jadi ada ucapan dan tutur kata yang telah melukai hatinya atau tindakan buruk yang sulit untuk dia lupakan.

 

Mulailah untuk lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Jangan membuat orang yang tadinya mencintaimu berubah menjadi orang yang sangat membencimu.

Rasulullah saw. pernah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ  ...

Artinya:

Dari Abu Hurairah dari rasulullah saw, beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam…”

(HR. Muslim)

 

            Di dalam hadis di atas Rasulullah saw. memberikan pilihan kepada orang yang beriman untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Keduanya itulah, ucapan baik dan diam ketika tidak bisa berkata baik, yang merupakan indikator keimanan seseorang.

            Pernyataan Rasulullah saw. di atas jauh lebih bijak dibandingkan dengan peribahasa yang menyatakan bahwa diam itu emas dan bicara itu perak. Peribahasa tersebut menyatakan bahwa diam lebih baik daripada bicara, padahal tidak selamanya diam lebih baik daripada bicara. Bicara yang baik justru lebih baik daripada diam. Diam baru lebih baik daripada bicara apabila pembicaraan tidak lagi mendatangkan kebaikan.

            Tidak semua diam bernilai emas. Ada diam yang melambangkan kecerdasan dan kearifan seseorang, namun ada juga diam yang justru menunjukkan kebodohan. Sebaliknya, tidak semua bicara bernilai perak. Ada bicara yang lebih baik daripada diam, yaitu bicara yang baik dan penuh hikmah, namun ada juga bicara yang bahkan lebih rendah daripada perunggu. Bahkan ada bicara yang tidak ada nilainya sama sekali.  

 

Oleh  Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THi

 


Salam
Pengurus

Kisah Inspiratif, Kerja vs Syukur (22-10-2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Mana yang Anda pilih, karena bekerja manusia bersyukur, atau karena bersyukur manusia bekerja.

Biasanya orang memilih karena bekerja manusia bersyukur. Kenapa? Di zaman sekarang sulit dapat  kerja. Apalagi mau buka usaha sendiri.

Nah, jika orang sudah bekerja maka itu adalah nikmat luar biasa yang pantas disyukuri.

Maka pilihannya “karena bekerja manusia jadi bersyukur”.

Itu pilihan yang biasa. Kalau Anda mau jadi orang yang luar biasa, pilihlah yang juga tidak biasa. Apa itu? Karena bersyukur manusia bekerja.

Artinya wujud rasa syukur manusia terhadap nikmat dari Allah dengan bekerja sebaik-baiknya.

Anugrah dari Allah sangat besar, dan jika manusia mencoba menghitungnya, dia tidak akan mampu menghinggakannya.

Secara garis besar, nikmat pertama yang Allah berikan yaitu nikmat kehidupan.

Ternyata tidak hanya itu, Allah juga memberi nikmat kesehatan, karena tidak semua yang diberi kehidupan dapat menjalaninya dengan sehat.

Datanglah ke rumah sakit, Anda akan menemukan berbagai macam penyakit yang diderita oleh manusia.

Anda yang sehat pun akan mudah bersyukur karena Allah masih memberi Anda kehidupan dan kesehatan.

Untuk apa semua nikmat tersebut? Logika penciptaan mengajarkan kita bahwa segala sesuatu diciptakan pasti ada maksudnya.

Lihatlah barang di sekitar kita hasil kreasi teknologi manusia. Pasti itu semua tidak asal dibuat. Pasti ada maksudnya.

Apalagi barang yang dibuat dengan kategori limited edition dan master piece.

Nah, sadarkah Anda bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang very limited edition karena tidak ada satu orang manusia pun di bumi ini yang sama persis 100%.

Kemudian ternyata manusia ciptaan Allah juga master piece, ciptaan Allah terbaik.

Dilengkapinya manusia dengan komponen fisik dan non fisik.

Spiritual, intelektual, emosional dan fisikal. Untuk apa itu semua?

Seperti halnya barang, manusia juga diciptakan Allah agar bermanfaat.

Sehingga manusia yang terbaik yaitu yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain.

Apa hubungannya dengan syukur?

Jika seseorang memberi Anda barang yang sangat berharga maka pasti Anda akan berterima kasih kepada sang pemberi.

Kemudian karena demikian senangnya Anda dengan barang tersebut, maka Anda pun menjaganya dengan baik.

Tidak hanya itu Anda pun akan menggunakan barang tersebut sesuai dengan harapan si pemberi. Itulah wujud syukur Anda.

Syukur dengan lisan melalui ucapan terima kasih, serta syukur dengan perbuatan melalui penggunaan nikmat sesuai harapan pemberi.

Demikian pula dengan rasa syukur kita kepada Allah.

Syukur dengan lisan melalui ucapan Alhamdulillah “segala puji hanya untuk Allah”.

Lalu dengan perbuatan yaitu menggunakan segala yang telah Allah berikan sesuai dengan harapan Allah. Apa harapan Allah? Yaitu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Nah, dengan bekerja sebenarnya manusia sedang bersyukur, yaitu menggunakan segala nikmat dari Allah untuk hal yang bermanfaat.

Jadi bukan karena bekerja saja manusia jadi bersyukur tapi karena bersyukur manusia jadi bekerja.

Maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya karena itu adalah wujud syukur Anda kepada Allah.

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.” Q.S. Saba’ : 13

 

-Syamril-

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

Kisah Inspiratif : Karung Kehidupan (20/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb 

Seorang Raja memanggil 3 orang menterinya. "Wahai menteriku, saya beri Anda masing-masing satu buah karung. Kuberi engkau waktu 3 hari.  Silakan isi karung ini dengan kurma. 3 hari lagi, menghadaplah kepadaku dan bawa karung yang sudah diisi', ucap Sang Raja." Baik Baginda, kami akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya".

Maka mulailah masing-masing sang menteri mengerjakan tugas dari raja. Menteri A, dengan senang hati mengerjakan tugasnya dan berjanji akan mengisi karungnya dengan kurma terbaik yang ada di negerinya. 

Menteri B, dengan sedikit kesal berucap "ada-ada saja sang raja ini. masak menteri diberi tugas seperti ini. Tak apalah, saya akan isi dengan kurma apa adanya dan dicampur dengan daun serta tangkai kurma. Menteri C, lebih kesal lagi. "Ah, raja tidak mungkin periksa isi karung saya, dia pasti sangat sibuk. Saya isi saja dengan tanah liat. Saya akan tipu sang raja ha ha... "
Sampai akhirnya 3 hari terlewati, dan di waktu yang ditentukan, ketiga menteri pun menghadap. 

"Wahai Sang Raja, inilah persembahan kami, kurma terbaik yang sudah saya isikan di karung saya. Semoga bisa menyenangkan hati baginda",  kata para menteri. Namun apa jawaban Raja. Mohon maaf, saya sangat sibuk, tidak ada waktu untuk memeriksa karung Anda. Tapi, dengarkan keputusan penting saya. Mulai hari ini kalian semua saya pecat. Tidak hanya kupecat, juga saya penjarakan, dan selama di penjara, kurma di karung itulah yang jadi bekal kalian".

Masing-masing menteri pun memberi respon yang berbeda.
Menteri A : Alhamdulillah, saya sudah isi karung saya dengan kurma terbaik.
Menteri B : saya menyesal, mengapa tidak semua saya isi dengan kurma yang baik.
Menteri C : mati saya.... kenapa saya isi tanah liat. saya menipu raja, malah saya yang jadi rugi.

Cerita di atas, ibarat perjalanan hidup kita di dunia ini. Masing-masing kita diberi karung oleh Allah untuk diisi bekal amal shaleh sebagai 'makanan' kita kelak di  akhirat. Dan tiap kita akan 'dipecat' dari hidup ini, dalam arti mati, meninggal dunia. Apapun yang kita isikan di 'karung' kita, sebenarnya bukan untuk keperluan Allah, tapi untuk keperluan kita sendiri. Maka siapa yang mengisi karungnya dengan isi yang terbaik, maka dia sendiri yang akan menikmatinya.
Allah berfirman :

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". Al Mulk : 2

Mati dan hidup adalah ujian. Siapa yang lulus? yang paling baik amalnya.
Bagi kita yang bekerja, apakah jadi guru, pedagang, pemimpin, karyawan dan lain sebagainya mari berbuat yang terbaik. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri.  
Bagi kita yang jadi penuntut ilmu, mari belajar dengan baik. Cari ilmu sebanyak-banyaknya.
Akhirnya bagi kita yang masih hidup, mari isi hidup ini dengan amalan yang terbaik, dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.   

-Syamril-

Penulis buku 50 inspirasi Jalan Kalla, Kerja Ibadsh

 


Salam
Pengurus

Kisah Inspiratif : Jauh - Dekat (19/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb 

Imam Al Ghazali ulama besar yang meninggal pada tahun 1111 Masehi, pada suatu majelisnya bertanya 6 hal dengan pertanyaan sederhana namun mendalam. Apa yang paling jauh? Apa yang paling dekat? Apa yang paling berat? Apa yang paling ringan? Apa yang paling besar? Apa yang paling tajam? 

Kelihatannya pertanyaan ini seperti tebak-tebakan, tapi sebenarnya bukan. 

Pertanyaan pertama, apa yang paling jauh? Tentu bukan tempat, benda langit atau lainnya. Tapi menurut Al Ghazali, yang paling jauh yaitu masa lalu. Kok bisa masa lalu? Ya iyalah. Kan masa lalu, meskipun sedetik yang lalu jika sudah berlalu kita tidak akan pernah bisa menuju ke sana. 

Jika ukuran jauh karena jarak, pasti kita masih bisa menuju ke sana. Masa lalu tidak akan bisa (entah nanti, bisa seperti di Doraemon dengan mesin waktunya). 

Apa pesan yang ingin disampaikan oleh Al Ghazali? Jawabannya adalah waktu. Jangan pernah sia-siakan waktu karena jika sudah berlalu tidak akan pernah bisa diraih lagi. 

Imam Ali r.a pernah berucap “harta yang luput hari ini masih bisa saya raih besok, tapi waktu yang berlalu hari ini takkan bisa diraih lagi sampai kapanpun”. 

Rasulullah juga mengingatkan kita “ ada 2 hal yang sering diabaikan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang”. Apalagi Allah melalui Al Qur’an yang menyeru “Demi waktu. 

Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati dalam kesabaran”. 

Pertanyaan kedua, apa yang paling dekat? Tentu bukan tempat duduk atau urat leher. Kata Al Ghazali yang paling dekat adalah kematian. Kok bisa kematian? Salah satu hal yang misterius dalam kehidupan kita yaitu kematian. 

Tak ada yang tahu kapan ajalnya tiba. Ada yang usianya pendek, banyak juga yang sedang dan panjang. Begitu misteriusnya, tak bisa diukur jaraknya. Dia pasti datang dan tidak ada yang bisa lari darinya. Jadi dia sangat dekat. 

Aji Massaid yang gagah, atletis, senang berolahraga, ternyata kematian juga dekat dengannya sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan “tenang aja, kematian masih jauh dariku, aku kan masih muda sehat dan gagah pula”. Apa nasehat dari pertanyaan kedua ini? 

Mari selalu ingat mati. Semoga dengan mengingat mati kita menjadi semangat menjalani kehidupan. Semangat karena kita yakin dunia ini akan kita tinggalkan. Jika kelak memang kita tinggalkan, kita ingin dikenang sebagai orang yang baik, bukan orang yang buruk. 

Kemudian dengan mengingat mati, kita jadi semakin rindu dan cinta pada Allah. Rindu ingin bertemu dengan Allah dengan mempersembahkan yang terbaik pada-Nya. Wajar saja jika Rasulullah pernah berucap” orang yang paling cerdas yaitu mereka yang ingat mati”.

Cerdas dalam bersikap, berpikir dan berbuat karena semua diperhitungkan jangka panjang dunia dan akhirat. 

Sehingga menjadi manusia yang berhati-hati jika berjalan di daerah yang terjal dan curam penuh godaan maksiat. 

Tetapi semangat bergerak cepat saat di jalan tol kebaikan memberi manfaat sebanyak-banyaknya agar dapat menjadi manusia terbaik. 

-Syamril-

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

Kisah Inspiratif : Jagalah Amanah (18/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb 

Biasanya di awal tahun banyak ‘pejabat’ baru diangkat. Banyak karyawan baru yang mendapatkan promosi ke posisi yang lebih tinggi. Sebelumnya staff menjadi supervisor atau section head. Sebelumnya section head, sekarang diangkat menjadi manager. 

Promosi ke posisi yang lebih tinggi artinya mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah yang lebih besar. Artinya terbuka kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Namun di balik amanah, jangan lupa ada pertanggungjawaban. 

Imam Al Ghazali sekitar 1000 tahun yang lalu pernah bertanya kepada muridnya “apa yang paling berat?”. Ternyata yang paling berat bukan benda yang berat jenisnya besar seperti besi, baja dan sebagainya atau ukurannya besar seperti bumi, matahari dan lainnya. 

Tetapi kata Al Ghazali yang paling berat adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Hanya manusia saja yang diberi amanah dan harus dipertanggungjawabkan. Binatang dan tumbuhan tidak. 

Apakah amanah itu? Secara bahasa, amanah dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadi‘ah). Amanah adalah lawan dari khianat. Amanah terjadi di atas ketaatan, ibadah, al-wadi’ah (titipan), dan ats-tsiqah (kepercayaan). 

Orang yang diberi titipan dan mampu menyampaikan titipan tersebut kepada yang berhak disebut orang yang amanah. 
Dalam Al Qur’an Surat An-Nisa 58 : 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan Amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “

Dari ayat tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip dalam suatu organisasi dan kepemimpinan adalah Amanah dan Adil. 

Rasulullah SAW dalam haditsnya telah memperingatkan akan kekacauan suatu negeri yang digambarkan dengan kiamat apabila negeri tsb dipimpin oleh orang yang tidak amanah.

 “Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah kiamat, lalu sahabat bertanya bagaimanakah amanah yang disia-siakan itu? Lalu Rasulullah SAW menjawab, apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya...” 

Makna sederhana lain dari amanah yaitu jabatan. Kebanyakan manusia sangat senang dengan amanah dalam bentuk jabatan dan posisi sehingga mengadakan syukuran karena mendapatkannya. Saat naik pangkat dan jabatan orang mengucap “Alhamdulillah” karena senang. 

Jarang manusia yang mendapat amanah jadi takut, sedih, menangis dan mengucap “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un” seperti yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz saat diangkat menjadi khalifah. Padahal jabatan sebagai amanah jika diselewengkan berarti mengkhianatinya akan menjadi jalan ke neraka. 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Q.S. Al Anfaal : 27)

Menjadi orang yang amanah dengan mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya memang sangat berat. Wajar saja salah satu golongan yang sangat diistimewakan di hari akhir yaitu pemimpin yang amanah. 

 “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ….. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, (Q.S. Al Mu’minuun : 1,8).

Langkah sederhana agar dapat menjadi orang yang amanah yaitu jangan lupa diri. Harus selalu sadar semuanya sementara, titipan, bukan milik kita sehingga kelak harus dikembalikan kepada yang punya dan dipertanggungjawabkan. 

Bayangkan dari sekarang saat hari pertanggungjawaban tiba. Mampukah, luluskah dan dapatkah kita mempertanggungjawabkan semua amanah yang Allah berikan kepada kita? Semoga dengan demikian kita menjadi manusia yang berhati-hati dalam berucap, bersikap dan bertindak. 

Selanjutnya, pahami batas-batas dari amanah tersebut. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Jika tidak boleh, batas itu jangan dilanggar. Kenapa orang melanggar batas? Biasanya karena orang lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal semua ada batas waktunya. Semua kelak ada balasannya.

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An Naazi’at : 37-41) 

Semoga Allah memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita agar dapat menjadi orang yang amanah meniru salah satu sifat utama Rasulullah sehingga beliau digelari Al Amin, orang yang dapat dipercaya. 

 

-Syamril

Direktur Sekolah Islam Athirah 


Salam
Pengurus

Kisah Inspiratif : Ihsan kriteria kerja Ibadah (17/10/2018)

Assalamu Alaikum  Wr. Wb

Apa criteria aktivitas kerja kita bernilai ibadah? Rasulullah dalam sebuah hadist tentang ibadah menjelaskan tentang konsep ihsan yaitu :

“engkau beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika kamu tak bisa melihatnya maka yakinlah sungguh Dia melihatmu”

Bayangkan Anda dipanggil oleh pimpinan Anda kemudian diminta mengerjakan sesuatu di depan dia. Artinya saat bekerja Anda melihat pimpinan Anda menyaksikan cara Anda bekerja. Kira-kira bagaimana Anda mengerjakan pekerjaan Anda? Apakah serius, sungguh-sungguh atau main-main? 

Tentu saja tidak akan berani bermain-main. Tentu kita akan berusaha bekerja sebaik mungkin dengan kualitas semaksimal mungkin. Masalahnya, belum tentu dalam sehari kita dipanggil atasan dan diminta mengerjakan sesuatu di depan dia. 

Mungkin 95% pekerjaan kita lakukan tanpa ada atasan melihat langsung cara kita bekerja. Sehingga terkadang kita bekerja kurang serius, asal-asalan dan hasilnya lebih lambat dan kurang baik, bukan lebih cepat dan lebih baik. 

Saat kerja ibadah menjadi amalan maka yang menjadi atasan kita adalah Allah. Kita yakin bahwa Allah itu ada dan tidak hanya ada tapi juga Maha Melihat, menyaksikan segala perbuatan kita. Ada perbedaan dampak antara sekadar hanya yakin ada dan yakin ada dan melihat. 

Contohnya, apakah semua orang yang berkendaraan yakin polisi itu ada? Tentu yakin. Tapi mengapa masih sering terjadi pelanggaran aturan lalu lintas? Karena kita hanya yakin polisi itu ada tapi tidak yakin kalau dia melihat kita.

 Coba kalau Anda melihat ada polisi di jalan raya, apakah Anda berani melanggar peraturan lalu lintas? Tentu saja tidak berani karena polisi dapat melihat dan menangkap kita. 

Jika kerja ibadah menjadi amalan, bukankah Allah ada di mana-mana? Maha melihat di manapun kita berada? Tidak ada tempat yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Sehingga meskipun atasan tidak melihat saat bekerja tapi Allah yang Melihat. 

Maka tentu kita akan bekerja sebaik mungkin sebagaimana jika kita bekerja disaksikan oleh atasan kita. Tentu kita tidak akan berani melakukan kecurangan, manipulasi atau korupsi karena Allah sedang menyaksikan kita bekerja. 

Kita akan bekerja dengan penuh tanggung jawab, amanah, jujur dan berusaha istiqamah yang semua berlandaskan jiwa tauhid dan ikhlas. Dalam Al Qur’an surat At Taubah : 105 Allah berfirman : 

“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".

Dampaknya adalah pekerjaan kita efektif dan efisien. Efektif karena sesuai dengan standar atau bahkan melebihi standar  kualitas yang ditetapkan.  Efisien karena kita menggunakan sumber daya secara tepat guna, jauh dari pemborosan, mubazir baik dana maupun waktu. Apalagi jika kita merenungkan ayat ini : 

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Q.S. Al Isra’ : 27)

-Syamril,CHCSOD-

Penulis buku "50 Inspirasi Jalan Kalla, Kerja Ibadah"


Salam
Pengurus

Kisah Inspiratif, Hiduplah dengan Indah (16/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb


Dalam menjalani kehidupan terkadang kita menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Bisa berupa musibah, kesulitan, tantangan dan sebagainya baik di tempat kerja, lingkungan pergaulan atau keluarga.

Bisa jadi masalahnya berupa hal kecil dan sepele sampai hal yang sangat berat yang rasanya tidak mungkin kita mampu menanggungnya. Bagaimana agar semuanya terasa baik-baik saja? Jawabannya sederhana :
JALANILAH HIDUP DENGAN INDAH

Fakta itu netral, yang berwarna adalah persepsi manusia. Kejadian yang sama bisa dipersepsi berbeda, bisa positif atau negative. Ungkapan berikut dari Muhammad Agung Wibowo bisa menjadi renungan :

Hari ini aku bisa menggerutu karena kondisi kesehatanku
Atau aku bisa merasa senang bahwa aku masih hidup
Hari ini aku bisa mengeluh karena harus masuk kerja
Atau bisa bergembira karena memiliki sesuatu untuk dikerjakan

Terkadang manusia merasa berat menghadapi masalah atau kurang pandai bersyukur atas karunia karena persepsinya yang bermasalah. Perhatikan ungkapan berikut :

Saat kita dalam keadaan susah
Kita merasa yang tersusah di dunia
Namun saat mendapat kesenangan
Kita masih saja ingin seperti orang lain
   
Itulah manusia. Terkadang kurang pandai bersyukur dan kurang bisa bersabar. Padahal :

Sesusah apapun kita, pasti ada yang jauh lebih susah
Namun hati-hati, sekaya apapun kita, pasti masih merasa belum puas

Bagaimana agar menjadi pandai bersabar dan bersyukur?
Rasakanlah cukup apa yang ada
Daripada apa yang tiada
Dan tetaplah meraih apa yang dicita
Sambil bersyukur atas apa yang ada

Demikian pula saat manusia berdo’a kepada Allah. Antara apa yang diinginkan terkadang tidak sesuai dengan yang didapatkan. Namun sebenarnya itulah cara Allah menjawab do’a hamba-Nya. Manusia saja yang belum paham.

Saya memohon diberi Kekuatan...
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuat saya Kuat.
Saya memohon agar menjadi Bijaksana...
Dan ALLAH memberi saya Masalah untuk diselesaikan.

Saya memohon Kekayaan...
Dan ALLAH memberi saya Bakat,Waktu, Kesehatan dan Peluang .
Saya memohon Keberanian…..
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Saya memohon Rasa Cinta...
Dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu.
Saya memohon Kelebihan...
Dan ALLAH memberi saya jalan utk menemukannya.

“Saya tidak menerima apapun yang saya minta..
.......Akan tetapi saya menerima semua yang saya butuhkan "

HIDUPLAH DENGAN PENUH KESABARAN DAN KEBERANIAN, HADAPI SEMUA HAMBATAN DAN TUNJUKKAN BAHWA KAU MAMPU MENGATASINYA.

“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah : 216)

“ Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”  (Alam Nasyrah : 5-6)

 

Syamril,CHCSOD-

Penulis buku 50 Inspirasi Jalan Kalla, Kerja Ibadah


Salam
Pengurus

Cerita Tentang Uang (12/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb,

Kisah Inspirasi, 12-10-2018


Ambillah uang seratus, seribu, sepuluh ribu dan seratus ribu. Perhatikan angkanya. Jangan lihat bahannya. Apa yang Anda lihat perbedaan angkanya? Ternyata bedanya pada jumlah angka nol-nya. Lalu apa yang sama dari angkanya? Ternyata semua punya angka 1 di depan angka nol.  

Bayangkan, apa yang terjadi jika ketiga uang itu angka satunya dihapus atau tidak ada. Berapakah nilainya? Ternyata jika tidak ada angka satu di depannya, semua uang itu nilainya nol. Jadi yang membuat uang itu bernilai  adalah adanya angka 1 di depan angka nol.

Kemudian yang membuat nilainya berbeda  karena jumlah angka nolnya yang berbeda. Semakin banyak angka nolnya semakin besar nilainya.

Apa hikmah dari cerita di atas? Amalan manusia ibarat mengumpulkan angka nol. Jika dia beramal banyak maka angka nolnya juga banyak. Demikian pula jika amalnya sedikit, maka angka nolnya juga sedikit. Angka 1 di depan angka nol itu adalah niat yang ikhlas untuk ibadah kepada Allah.

Sehingga amal itu belum ada nilainya di sisi Allah jika belum ada niat ikhlas di dalamnya. Meskipun amalnya banyak tapi bukan karena Allah maka nilainya nol. Demikian pula meskipun amalnya sedikit tapi ikhlas karena  Allah maka nilainya lebih tinggi dibandingkan yang tidak ikhlas.

Jadi nilai amal ditentukan oleh keikhlasan. Lebih mulia di sisi Allah orang yang beramal sedikit tapi ikhlas dibandingkan beramal banyak tapi tidak ikhlas. Tentu lebih mulia lagi kalau amalannya banyak dan juga ikhlas. Allah berfirman :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah : 5)

Dikisahkan dalam sebuah hadist, ada mujahid, ulama dan dermawan. Saat di depan pengadilan Allah sang mujahid mengatakan dirinya berhak masuk surga karena telah berjuang membela agama Allah saat hidup di dunia sampai meninggal dalam peperangan. Namun Allah tahu apa yang ada dalam hatinya.

Ternyata dia berperang bukan karena Allah tapi karena ingin disebut orang yang berani dan diberi gelar pahlawan.

Itu semua sudah diperolehnya di dunia, dan di akhirat dia tidak dapat apa-apa lagi.

Akhirnya dia pun diputuskan masuk neraka, karena beramal bukan karena Allah.  
Kemudian orang kedua sang ulama pun maju.

Dia mengatakan dirinya ulama yang banyak memberi nasehat kepada manusia sehingga menjadi sadar, beriman dan bertakwa kepada Allah.

Tulisannya pun banyak yang diterbitkan dalam bentuk buku dan menyebar ke seluruh penjuru negeri.   

Dia pun merasa berhak masuk surga dengan segala amalannya tersebut. Namun Allah Maha Tahu apa yang menjadi tujuan dia sebenarnya. Sungguh dia menuntut ilmu karena ingin disebut ulama’, mendapatkan kehormatan di sisi manusia.

Dan itu semua sudah diraihnya saat hidup di dunia sehingga di akhirat dia tidak mendapatkan lagi balasan amalannya.  Akhirnya dia pun juga diputuskan masuk neraka karena beramal bukan karena Allah.  

Terakhir majulah sang dermawan, orang kaya yang selama hidupnya banyak membantu kaum fakir miskin dan juga membangun fasilitas umum bagi kepentingan masyarakat. Mendirikan sekolah, masjid,  mengelola panti asuhan,  dan sebagainya.  

Dia pun merasa berhak masuk surga dengan segala amalannya tersebut. Namun Allah Maha Tahu apa yang menjadi tujuan dia sebenarnya.

Sungguh tujuan dia menginfakkan hartanya agar disebut dermawan. Itu semua sudah diraihnya saat hidup di dunia sehingga di akhirat dia tidak mendapatkan lagi balasan amalannya.  

Akhirnya dia pun juga diputuskan masuk neraka karena beramal bukan karena Allah.  

Orang yang beramal bukan karena Allah tapi karena ego atau hawa nafsunya berarti telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Allah berfirman :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (al Jaatsiyah : 23)   

Sungguh kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan orang-orang kafir yang memang tidak mengakui Allah sebagai tuhannya. Orang-orang kafir tentu saja beramal bukan karena Allah. Al Qur’an menggambarkannya :

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.

Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (An Nuur : 39)

Demikian pentingnya ikhlas dalam beramal sehingga menjadi kunci amalan kita diterima oleh Allah. Mumpung masih di dunia, belum di depan pengadilan Allah maka segeralah kembali meluruskan niat bahwa segala aktivitas dan amalan yang dilakukan diniatkan untuk meraih ridha Allah.

Jika selama ini telah melenceng, mari segera bertobat. Allah berfirman :

Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (Q.S. An Nisa : 146)

Mari maknai kembali kalimat tauhid “laa ilaha illallah” yang artinya “tiada ilah selain Allah”.  Ilah yang sering diterjemahkan ‘tuhan’ kita maknai segala sesuatu yang mendominasi hidup kita dan kita rela didominasi olehnya.

Jika yang mendominasi hidup seseorang adalah harta, tahta dan hawa nafsunya maka yang menjadi tuhannya adalah harta, tahta dan hawa nafsunya.

Jika Allah yang jadi ilah kita berarti Allah yang menjadi tujuan hidup kita dan kita persembahkan segala amalan kita untuk Allah semata.

Ini sejalan dengan tujuan penciptaan kita yang dijelaskan Allah dalam Al Qur’an :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adzariyat : 56)

Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Q.S. Al An’am : 162)

 
Syamril,

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

BERSYUKUR VS BAHAGIA (08/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Kisah Inspirasi

Mana yang Anda Pilih? “karena bahagia manusia jadi bersyukur” atau “karena bersyukur manusia jadi bahagia”? Biasanya orang akan memilih “ karena bersyukur manusia jadi bahagia”.

Meskipun dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi adalah “karena bahagia manusia jadi bersyukur” .
Apa perbedaannya?  Ini logika sebab akibat. Karena “sebab” jadi “akibat”. Jika yang pertama “karena bahagia manusia jadi bersyukur”  itu namanya “SYUKURAN”.

Orang baru bersyukur jika dia merasa bahagia disebabkan adanya nikmat yang luar biasa seperti mendapatkan bonus, kenaikan gaji, pangkat, dan sebagainya yang membuatnya merasa bahagia.  

Apa yang dilakukan? Mengundang teman-teman, keluarga dan sebagainya berbagi kebahagiaan dengan mengadakan SYUKURAN.
Pertanyaannya dalam setahun berapa kali Anda “SYUKURAN”, ternyata tidak banyak. Tiga kali itu sudah luar biasa. Artinya bersyukur dengan symbol syukuran sangat  sangat  jarang.

“Karena bersyukur manusia jadi bahagia” itu namanya “SYUKUR BETULAN”.

Maksudnya, bahagia menjadi akibat karena manusia pandai bersyukur dengan nikmat sekecil apapun yang diraihnya dari Allah SWT.

Saat bangun pagi didapatkannya dirinya masih hidup dan bernafas, maka dia pun bersyukur karena Allah masih memberi kehidupan. Bangun dari tidur bisa berjalan, dia pun bersyukur masih diberi Allah kesehatan. Lalu dilangkahkan kaki ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk shalat subuh maka diapun bersyukur masih diberi Allah keimanan.

Kemudian berangkat ke tempat kerja dia pun bersyukur karena masih ada pekerjaan. Dan seterusnya, jika dihitung dalam satu hari manusia dapat bersyukur ribuan bahkan jutaan kali. Ternyata nikmat dari Allah begitu besar, tak terhingga jumlahnya. Dan dengan itu dia pun merasa bahagia.

Maka wajar jika Allah menyatakan dalam Al Qur’an “Jika engkau menghitung nikmatnya, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya” . Jadi tak perlu menunggu “syukuran” untuk merasa “bahagia”.

Bersyukurlah setiap saat maka Insya Allah engkau akan meraih bahagia.
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan.

Jika kau miliki semuanya, apalagi yang hendak dicari ?
Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu.

Karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi.

Karena di sana ada kesempatan mengembangkan diri
Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki.

Karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru.

Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah atas kesalahan yang kini kau sadari telah terbuat.

Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif.
Berusahalah mensyukuri kesulitan yang engkau hadapi
Sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu

 

-Syamril, Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

Beda Sedikit Saja (06/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr.  Wb

Allah menganugerahkan kepada kita manusia mulia yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Kemuliaan beliau Allah akui dalam Al Qur’an bukan karena keturunan dan hartanya, tapi karena akhlaknya sebagaimana ayat Al Qur’an berikut : 
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (Q.S. Al Qolam : 4)

Budi pekerti atau karakter dibentuk oleh keyakinan, pengetahuan dan keterampilan. Semuanya tergambar pada perilaku. Apa beda perilaku Rasulullah dengan kita ummatnya. Ternyata bedanya cuma sedikit. Kalau Rasulullah tidurnya sedikit, kita umatnya sedikit-sedikit tidur. Rasulullah makannya sedikit, kita sedikit-sedikit makan. Rasulullah sedikit marahnya, kita sedikit-sedikit marah. Rasulullah sedikit-sedikit baca al Qur’an, kita baca al Qur’annya sedikit. Kita sedikit-sedikit ngegosip, Rasulullah tidak pernah. Kita sedikit-sedikit nonton, Rasulullah tidak pernah. Kita sedikit-sedikit buka hand phone, rasulullah tidak pernah (ya iyalah, zaman dulu belum ada HP dan TV).
 
Sebenarnya hal pertama yang perlu kita renungi adalah efektivitas kehidupan kita. Ada dua nikmat yang sering disia-siakan yaitu kesehatan dan waktu luang.  Apa maksudnya? Jika dalam kondisi normal kita merasa kesehatan itu biasa saja. Tapi jika kita dalam keadaan sakit, barulah terasa berharganya nikmat kesehatan. 

Coba bayangkan Anda tidak bisa bernafas dengan baik sehingga harus menggunakan alat bantu nafas berupa tabung oksigen. Berapa biaya yang harus Anda keluarkan dalam sebulan atau setahun? Ternyata biaya paling murah yaitu seribu rupiah per menit. Berarti sejam enam puluh ribu. Sepuluh jam enam ratus ribu. Sehari Rp. 1.440.000. Jika sebulan tiga puluh hari maka biayanya 43,2 juta rupiah. Jika setahun 365 hari maka biayanya 525,6 juta. Belum termasuk biaya kamar rumah sakit dan perawatan dokter dan lainnya. 

Sehari-hari Allah memberikan oksigen yang berlimpah dan tak perlu dibeli. Alangkah Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? 

Demikian pula dengan waktu luang. Biasanya tanpa sadar sering disia-siakan. Baru terasa sangat berharga jika ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan waktu yang ada sangat terbatas. Kita pun berharap agar sehari itu bukan 24 jam tapi 30 jam. Padahal waktu itu nikmat yang selalu bergerak maju dan tidak akan bisa dikembalikan. Jika sudah pergi maka hilanglah ia. 

Kalau uang hilang kita masih bisa mencarinya. Tapi waktu yang sudah berlalu tidak bisa kembali lagi. Padahal saat waktu telah berlalu maka usia kita hidup di dunia semakin singkat. Sebentar lagi waktu terhenti. Ibarat pulsa yang tak bisa diisi ulang, jika sudah dipakai maka yang tersisa tinggal sedikit sampai akhirnya habis.  

Allah memberikan nikmat kesehatan dan waktu luang kepada kita agar manusia mensyukurinya. Caranya yaitu memanfaatkan nikmat tersebut sebaik-baiknya untuk kebaikan yang berdampak pada diri sendiri dan orang lain. Bukan digunakan untuk hal-hal yang tak berguna dan sia-sia.

 Allah mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa salah satu ciri orang beriman yang meraih kemenangan yaitu : “dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”, (Q.S. Al Mukminuun : 3)

-Syamril

Direktur Sekolah Islam Athirah 


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Sembilan : Kearifan Menyelesaikan Masalah (01/10/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Semua manusia pasti mempunyai permasalahan dalam hidup, tetapi Allah juga selalu menyediakan jalan keluar bagi setiap masalah. Jangan pernah merasa takut dengan masalah, selesaikanlah dengan penuh kearifan.

 

 

Adakah di antara pembaca sekalian yang tidak mempunyai masalah dalam hidup?

 

Kalau ada yang menjawab iya, maka hati-hatilah karena itu artinya anda tidak menyadari masalah tersebut.

 

Ketika masalah dipahami sebagai ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, maka itu artinya semua manusia pasti mempunyai masalah dalam hidup. Permasalahan dalam hidup sangatlah kompleks dan beragam. Ada yang mengalami masalah pribadi berkaitan dengan kesehatan fisik maupun mental, masalah keuangan dan keterbatasan lainnya. Ada pula yang mengalami masalah yang berkaitan dengan interaksinya dengan orang lain, baik interaksi di rumah dengan orang tua, anak, pasangan hidup ataupun interaksi di tempat kerja dengan atasan, bawahan, rekan kerja dan juga interaksi dengan masyarakat yang lebih luas.

Adanya masalah merupakan satu keniscayaan yang akan selalu menyertai kehidupan, namun Allah swt. juga selalu menyediakan jalan keluar bagi setiap masalah. Oleh karena itu, selesaikanlah setiap masalah dengan penuh kearifan.

Inti dari penyelesaian tehadap semua masalah adalah dengan mengembalikan permasalahan tersebut kepada Allah swt.

Allah swt. berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِب

Terjemah:

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.

(QS AT Thalaq ayat 2-3).

 

            Subhanallah! Begitu pasti janji-Nya dalam ayat di atas. Bagi orang yang bertakwa kepada Allah swt., maka Allah swt. akan menjadikan untuknya jalan keluar bagi semua masalah dan secara khusus, Allah swt. akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

            Ketakwaan adalah solusi mutlak bagi semua permasalahan hidup. Ketakwaan akan mendorong manusia untuk selalu menyesuaikan seluruh aktifitas hidupnya dengan tuntunan Allah swt., dengan cara melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

            Jika anda mempunyai masalah dalam hidup, mengadulah terlebih dahulu kepada Allah swt. sebelum meminta bantuan kepada makhluk. Ketika anda sakit, mengadulah terlebih dahulu kepada Allah swt., mohonlah kesembuhan hanya kepada-Nya, setelah itu berobatlah sebagai bagian dari sunnatullah untuk kesembuhan.

            Ketika anda menghadapi masalah keuangan, mengadulah terlebih dahulu kepada Allah swt, mohonlah kepada-Nya agar diberikan kecukupan rezeki., setelah itu bekerjalah sebagai bagian dari sunnatullah untuk mendapatkan rezeki.

            Ketika anda berselisih dengan orang lain, mengadulah terlebih dahulu kepada Allah swt., mohonlah kepada-Nya agar hati-hati kalian dilembutkan dan penyebab perselihan itu diangkat olehnya, setelah itu bicarakan persoalan tersebut dengan baik dengan kepala dingin sebagai bagian dari ikhtiar manusia.

            Bukan hanya masalah pribadi, permasalahan masyarakat dan bangsa pun, solusinya adalah ketakwaan. Allah swt. menjanjikan dalam al-Qur’an:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ [وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Tejemah:

Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan, maka Kami timpakan siksa kepada mereka disebabkan apa yang mereka lakukan

(QS al-A’raf: 96)

 

            Di dalam ayat di atas, Allah swt. menjanjikan bahwa keimanan dan ketakwaan dari penduduk suatu negeri adalah jaminan turunnya keberkahan kepada negeri tersebut.

            Keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan hukum-hukum Allah swt. di tengah-tengah masyarakat. Pengabaian terhadap hukum-hukum Allah swt. akan membuat negeri tersebut tidak akan bisa keluar dari permasalahan, justru sebaliknya akan semakin terpuruk dalam permasalahan.

            Semoga permasalahan bangsa, bisa diselesaikan dengan sungguh-sungguh bertakwa kepada-Nya dan menjadikan hukum Allah swt sebagai panduan dalam kehidupan berbangsa.

 

 

Oleh :  Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Delapan : Bijak dalam Memutuskan (26/09/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb

Pertimbangkanlah segala sesuatunya dengan matang, lalu putuskanlah dengan hati yang tenang dan kepala dingin. Keputusan yang diambil dalam keadaan emosi, terlalu sedih atau terlalu bahagia seringkali tidak bijaksana. Kalaupun terlanjur memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana, jangan pernah merasa malu untuk mempertimbangkan kembali dan membuat keputusan yang lain. Menyesal karena mengambil keputusan yang salah seharusnya diikuti dengan perbaikan. Kalau tidak, maka penyesalan pertama akan diikuti dengan penyesalan yang berikutnya.

 

Salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh ibu-ibu pengajian berkaitan dengan urusan keluarga adalah tentang sikap suami yang karena emosi dan kemarahan cenderung mudah mengambil keputusan dan dengan gampangnya mengucapkan kata-kata cerai.

 

Kondisi hati seseorang akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil. Perasaan marah menyebabkan daya nalar seseorang berubah sehingga tidak dapat menempatkan persoalan secara proporsional dan akhirnya mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.

Maka sebelum mengambil keputusan, hendaklah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang, lalu memutuskan dengan hati yang tenang dan kepala dingin.

Keputusan yang diambil dalam keadaan emosi seringkali tidak bijaksana. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan agar tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ.قَالَ كَتَبَ أَبِى - وَكَتَبْتُ لَهُ - إِلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ وَهُوَ قَاضٍ بِسِجِسْتَانَ أَنْ لاَ تَحْكُمَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ يَحْكُمْ أَحَدٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ ».

 

Artinya:

Dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah ia berkata, bapakku menulis surat kepadaku-dan saya menulis untuknya- kepada ‘Ubaidillah bin Abi Bakrah ketika menjadi hakim di Sijistan agar tidak memutus perkara di antara dua orang dalam keadaan marah karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seseorang di antara kalian memutus perkara di antara dua orang dalam keadaan marah.”

(HR Muslim)

           

Hadis di atas secara tegas menunjukkan larangan bagi seorang hakim untuk memutuskan perkara dalam keadaan marah karena keputusan yang diambil dalam keadaan seperti itu berpotensi menyimpang dari kebenaran atau menjadikan seorang hakim tidak mengetahui kebenaran sehingga memberikan keputusan yang salah.

Meskipun hadis di atas berkaitan dengan hakim ketika hendak mengambil keputusan, tetapi ia bisa berlaku umum bagi siapa saja ketika hendak mengambil keputusan.

Sebagaimana pula, meskipun di dalam hadis hanya menyebutkan larangan memutuskan perkara dalam keadaan marah, tetapi sesungguhnya larangan ini mencakup semua hal yang dapat mengubah cara berpikir atau dapat mengganggu konsentrasi jiwa sehingga menyebabkan keputusan yang diambil menjadi tidak bijaksana, misalnya terlalu sedih, terlalu bahagia, sangat lapar dan haus atau sangat mengantuk.

            Kondisi seperti ini juga berpotensi untuk mengganggu daya nalar sehingga memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana.

Lalu bagaimana jika seseorang terlanjur memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana dalam kehidupan ini?

Kalaupun terlanjur memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana, jangan pernah merasa malu untuk mempertimbangkan kembali dan mengubahnya serta mengambil keputusan yang lain. Menyesal karena mengambil keputusan yang salah seharusnya diikuti dengan perbaikan. Kalau tidak, maka penyesalan pertama akan diikuti dengan penyesalan yang berikutnya.

Seringkali ada orang yang tidak mau mengubah keputusan yang sudah diambil meskipun ia sadar bahwa keputusan itu salah karena rasa malu atau gengsi.

Mengubah keputusan yang salah adalah sikap yang bijaksana dan jauh lebih baik daripada membiarkan diri dalam keputusan yang salah. 

 

Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc.,THi

 


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Tujuh : Proporsional dalam Menilai (17/09/2018)

Assalamu Alaikum Wr.WB

 

Apabila engkau hanya mengingat keburukan seseorang, lalu menyebarkannya kepada orang banyak, sementara engkau melupakan kebaikannya, berarti engkau telah menganiayanya. Sebanyak apapun keburukan seseorang, pasti ada kebaikannya sesedikit apapun. Sebaliknya sebanyak apapun kebaikanmu, pasti ada keburukanmu sesedikit apapun. Tetap ingat kebaikan orang lain dan senantiasalah mengingat keburukanmu.

  

Sifat apakah yang paling mudah anda ingat dari orang lain?

Sifat baik atau Sifat buruknya?

Perbuatan apakah yang paling sering anda ceritakan tentang orang lain?

Perbuatan baik atau perbuatan buruknya?

 

Kalau anda menjawab bahwa sifat buruk orang lain yang paling mudah anda ingat dan perbuatan buruk orang lain yang paling sering anda ceritakan, maka berhati-hatilah Itu artinya anda sudah melakukan kesewenang-wenangan.

Ketika seseorang hanya mengingat keburukan orang lain, lalu menyebarkannya kepada orang banyak, sementara kebaikannya dilupakan atau disembunyikan, berarti ia telah menganiayanya.

Ibnu Sirin pernah berkata:

 

عَنِ ابْنِ سِيْريْنَ قَالَ ظَلَمْتَ أَخَاكَ إِذَا ذَكَرْتَ مَسَاوِئَه وَلَمْ تَذْكُرْ مَحَاسِنَه

Artinya:

Dari Ibn Sirin ia berkata: “Engkau telah menganiaya saudaramu apabila engkau menyebut keburukannya dan tidak menyebut kebaikannya.

(al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi)

           

Ungkapan di atas sangat populer di kalangan ulama hadis, terutama di kalangan ulama al-Jarh wat Ta’dil. Salah satu cabang ilmu di antara sekian banyak cabang dalam disiplin ilmu hadis, yaitu ilmu al-Jarh wat Ta’dil. Ilmu al-Jarh wat Ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah dalam memberikan penilaian terpuji kepada seorang periwayat hadis dan memberikan penilaian tercela.

            Meskipun dalam ilmu tersebut, para ulama hadis memberikan penilaian tercela selain tentu saja penilaian terpuji terhadap seorang periwayat hadis, tetapi tetap saja adab dan etika dijunjung tinggi. Di antara adab dalam melakukan penilaian terhadap seorang periwayat hadis yaitu proporsional dalam memberikan penilaian, teliti dalam melakukan pembahasan dan penilaian serta selalu menjaga etika kesopanan.

Proporsional yang dimaksud, yaitu tetap menyebutkan pujian terhadap periwayat selain penilaian yang tercela. Sikap semacam ini seyogyanya juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang lain. Begitu banyak orang yang hanya bisa mengingat keburukan-keburukan orang lain, tetapi dengan mudahnya melupakan kebaikannya.

Sebanyak apapun keburukan seseorang, pasti ada kebaikannya sesedikit apapun. Sebaliknya sebanyak apapun kebaikan diri sendiri, pasti ada keburukan sesedikit apapun. Begitulah keadaan setiap manusia. Oleh karena itu, berusahalah untuk tetap mengingat kebaikan orang lain dan senantiasalah mengingat keburukan diri sendiri.

 

(Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc, M.THi)


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Enam : Bersikap Adil (11/09/2018)

Sebesar apapun kebencianmu terhadap seseorang, Itu bukanlah alasan yang benar untuk bersikap tidak adil terhadapnya. Tetaplah bersikap adil bahkan terhadap orang yang paling engkau benci sekalipun ataupun terhadap orang yang memusuhimu. Jika engkau bersikap tidak adil terhadap seseorang karena kebencianmu, maka sikapmu itu sesungguhnya telah membuatmu layak pula untuk ikut dibenci.

 

Kebencian seringkali mematikan akal sehat dan membutakan mata hati. Ketika kebencian kepada seseorang sudah merasuk ke dalam hati dan memenuhi rongga dada, maka biasanya yang diingat pada orang dibenci hanyalah keburukan-keburukannya, sementara kebaikan-kebaikannya menjadi terlupakan.

Perpisahan di antara suami istri tidak jarang menyisakan dendam yang tidak bisa padam. Dua orang yang tadinya bersahabat dekat bisa menjadi bermusuhan sehingga seakan-akan tidak penah ada persahabatan di antara keduanya. Kompetisi yang keras di antara dua pihak tidak jarang membuat pemenang menjadi tidak adil dan semena-mena terhadap pihak yang kalah. Sebaliknya pihak yang kalah menjadi tidak adil dan senang mencari-cari kesalahan pihak yang menang.

Sebesar apapun kebencian terhadap seseorang, seharusnya tidak dijadikan alasan untuk bersikap tidak adil terhadapnya. Tetaplah bersikap adil terhadap orang yang paling dibenci sekalipun, bahkan terhadap orang yang memusuhi.

Allah swt. memerintahkan kepada orang yang beriman dalam firman-Nya sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون

Terjemah:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) kalian menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah Maha teliti terhadap apa yang kalian kerjakan 

(QS al-Maidah: 8)

 

Dalam ayat di atas, secara tegas Allah swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjadi penegak keadilan dan bersikap adil bahkan terhadap orang yang dibenci sekalipun. Ketika seseorang bersikap tidak adil terhadap orang lain hanya karena kebenciannya, maka sikap itu sesungguhnya telah membuatnya layak untuk mendapatkan kebencian pula.

Keadilan dituntut dalam segala hal Di antaranya seperti yang disebutkan dalam hadis berikut ini:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا »

 

Artinya:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan ar rahman ‘azza wa jalla dan kedua tangannya adalah kanan. (Orang-orang yang adil) yaitu orang-orang yang adil dalam keputusan mereka, keluarga dan orang-orang di bawah kewenangan mereka.

(HR. Muslim)

 

Hadis di atas sekaligus menunjukkan keutamaan orang yang adil di sisi Allah swt. karena mereka akan ditempatkan di atas mimbar yang terbuat dari cahaya di sisi kanan Allah swt. Berlaku adillah karena hanya keadilan dalam bersikaplah yang akan sanggup mengantarkan seseorang kepada ketakwaan.

 

(Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc, M.Thi)

 


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Lima : Memberikan Perhatian yang Sewajarnya (04/09/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

            Masalah sepele seringkali menjadi besar bagi orang-orang yang sepele. Hanya orang-orang yang berjiwa kerdil yang seringkali membesar-besarkan masalah sepele. Sebaliknya orang-orang yang berjiwa besar akan memberikan perhatian besar kepada masalah-masalah besar dan hanya akan memberikan perhatian seperlunya kepada masalah-masalah kecil. Tinggalkanlah apa yang tidak berarti bagimu karena itulah tanda kesempurnaan Islam seseorang.

 

 

Seperti apakah reaksi yang anda tunjukkan ketika menghadapi satu masalah?

Samakah cara anda bereaksi untuk menyelesaikan setiap masalah yang berbeda-beda?

 

Jawaban atas pertanyaan di atas akan menunjukkan tingkat kedewasaan dan kecerdasan anda.

 

Masalah yang dialami dalam kehidupan dari segi kualitasnya sangat beragam. Ada masalah yang sepele, ringan, kecil. Ada masalah yang sedang dan sedehana. Namun ada pula masalah yang berat, besar dan kompleks.

Masalah sepele seringkali menjadi besar bagi orang-orang yang tidak dewasa. Hanya orang-orang yang berjiwa kerdil yang seringkali membesar-besarkan masalah sepele. Sebaliknya orang-orang yang berjiwa besar akan memberikan perhatian besar kepada masalah-masalah besar dan hanya akan memberikan perhatian seperlunya kepada masalah-masalah kecil.

Tinggalkanlah masalah yang tidak begitu penting dan tidak terlalu berarti karena itulah tanda kesempurnaan Islam seseorang.

Rasulullah saw. bersabda:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ ».

 

Artinya:

Dari Abi Hurairah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berkaitan dengannya”.

(HR at-Turmudzi)

           

Dalam hadis di atas Rasulullah saw. mengarahkan umatnya untuk tidak banyak mencampuri permasalahan yang tidak berkaitan dengannya, apalagi jika hal tersebut akan mengalihkannya dari masalah yang lebih penting.

            Masa hidup di dunia terlalu singkat kalau semua masalah ingin diurus. Maka skala prioritas penting untuk disusun. Mulailah dari hal-hal yang penting dan mendesak, kemudian hal-hal yang penting meskipun tidak begitu mendesak, setelah itu hal yang tidak penting namun mendesak. Prioritas terakhir adalah hal yang tidak penting dan tidak mendesak.

            Terlalu banyak mencampuri urusan orang lain, terutama masalah yang tidak bermanfaat baginya adalah salah satu faktor yang sering menimbulkan perpecahan dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Maka tanda muslim yang sejati adalah sikap tidak mencampuri urusan orang lain yang tidak berkaitan dengannya.

 

Oleh :  Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M,THi

 

 

 

 

 


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Empat : Memperlakukan Keluarga dengan Cara yang Terbaik (27/08/2018)

Baik buruknya akhlak seseorang tidak dilihat pada saat ia berada di luar rumah, tetapi dinilai pada saat berada di dalam rumah. Begitu banyak orang yang terlihat lembut di luar rumah, tetapi kasar terhadap terhadap keluarganya sendiri. Tidak sedikit orang yang kelihatan dermawan terhadap orang lain, tetapi kikir terhadap keluarganya sendiri. Perlakukanlah keluargamu dengan cara yang terbaik karena manusia yang terbaik adalah manusia yang paling baik memperlakukan keluarganya.

 

Apakah yang menjadi ukuran baik-buruknya akhlak seseorang?

 

Jawaban atas pertanyaan di atas tentu akan sangat variatif. Salah satu jawabannya dikemukakan oleh Nabi saw. di dalam hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

Artinya:

Dari ‘Aisyah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.

(HR. at-Turmudzi)

Ternyata menurut hadis di atas, baik buruknya akhlak seseorang dinilai dan diukur dari perlakuannya terhadap keluarganya. Akhlak seseorang tidak dilihat pada saat ia berada di luar rumah, tetapi dinilai pada saat berada di dalam rumah.

Ada orang yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam sekedar untuk berkumpul bersama dengan rekan-rekan sekantor, membicarakan hal-hal yang tidak begitu penting, ngobrol sana-sini, tetapi begitu sulit untuk meluangkan waktu berkumpul bersama keluarga. Ada orang yang terlihat lembut di luar rumah, sopan ketika berbicara dengan teman-temannya tetapi kasar terhadap terhadap keluarganya sendiri dan sering membentak mereka. Tidak sedikit orang yang kelihatan dermawan terhadap orang lain, suka mentraktir koleganya, tetapi kikir terhadap keluarganya sendiri dan penuh perhitungan ketika harus mengeluarkan uang.

Keluarga adalah orang-orang terdekat, bersama merekalah kita lebih banyak menghabiskan waktu, dari merekalah kita lebih banyak mendapatkan perhatian dan merasakan kasih sayang.

Maka sudah sepantasnya, seseorang memperlakukan keluarganya dengan cara yang terbaik. Tanamkanlah selalu di dalam hati bahwa manusia yang terbaik adalah manusia yang paling baik memperlakukan keluarganya.

 

Oleh :  Dr. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Tiga : Memuliakan Orang Lain (20/08/2018)

Barang siapa yang suka merendahkan, menghina dan mencemooh orang lain, maka Allah akan menjadikannya sebagai bahan cemoohan di hadapan manusia.

Barang siapa yang tahu menghargai, menghormati dan memuliakan orang lain, maka Allah akan memuliakannya di hadapan manusia.

 

Lemparkanlah sebuah bola ke tembok beberapa kali dan perhatikanlah apa yang terjadi?

Setiap kali anda melempar, setiap kali pula bola itu memantul.

Semakin keras anda melempar, maka akan semakin keras pula pantulannya,

 

Begitulah interaksi dengan orang lain dalam kehidupan ini. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi dengan intensitas kekuatan yang sama dengan arah yang berlawanan.

Setiap kali seseorang menghina orang lain, maka setiap kali pula penghinaan tersebut akan kembali kepada dirinya. Maka semakin sering seseorang menghina orang lain, semakin cepat dan semakin dalam pula ia terjatuh ke dalam jurang kehinaan. Sebaliknya semakin seseorang tahu bagaimana memuliakan orang lain, maka akan semakin tinggi pulalah kemuliaannya.

Terkadang ada orang yang suka menghina dan merendahkan orang lain, karena menyangka dengan cara seperti itu kemuliaannya akan bertambah, padahal barang siapa yang suka merendahkan, menghina dan mencemooh orang lain, maka Allah akan menjadikannya sebagai bahan cemoohan di hadapan manusia. Apalagi jika ia menghina orang dengan cara menuduh dengan tuduhan yang tidak benar atau memfitnah orang lain, maka boleh jadi sebelum mati, ia akan mengalami fitnah sebagaimana yang dituduhkan kepada orang.

Rasulullah saw. telah mengingatkan umatnya akan bahaya melakukan penghinaan kepada orang lain, di antaranya seperti yang terdapat hadis berikut:

 

عَنْ أَبِى جُرَىٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ قُلْتُ اعْهَدْ إِلَىَّ. قَالَ « لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا ». قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ بَعِيرًا وَلاَ شَاةً. قَالَ « وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ »

Artinya

Dari Abi Juraiy Jabir bin Sulaim ia berkata, Saya berkata (kepada Nabi saw): Berilah saya nasehat, Beliau bersabda: “Jangan sekali-kali menghina seseorang”. Ia (Jabir) berkata: sejak saat itu saya tidak pernah menghina siapapun, baik orang merdeka, budak, unta ataupun kambing. Beliau juga bersabda: “Dan janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, bicaralah kepada saudaramu dengan menghadapkan wajahmu kepadanya, sesungguhnya yang demikian itu termasuk kebaikan. Angkatlah sarungmu sampai ke pertengahan betis, maka jika engkau enggan sampai ke mata kaki Jauhilah menjulurkan pakaian karena itu termasuk kesombongan dan sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang memakimu dan menghinamu dengan apa yang ia ketahui pada dirimu, maka janganlah engkau memakinya dengan apa yang engkau ketahui pada dirinya, karena sesungguhnya keburukannya akan kembali kepadanya. 

(HR. Abu Dawud)

 

Di dalam hadis di atas, secara tegas Nabi saw. melarang menghina orang lain, bahkan makhluk lain. Selain itu, Nabi saw. juga melarang untuk membalas penghinaan. Hanya orang yang hina sajalah yang suka menghina orang lain dan membalas penghinaan dengan penghinaan juga.

Perhatikanlah orang-orang yang ada di sekitarmu. Mereka yang suka menghina orang lain pasti akan dijauhi, karena tidak ada seorang manusia pun yang ingin dihinakan. Sebaliknya orang yang tahu menghormati dan memuliakan orang lain akan disukai dan didekati karena semua manusia secara naluriah ingin dihargai.

Tentu saja penghormatan dan penghargaan yang dimaksud adalah penghormatan yang sewajarnya, bukan yang berlebihan dan melampaui batas. Ketika sudah sangat berlebihan, maka penghormatan pun menjadi seperti penghinaan.

Maka biasakanlah untuk menghargai dan memuliakan orang lain dengan cara yang sewajarnya dan sepantasnya, karena barang siapa yang tahu menghargai, menghormati dan memuliakan orang lain, maka Allah akan memuliakannya di hadapan manusia. Bukankah balasan atas semua kebaikan adalah kebaikan pula?

 

Oleh :  Dr. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua PuluhDua : Mencintai dan Menghormati (13/08/2018)

Mencintai dan Menghormati adalah dua hal yang berbeda. Tidak mungkin anda mencintai seseorang, tanpa menghormatinya. Tapi anda tetap bisa menghormati seseorang, meskipun anda tidak lagi mencintainya.

Ketika anda pernah mencintai seseorang, lalu cinta itu hilang, tetap pertahankan rasa hormatmu. Cinta seringkali merupakan pemberian dari Allah, tetapi penghormatan bagaimanapun juga adalah pilihan.

 

Pernahkah anda mengenal dua orang yang awalnya saling mencintai, saling memuja dan menyanjung. Namun kemudian rasa cinta itu berubah menjadi benci, maka puja puji dan sanjungan berubah menjadi caci maki dan hinaan?

 

Pudarnya rasa cinta, bahkan hilangnya rasa cinta seharusnya tidak lantas juga menghilangkan sikap hormat.Dua orang yang penah saling mencintai, apalagi yang pernah menjadi suami istri misalnya, seharusnya tetap menjaga sikap saling menghormati, karena bagaimanapun juga mereka pernah menjalani hidup bersama, membagi suka dan duka.

Mencintai dan Menghormati adalah dua hal yang berbeda. Tidak mungkin anda mencintai seseorang, tanpa menghormatinya. Tapi anda tetap bisa menghormati seseorang, meskipun anda tidak mencintainya.

Sayangilah sesama, terutama yang lebih muda. Hormatilah sesama, terutama yang lebih tua, karena keduanya termasuk tanda umat Nabi saw. Nabi pernah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا »

Artinya:

Dari “Abdullah bin ‘Amru dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua, maka dia bukan dari golongan kami

(HR. Abi Dawud)

 

Ketika anda pernah mencintai seseorang, lalu cinta itu hilang, tetap pertahankan rasa hormatmu. Cinta seringkali merupakan pemberian dari Allah swt. yang tidak bisa ditolak oleh manusia, tetapi penghormatan terhadap sesama, bagaimanapun juga adalah pilihan

Orang yang terhormat adalah orang yang bisa menghormati orang lain, meskipun ia pernah dikecewakan, dikhianati dan sudah tidak lagi dicintai.

 

Oleh :  Dr. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Puluh Satu : Mencintai dan membenci dengan Cara yang Sewajarnya (06/08/2018)

Cinta dan benci adalah emosi jiwa yang bersifat dinamis, sangat mudah berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain. Oleh karenanya, apabila engkau mengagumi seseorang, janganlah memujinya dengan cara yang berlebihan, karena boleh jadi orang yang paling kamu kagumi saat ini akan berubah menjadi orang yang kamu benci suatu saat kelak. Sebaliknya apabila engkau membenci seseorang, janganlah berlebihan dalam mencercanya. Boleh jadi orang yang paling kamu benci saat ini, akan menjadi orang yang paling kamu kagumi suatu saat kelak.

Cinta dan benci adalah emosi jiwa yang bersifat dinamis, sangat mudah berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain. Oleh karenanya, apabila engkau mengagumi seseorang, janganlah memujinya dengan cara yang berlebihan, karena boleh jadi orang yang paling kamu kagumi saat ini akan berubah menjadi orang yang kamu benci suatu saat kelak. Sebaliknya apabila engkau membenci seseorang, janganlah berlebihan dalam mencercanya. Boleh jadi orang yang paling kamu benci saat ini, akan menjadi orang yang paling kamu kagumi suatu saat kelak.

 

Betapa banyak manusia di dunia ini yang dulunya saling memuji, menyanjung dan mencintai, kemudian berubah menjadi saling menghujat, memaki dan membenci. Demikian pula sebaliknya.

Begitulah hati manusia. Hati yang merupakan wadah cinta dan kebencian, keadaannya digambarkan oleh Nabi saw. lebih cepat mengalami perubahan dibandingkan dengan air yang mendidih.

Cinta dan benci adalah emosi jiwa yang bersifat dinamis, sangat mudah berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain. Oleh karena itu, apabila mengagumi seseorang, jangan memujinya dengan cara yang berlebihan, karena boleh jadi orang yang paling kamu kagumi saat ini akan berubah menjadi orang yang kamu benci suatu saat kelak. Sebaliknya apabila engkau membenci seseorang, janganlah berlebihan dalam mencercanya. Boleh jadi orang yang paling kamu benci saat ini, akan menjadi orang yang kamu kagumi suatu saat kelak

Oleh karena perubahan hati manusia yang begitu cepat tersebut, maka seyogyanya cinta dan benci diekspresikan dengan cara yang wajar, tidak berlebihan.

Rasulullah saw. telah mengingatkan hal tersebut melalui hadis berikut:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أُرَاهُ رَفَعَهُ قَالَ « أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا ».

Artinya:

Dari Abu Hurairah, ia menyandarkannya kepada Rasulullah saw: “Cintailah kekasihmu sekedarnya saja karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang kamu benci sekedarnya saja. Bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja karena boleh jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu hari nanti.

(HR. at-Turmudzi)

 

Memperoleh cinta dari orang lain adalah karunia yang sangat besar. Semakin banyak yang mencintai, semakin banyak karunia yang diperoleh. Maka jangan menyia-nyiakan anugerah cinta dari orang lain. Jaga agar cinta itu awet, terjaga dan terpelihara. Jangan membiarkan cinta itu memudar apalagi berubah menjadi kebencian.

 

Oleh :  Dr. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

HIKMAH KEDUA PULUH : BUKTI KASIH SAYANG (30/07/2018)

Allah hanya akan menyayangi orang yang mampu menyayangi sesamanya dengan cara yang tulus. Kasih sayang yang tulus akan menjadikan seseorang selalu bersedia berada di samping orang yang disayanginya dalam keadaan bagaimanapun, menguatkannya ketika ia lemah, menenangkannya ketika ia gelisah dan menentramkannya ketika ia resah

Selain pengampunan dosa, kasih sayang atau rahmat Allah swt. adalah karunia Allah swt yang boleh jadi paling sering diminta kepada Allah swt. Kedua hal ini, pengampunan dosa dan rahmat, bahkan sering kali digandengkan dalam doa.

Perhatikanlah misalnya doa yang sering dibaca ketika duduk di antara dua sujud;

Tuhanku ampunilah aku dan sayangilah aku…

Perhatikanlah pula doa yang sering dibacakan untuk kedua orang tua;

Tuhanku ampunilah aku, kedua orang tuaku, sayangilah mereka berdua karena mereka berdua telah menyayangiku ketika aku kecil.

Termasuk juga doa yang sering dibacakan untuk orang yang sudah meninggalkan dunia ini:

Ya Allah ampunilah dia dan sayangilah dia …

Begitu pentingnya mendapatkan rahmat atau kasih sayang Allah swt. sehingga seorang muslim ketika saling bertemu dianjurkan untuk mendoakan saudaranya agar mendapatkan keselamatan, kasih sayang dan keberkahan

Banyak hal yang bisa diupayakan untuk mendapatkan kasih sayang Allah swt, namun Allah swt. telah menegaskan melalui Rasul-Nya bahwasanya Allah hanya akan menyayangi orang yang mampu menyayangi sesamanya dengan cara yang tulus.

Rasulullah saw. dalam sebuah hadis memerintahkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ارْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ ، يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya:

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya engkau disayangi oleh yang ada di langit.

(HR al-Hakim)

Kasih sayang yang tulus kepada sesama akan menjadikan seseorang selalu bersedia berada di samping orang yang disayanginya dalam keadaan bagaimanapun, menguatkannya ketika ia lemah, mengingatkannya ketika ia lupa, menenangkannya ketika ia gelisah dan menentramkannya ketika ia resah.

Sebaliknya kasih sayang yang tidak tulus dari seseorang kepada orang lain akan membuat ia mengabaikannya pada saat ia dalam keadaan lemah, meninggalkannya ketika ia butuh, membiarkannya dalam kesalahan dan tidak memperdulikannya ketika ia dalam masalah

Buktikanlah kasih sayangmu kepada sesama dengan selalu hadir bukan hanya pada saat suka, namun terutama dalam keadaan duka.

 

Oleh :  Dr. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kesembilan Belas : Pentingnya Iman dan Kepercayaan dalam Cinta (23/07/2018)

 

Assalamu alaiukum Wr. Wb.

 

            Mengapa ada cinta yang begitu rapuh, mudah goyah dan akhirnya runtuh?

            Mengapa ada kasih sayang yang begitu mudah layu, tidak berkembang lalu akhirnya mati?

           

Itu terjadi karena cinta tidak mempunyai dasar yang kuat dan kasih sayang tidak dirawat dengan pupuk yang benar?

  Lalu apa yang seharusnya mendasari cinta sehingga ia abadi? Dan apa pula yang bisa menumbuhkan kasih sayang?

            Jawabannya adalah IMAN dan KEPERCAYAAN

 Maka tanamkanlah di dalam hati rasa cinta dengan benih iman kepada Allah dan tumbuhkanlah kasih sayang dengan pupuk kepercayaan.

Cinta yang sejati dan kasih sayang yang hakiki hanyalah yang dibangun di atas dasar iman kepada Allah dan kepercayaan terhadap orang yang dicintai. Tanpa iman, maka cinta itu hanyalah cinta buta dan tanpa kepercayaan, maka kasih sayang itu tidak lebih dari kasih sayang semu.

Apabila cinta dibangun di atas fondasi kepentingan dunia, maka ia tidak akan bertahan lama karena dunia sangat cepat mengalami perubahan. Ketika kepentingan dunia berganti dan berubah, maka secepat itu pula cinta akan goyah. Hal ini tentu berbeda dengan cinta yang dibangun di atas dasar iman kepada Allah swt.

Selain iman kepada Allah swt, maka cinta harus dirawat dengan rasa percaya terhadap orang yang dicintai. Kepercayaan itulah yang menjadikan seseorang akan selalu siap untuk berkorban demi orang yang dia cintai.

Dua orang yang saling mencintai karena iman kepada Allah swt akan dikumpulkan bersama di dunia dan disurga kelak. Di dalam hadis disebutkan:

عَنْ صَفْوَان قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَلْمَرْأُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Artinya:

Dari Safwan, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang akan bersama dengan (orang) yang ia cintai.

(HR. at-Tayalishi)

 

Oleh : Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kedelapan Belas : Mencintai Orang yang Mencintai Allah (16/07/2018)

Bagaimanapun besarnya rasa cinta kepada seseorang, hal itu tidak boleh mengalahkan rasa cinta kepada Allah. Bahkan alasan utama untuk mencintai seseorang adalah karena cintamu kepada Allah dan cintanya kepada Allah. Cintailah orang yang mencintai Allah, niscaya engkau akan semakin mencintainya dan Allah pun akan semakin mencintaimu.

 

Kepada siapakah yang tertinggi mestinya ditujukan?

 

Bagi orang yang beriman, pertanyaan di atas tentu tidaklah sulit untuk dijawab. Cinta yang tertinggi selayaknya ditujukan kepada Allah, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Seseorang tidak dilarang untuk mencintai makhluk, karena cinta kepada makhluk merupakan naluri yang ditanamkan oleh Allah swt. di dalam hati manusia. Allah swt. berfirman:

 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ. قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ.

 

Terjemah:

Telah dihiasi pada manusia rasa cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik. Katakanlah! Maukah kalian kukabarkan apa yang lebih baik? Bagi orang yang bertakwa (tersedia) di sisi tuhan mereka, surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan pasangan-pasangan yang suci serta keridhaan yang sempurna dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya.

(QS Ali Imran: 14-15)

 

            Ayat di atas menunjukkan bahwa kecintaan kepada kesenangan dunia adalah naluri yang telah dijadikan hiasan oleh Allah swt. dalam diri manusia. Hanya saja bagaimanapun besarnya rasa cinta seseorang kepada makhluk, hal itu tidak boleh mengalahkan rasa cintanya kepada Allah.

            Allah swt. menegaskan dalam firman-Nya:

 

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Terjemah:

Katakanlah: “Jika orang tua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, pasangan hidup kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatir kerugiannya dan rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai dibandingkan Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya dan Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang fasik.

(QS at-Taubah: 24)

 

Ayat di atas menunjukkan bahwa barang siapa yang menjadikan kecintaannya kepada makhluk, baik berupa manusia seperti orang tua, pasangan hidup dan anak, maupun berupa harta seperti emas, perak dan tempat tinggal melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia digolongkan sebagai orang yang fasik yang tidak akan mendapatkan hidayah.

Dengan demikian, mencintai seseorang adalah naluri manusia yang tidak dilarang oleh Allah selama tidak melebihi rasa cinta kepada Allah, Bahkan alasan utama untuk mencintai seseorang adalah karena cinta kepada Allah dan cintanya kepada Allah.

Maka cintailah orang yang mencintai Allah, niscaya engkau akan semakin mencintainya dan Allah pun akan semakin mencintaimu.

 

oleh : Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc, M.THI


Salam
Pengurus

Hikmah Ketujuh Belas : Mencintai Sesama (09/07/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Puncak kenikmatan tidak akan dapat dirasakan kecuali oleh orang yang memiliki iman yang sempurna. Kesempurnaan iman tidak akan dapat diraih kecuali oleh orang yang memiliki kemampuan untuk mencintai sesamanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Kecintaan terhadap sesama akan mendorong seseorang untuk selalu berusaha maksimal agar seluruh pikiran, perasaan, ucapan dan tindakannya mampu memberikan kedamaian kepada orang lain.

 

            Bayangkanlah jika anda hidup seorang diri di dunia ini, apa yang akan anda rasakan?

Kesepian dan kesunyian.

 

Manusia, sejatinya adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan keberadaan orang lain. Oleh karena itu, harmoni dengan sesama sangat dibutuhkan untuk kedamaian hidup.

Islam adalah agama keselamatan yang mengajarkan kedamaian hidup. Untuk mewujudkan kedamaian di antara sesama, maka Islam mengajarkan untuk saling mencintai. Hanya dengan cinta yang tulus kepada sesama, maka semua ucapan dan tindakan bahkan pikiran dan perasaan akan selalu diarahkan untuk menciptakan kedamaian dan mewujudkan keselamatan.

Nabi saw. telah menegaskan hal tesebut dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ »

Artinya:

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian belum beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian saya tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai. Sebarkanlah salam di antara kalian.

(HR. Muslim)

 

            Dalam hadis di atas, Rasulullah saw mensyaratkan iman untuk masuk ke dalam surga. Setelah itu, Rasulullah saw. menegaskan bahwa kesempurnaan iman hanya bisa diraih dengan saling mencintai di antara sesama. Secara kongkrit, beliau menunjukkan perbuatan yang bisa menumbuhkan rasa cinta di antara sesama, yaitu dengan menyebarkan salam.

            Secara formal, menyebarkan salam adalah melalui ucapan salam, namun secara substansial menyebarkan salam adalah dengan menyebarkan kedamaian di antara sesama.

            Damaikanlah hatimu dan damaikanlah hati sesama karena surga adalah dar al-salam (tempat kedamaian) yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang hatinya dipenuhi dengan kedamaian dan rasa cinta kepada sesama. 

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Keenam Belas : Memulai dan Mengakhiri dengan cara yang Baik (28/06/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Ketika memulai satu pekerjaan dengan cara yang baik, maka usahakanlah untuk mengakhirinya juga dengan cara yang baik. Namun apabila terlanjur memulainya dengan cara yang buruk, janganlah putus asa. Usahakan untuk mengakhirinya dengan cara yang baik. Sungguh yang dinilai adalah hasil akhir dan prosesnya, bukan hanya awal memulainya.

 

 

“Sudah terlanjur dan saya tidak bisa lagi memperbaikinya.”

Itu keluhan seorang teman yang merasa putus asa atas kesalahan yang dilakukan ketika memulai pekerjaannya.

 

Memulai pekerjaan dengan cara yang baik memang penting, tapi jauh lebih penting mengakhirinya dengan cara yang baik. Oleh karena itu, ketika memulai satu pekerjaan dengan cara yang baik, maka usahakanlah untuk mengakhirinya juga dengan cara yang baik.

Namun apabila terlanjur memulainya dengan cara yang buruk, janganlah putus asa. Usahakan untuk tetap mengakhirinya dengan cara yang baik. Sungguh yang dinilai adalah hasil akhir dan prosesnya, bukan hanya awal memulainya.

Bahkan kehidupan seorang manusia pun di dunia ini akan dinilai dari akhir hidupnya, bukan dari awal hidupnya.

Rasulullah saw. menjelaskan dalam hadis berikut:

 

عَنْ سَهْلٍ أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنِ الْمُسْلِمِينَ فِى غَزْوَةٍ غَزَاهَا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - فَنَظَرَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَاتَّبَعَهُ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ ، وَهْوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ ، حَتَّى جُرِحَ فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ ، فَجَعَلَ ذُبَابَةَ سَيْفِهِ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - مُسْرِعًا فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ . فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ » . قَالَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَيْهِ » . وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِنَا غَنَاءً عَنِ الْمُسْلِمِينَ ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ لاَ يَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ فَلَمَّا جُرِحَ اسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَقَتَلَ نَفْسَهُ . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عِنْدَ ذَلِكَ « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ »

Artinya:

Dari Sahl bahwasanya ada salah seorang dari prajurit kaum muslimin yang pemberani dalam satu peperangan bersama Nabi saw. lalu Nabi saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin melihat kepada seseorang penghuni neraka, maka lihatlah orang ini. Maka salah seorang dari kaumnya mengikutinya, pada saat itu ia merupakan orang yang sangat keras terhadap orang-orang musyrik sampai kemudian ia terluka, lalu ia menyegerakan kematiannya. Serta merta ia mengambil ujung pedangnya, lalu ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan ke dadanya sampai menembus di antara kedua lengannya. Maka laki-laki yang mengikutinya bersegera menghadap kepada Nabi saw. lalu berkata: “Saya bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah”. Rasulullah saw bertanya: “Ada apa?”. Ia menjawab: “Engkau berkata kepada si Fulan: Barang siapa yang ingin melihat kepada seseorang dari penghuni neraka, maka lihatlah orang ini. Sesungguhnya dia merupakan seorang laki-laki pemberani, saya menduga dia akan mati dalam keadaan (baik) seperti itu, namun ternyata ia tidak mati dalam keadaan sepeti itu. Ketika ia terluka, ia menyegerakan kematiannya dan ia bunuh diri. Maka Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba terliha beramal dengan amal penghuni neraka, tetapi dia adalah penghuni surga dan seseorang terlihat beramal dengan amal penghuni surga, tetapi dia adalah penghuni neraka. Sesungguhnya amalan itu tergantung akhirnya. 

(HR al-Bukhari)

            Hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh mudah terpukau dengan apa yang sudah dimulai dan dilakukannya, karena akhirnya belum tentu sama dengan awalnya.

            Mulailah dengan cara yang baik, berproseslah dengan cara yang baik dan usahakan untuk mengakhirinya juga dengan cara yang baik.

 

oleh : Dr. Syahrir Nuhun, Lc, M.THi

 


Salam
Pengurus

Hikmah Kelima Belas : Kekayaan Sejati (22/06/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Banyaknya harta bukanlah jaminan kebahagiaan hidup. Tingginya jabatan bukanlah jaminan ketenangan batin. Banyaknya pengikut bukanlah jaminan keselamatan diri. Kebahagiaan, ketenangan dan keselamatan terletak pada hati yang selalu bersyukur kepada Allah swt Kekayaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, tetapi pada kelapangan hati.

            Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial terkenal pada bulan Juni tahun 2017 merilis daftar orang terkaya di dunia. Berdasarkan data dari Forbes, jumlah orang Indonesia yang masuk dalam daftar orang terkaya di dunia sebanyak 20 orang dari 1.810 miliarder di seluruh dunia. Sebagai catatan, orang yang bisa disebut miliarder dunia adalah mereka yang memiliki kekayaan pribadi minimal senilai 1 miliar dolar atau sekitar 13 triliun rupiah (kurs Rp. 13.000).

 

            Apakah sejatinya yang menjadi ukuran kekayaan seseorang?

Kaya artinya tidak membutuhkan yang lain. Sehingga hakikatnya yang kaya hanyalah Allah swt., karena hanya Allah sajalah yang tidak membutuhkan yang lain, sementara selain Allah swt pasti membutuhkan yang lain.

Adapun dari sisi makhluk, maka orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang dia miliki.

Kekayaan seringkali diidentikkan dengan banyaknya harta, padahal banyaknya harta bukan merupakan jaminan bahwa seseorang sudah merasa berkecukupan.

            Masalah manusia sesungguhnya bukanlah pada sedikit banyaknya harta yang dimiliki, tetapi pada merasa cukup atau tidak merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

            Seseorang yang memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup dengan yang apa yang telah dimiliki, maka pada hakikatnya dia adalah orang miskin. Sebaliknya, seseorang yang memiliki harta yang tidak banyak dari segi jumlah, tetapi merasa cukup dengan apa yang telah ia miliki, maka pada hakikatnya dia adalah orang yang kaya.

            Nabi saw telah mengingatkan akan ukuran kekayaan tersebut melalui sabdanya:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw ia bersabda: “ Bukanlah kekayaan itu mempunyai banyak harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati.

(HR. al-Bukhari)

 

Dalam al-Quran pada surah al-Qalam ayat 8 sampai dengan 16, Allah swt. menceritakan tentang Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh yang menyandang sekian banyak sifat buruk seperti pendusta, penyumpah, suka mencela, pengumbar fitnah, penghalang kebaikan, pelampaui batas, pendurhaka, kasar dan sangat terkenal kebejatannya.

Sifat-sifat buruk yang disandangnya itu lahir karena ia adalah seorang yang dikenal, serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak dan terpandang. Ia lupa bahwa banyaknya harta bukanlah jaminan kebahagiaan hidup. Tingginya jabatan bukanlah jaminan ketenangan batin. Banyaknya pengikut bukanlah jaminan keselamatan diri.

Kebahagiaan, ketenangan dan keselamatan terletak pada hati yang selalu bersyukur kepada Allah SWT.

 

Oleh : Dr. Syahrir Nuhun, Lc.M.THi.


Salam
Pengurus

Renungan Hari ke-27 : Tradisi Mudik (12/06/2018)

Setiap tahun menjelang idul fitri mudik menjadi tradisi di Indonesia dan beberapa negara. Tapi paling heboh itu di Indonesia. Penuh perjuangan di perjalanan. Makanya perlu persiapan fisik, mental dan dana.

Apa yang membuat orang mau mudik meskipun harus bersusah payah? Jawabannya adalah mudik menjadi kebutuhan jiwa. Bertemu dengan orang tua, keluarga, sanak saudara, teman lama. Bernostalgia dengan kampung halaman yang penuh cerita dan kenangan. Melepas diri dari kesibukan kerja sebagai rehat jiwa yang jenuh di kehidupan kota.

Kembali ke asal menjadi kata kunci dari aktivitas mudik. Setiap orang punya asal. Kampung asal, rumah asal sampai rahim tempat dia berasal. Itulah rahim ibu. Kembali bertemu orang tua khususnya ibu menjadi panggilan batin. Makanya selama ibu masih ada maka kerinduan itu tetap ada.

Agar mudik juga bersifat sosial maka perlu dilengkapi dengan fungsi silaturrahmi dan berbagi. Silaturrahmi artinya menyambung kasih sayang. Salah satu caranya adalah bertemu langsung. Keliling dari rumah ke rumah atau bertemu khusus di suatu acara adalah cara yang lazim selain melalui media sosial. Tapi tetap pertemuan tak bisa tergantikan nilai rasanya oleh media sosial. Saat pertemuan itu juga dilengkapi dengan saling maaf memaafkan. Maka menjadi lengkaplah kebahagiaan jiwa karena melepaskan segala ganjalan.

Ajaran agama Islam memerintahkan untuk bersilaturrahmi. Allah berfirman : "... Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1)

Keluarga dalam Islam sangat diperhatikan karena keluarga adalah tiang negara. Agar mudik menjadi tradisi yang berdampak positif maka silaturrahmi dan berbagi menjadi aktivitas yang berdampak positif. Berbagi khususnya kepada keluarga dekat yang kurang mampu akan berfungsi ganda. Selain fungsi ekonomi juga menguatkan persaudaraan.

Namun hati-hati, mudik juga dapat berdampak negatif jika disertai dengan kesombongan. Orang kota ke desa memamerkan keberhasilan materialnya berupa kendaraan, barang-barang dan sebagainya. Juga merasa lebih mulia karena lebih kaya atau lebih berhasil. Waspadalah, itu semua sifat syaitan. Takabur, riya' tidak akan membuat kita lebih bahagia. Malah bisa memutuskan silaturrahmi serta menghancurkan pahala amaliah ramadhan. Dan orang yang dalam dirinya ada kesombongan walau seberat atom tidak akan bisa mencium bau surga apalagi memasukinya kelak di akhirat.

Orang kota yang ke desa juga perlu hati-hati. Jangan sampai malah membawa budaya dan tradisi kota yang negatif seperti konsumerisme. Bawalah tradisi positif yaitu kerja keras dan perjuangan menuntut ilmu sebagai proses meraih sukses. Beri inspirasi kepada generasi muda agar berani bermimpi tinggi. Selamat mudik. Semoga selamat sampai tujuan.

Makassar, 12 Juni 2018

Syamril, ST, M.Pd

Direktur Sekolah Pendidikan Islam Athirah

 


Salam
Pengurus

Renungan Hari ke-25 Pohon ASIA : Standar Kompetensi Lulusan Ramadhan (11/06/2018)

Di dunia pendidikan salah satu acuan penentuan kelulusan yaitu Standar Kompetensi Lulusan. Siswa akan lulus SD, SMP atau SMA jika memenuhi SKL tersebut. SKL dirumuskan dari harapan sosok ideal yang ingin diwujudkan pada tiap tingkatan pendidikan. Ramadhan juga dapat dirumuskan SKL nya merujuk pada sosok takwa yang ingin dicapai dari perintah puasa.

Sosok manusia dapat diibaratkan pohon yang memiliki akar, batang, daun dan buah. Pohon terbaik yang kokoh artinya akarnya kuat menghujam ke bumi, batangnya kokoh daunnya lebat dan buahnya banyak, sehat dan segar.

Dalam terminologi agama Islam akar yang kuat itu adalah akidah yang benar. Batang yang kokoh adalah syariah yang diamalkan. Daun itu adalah ilmu yang memadai. Buah itu adalah akhlak yang mulia. Disingkat pohon ASIA (Akidah, Syariah, Ilmu, Akhlak).

Aqidah yang benar tandanya tauhid dan ikhlas menyatu dalam diri. Keyakinan bahwa Allah itu Ada dan Maha Kuasa. Segalanya berasal dari Allah, milik Allah, kendali Allah, untuk Allah dan kembali kepada Allah.

Puasa melatih merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan. Tetap berpuasa meskipun tidak ada yang melihat karena yakin Allah Maha Melihat. Urusannya bukan dengan manusia tapi dengan Allah sehingga tumbuh keikhlasan. Lulus di bulan Ramadhan  pada sisi aqidah akan terbukti jika di luar Ramadhan masih dapat merasakan kehadiran Allah sehingga dirinya terjaga dari segala pelanggaran dan kemaksiatan.

Syariah dilatih melalui pengamalan ajaran Islam seperti shalat, puasa dan zakat sesuai dengan aturan Allah dan Rasul Nya. Latihan intensif shalat berjamaah dan puasa diharapkan membangun kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Indikator kelulusannya jika di luar Ramadhan tetap dapat disiplin shalat berjamaah dan bisa puasa sunnah. Juga tetap rutin berinfak dan membantu kaum dhuafa.

Belajar ilmu agama di bulan Ramadhan sangat mudah karena tersedia melalui ceramah tarawih, ceramah subuh dan juga melalui media sosial serta media elektronik. Selepas Ramadhan akan berkurang. Lulusan Ramadhan yang berhasil indikatornya yaitu secara aktif belajar ilmu agama melalui membaca buku, majelis taklim, media sosial dan komunitas lainnya.

Salah satu kebiasaan di bulan Ramadhan yaitu membaca Al Qur'an 30 juz. Indikator kelulusan pasca Ramadhan yaitu kebiasaan mengaji setiap hari terus berlanjut melalui one day one juz atau two days one juz. Juga berusaha memahami maknanya melalui tadabbur Al Qur'an dan mencoba menghafalnya.

Akhirnya seluruh amaliah Ramadhan buahnya di akhlakul karimah. Beberapa ulama mengambil dari huruf yang ada pada kata taqwa yaitu tawadhu, qona'ah, wara' dan ikhlas. Tawadhu yaitu rendah hati atau tidak sombong. Cirinya tidak merendahkan orang lain karena perbedaan status kekayaan, jabatan,  keturunan, gelar keilmuwan dan lainnya. Juga siap menerima kebenaran dari manapun datangnya.  

Qona'ah artinya merasa cukup sehingga senantiasa bersyukur atas nikmat Allah. Cirinya jauh dari iri dan dengki karena dalam urusan dunia senantiasa melihat ke bawah. Wara' yaitu hati-hati dalam bertindak sehingga jauh dari pelanggaran dan maksiat. Ikhlas yaitu jauh dari sifat ingin dipuji orang lain (sum'ah), pamer kebaikan (riya') sehingga terus berbuat baik meskipun orang lain tidak memberi penghargaan dan balasan.

Tentu masih banyak ciri yang lain seperti jujur, amanah, istiqamah, ramah, suka menolong, dermawan atau pemurah, pemaaf, sabar, mampu mengendalikan amarah, dan sifat mulia lainnya. Semoga latihan Ramadhan membuat kita memiliki akhlakul karimah sehingga dapat meraih bahagia dunia dan akhirat. Amin.

Makassar, 10 Juni 2018

Syamril, ST, M.Pd.


Salam
Pengurus

Renungan Hari ke-20 : Mari Tadabburi Al Qur'an

 

Ramadhan ini saya coba ikut gabung di kelas tadabbur Al Qur'an yang diadakan oleh Ibu Fatimah Kalla dan teman-teman alumni SMAN 1 Makassar angkatan 1981. Kelas ini diasuh oleh Dr. Ruslan, ahli tafsir dan bahasa Arab alumnus Al Azhar Mesir.

Setelah mengikuti beberapa pertemuan dengan pembahasan pada surat Al Muthaffifin dan At Takwir, secara umum terasa dampaknya kepada keimanan dan pemahaman.

Pada sisi keimanan dengan pembahasan pada aspek kebahasaan, tampak dan terbukti keindahan dan mukjizat Al Qur'an. Bahwa ia bukanlah buatan manusia. Tapi ia adalah kalamullah, firman Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Muhammad SAW.

Saya jadi teringat pada sebuah kajian tentang mengenal Al Qur'an. Dijelaskan secara rinci bahwa ia adalah kalamullah, firman Allah. Sejak awal turunnya bangsa Arab jahiliyah pernah meminta sastrawan mereka untuk menelitinya. Kesimpulannya adalah Al Qur'an bukan buatan manusia.

Pada sisi pengetahuan juga dapat informasi bagaimana Al Qur'an berbicara tentang berbagai fenomena alam yang mencekam menjelang kiamat seperti di At Takwir ayat 1-6. Juga penggunaan berbagai kata yang dalam terjemahan Indonesia artinya cuma satu. Contohnya bintang yang dalam Al Qur'an menggunakan kata najm, buruuj, kawakib.

Lebih penting lagi bagaimana Al Qur'an memberi penyadaran kepada manusia dan perintah agar menjadi manusia yang berbakti yaitu al-abror yang kembali kepada fitrahnya. Jangan menjadi manusia pendosa (mujrimun) dan pendusta (mukadzdzibun). Inilah ujung dari keberagamaan yaitu menjadi manusia yang senantiasa berbakti kepada Allah SWT.

Al Qur'an merupakan nikmat paling besar dari Allah untuk ummat manusia. Surat Ar Rahman yang berbicara tentang nikmat Allah yang sangat banyak diawali dengan kata "Ar Rahman. Yang mengajarkan Al Qur'an". Bagaimana agar nikmat tersebut bermanfaat maka perlu dibaca, dihafalkan, ditadabburi (dipelajari dan dihayati), diamalkan dan didakwahkan.

Memasuki 10 hari akhir Ramadhan mari mencoba secara intensif membaca (mengaji). Coba juga baca terjemahannya atau tafsirnya. Atau cari video pendek dari ustadz di youtube yang mengkaji Al Qur'an. Saya pribadi suka buka kajian ust. Adi Hidayat. Silakan ada banyak pilihan.

Jika sempat dan bisa fokus coba menambah hafalan Al Qur'an. Atau menghafal kembali ayat yang mulai lupa. Tentu lebih jauh lagi coba amalkan dan sampaikan ke teman walaupun hanya satu ayat.

Semoga Al Qur'an di bulan Ramadhan ini dapat mencerahkan jiwa dan keimanan kita sehingga keluar Ramadhan dapat membawa bekal di 11 bulan berikutnya. Semoga dapat hidup lebih bahagia.

 

Makassar, 5 Juni 2018

Syamril, ST, M.Pd.


Salam
Pengurus

Renungan Hari ke-19 Penghancur Pahala (05/06/2018)


"Kelak akan ada ummatku yang datang dengan amalan sebesar gunung Tihamah. Tapi semua hancur seperti buih di lautan. Mengapa terjadi demikian? Karena dia saat dikesendiriannya dia bermaksiat kepada Allah". Itulah nasehat penuh semangat dari Ust. Sidik saat khutbah kedua di jumat ketiga Ramadhan di masjid Al Ukhuwwah.  

"Hati-hati saudaraku. Bisa jadi kita telah banyak beribadah, shalat berjamaah, membaca Al Qur'an, berpuasa, berinfak dan lain sebagainya. Namun semua tak ada artinya, tak ada nilainya, tak ada pahalanya, hancur berantakan karena perbuat maksiat saat sendirian". Demikian Ust. Sidik melanjutkan.

Saya coba merenungi mengapa maksiat saat sendirian dapat menghancurkan pahala? Tujuan ibadah seperti shalat agar ingat kepada Allah sehingga dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa agar menjadi takwa sehingga berhati hati dalam menjalani hidup. Berbuat maksiat saat sendirian artinya lupa pada Allah atau 'tidak percaya' adanya Allah. Tidak takut pada Allah. Hanya takut pada manusia. Artinya ibadah yang dilakukan tidak mencapai tujuan, hanya jadi amalan fisik. Wajar saja nilainya tidak ada.

Mengapa dalam kesendirian manusia melakukan maksiat? Penyebannya karena dia tidak merasakan muraqabatullah atau pengawasan dari Allah. Saat sendirian tidak ada manusia yang melihat. Akhirnya dia pun bebas melakukan perbuatan sesuka hatinya. Dia lupa bahwa Allah Maha Melihat. Maha Menyaksikan segala apa yang dia perbuat.

Mendengar itu semua saya jadi takut dan khawatir juga. Apalagi di era sekarang ini fasilitas teknologi sangat membantu manusia dalam beraktivitas positif. Namun ibarat pedang bermata dua. Teknologi juga memudahkan melakukan kemaksiatan. Teknologi internet yang memudahkan akses hal-hal positif juga miliki jebakan syaitan yaitu pornografi.

Sering saat membaca berita atau situs biasa muncul iklan yang mengajak mengunjungi situs porno kemaksiatan. Di sinilah iman kita diuji. Apakah kita tergoda atau tidak. Di situlah iman kita diuji apakah percaya adanya Allah yang Maha Melihat. Disitulah kemampuan kita mengendalikan hawa nafsu diuji. Sungguh sangat sulit. Tapi insya Allah bisa jika kita dapat merasakan pengawasan Allah atau muraqabatullah.

Menurut Ust. Sidik ada tiga cara agar dapat membangun muraqabatullah dalam diri kita. Pertama, rasa takut kepada Allah. Begitu keras ancaman Allah bagi mereka yang berbuat maksiat. Neraka jadi tempat siksaan yang luar biasa.

Kedua membangun rasa malu kepada Allah. Bayangkan hari pertanggungjawaban saat seluruh anggota badan berbicara atas segala yang diperbuatnya. Kita tak dapat mengelak dan hanya bisa tertunduk malu.

Ketiga, membangun rasa cinta dan syukur kepada Allah. Anugrah nikmat panca indra serta anggota tubuh lainnya demikian besar. Dengan fasilitas itu semua kita menikmati hidup ini. Allah tidak menuntut bayaran. Hanya meminta dijaga dan digunakan pada hal yang diperintahkan serta jauhkan diri dari kemaksiatan. Itupun semua untuk manusia manfaatnya.

Semoga bulan Ramadhan di mana kita menjauhi hal yang boleh di luar ramadhan (makan, minum dan hubungan suami istri) dapat membuat kita mampu mengendalikan hawa nafsu. Juga melatih diri merasakan pengawasan Allah, muraqabatullah, sehingga kita takut dan malu bermaksiat kepada Nya.

Mari jaga amalan kita sehingga pahala yang Allah janjikan dari ibadah Ramadhan serta nanti di luar Ramadhan dapat kita nikmati di akhirat.

 

Makassar, 4 Juni 2018

Oleh : Syamril, ST, M.Pd


Salam
Pengurus

Renungan Hari Ke-18 Menggapai Husnul Khotimah (04/06/2018)

Hari kamis 8 Ramadhan 1439 komunitas penghafal Al Qur'an di Makassar dikagetkan dengan berita wafatnya Ust. Usman Laba. Beliau adalah pimpinan pesantren tahfizhul Qur'an yang telah melahirkan banyak penghafal Al Qur'an. Beliau yang merintis tarawih 1 juz tiap malam yang kemudian dikembangkan oleh muridnya di berbagai tempat.

Rabu malam beliau masih memimpin shalat tarawih 1 juz. Kemudian kamis subuh masih mengimami shalat dan memberi taushiah kepada jamaahnya. Setelah itu merasa kurang sehat. Lalu pulang ke rumahnya istirahat.

Istrinya memijitnya sampai tidur. Lalu istrinya pun pergi mengajar santri putri. Beberapa saat kemudian ada satri yang ingin mohon ijin karena ada keperluan penting. Beliau dibangunkan oleh santrinya. Saat dipegang ternyata badannya sudah kaku. Beliau telah meninggal dunia.

Kematian yang tidak disangka-sangka. Kematian yang indah. Menghadap Allah di bulan Ramadhan, sedang berpuasa, hari kamis hari saat amalan dilaporkan. Amalan selama hidupnya seputar Al Qur'an. Muroja'ah hafalan 10 juz tiap hari, menerima setoran santri, mengajar ilmu Al Qur'an dan segala hal terkait Al Qur'an. Salah satu yang dahulu muridnya adalah Ust. Harman Tajang pendiri Markaz Imam Malik yang juga luar biasa hafalannya.

Beliau adalah sosok manusia yang istiqamah menjalankan ketaatan. Maka Allah wafatkan beliau di atas kebiasaannya. Sebagaimana Rasulullah bersabda :  "Siapa yg hidup di atas sesuatu maka dia akan diwafatkan di atas sesuatu".

Hadist di atas menjelaskan tentang jenis akhir kehidupan yang tergantung kebiasaan. Bisa husnul khotimah jika istiqamah dalam ketaatan atau su'ul khotimah jika terbiasa dalam kemaksiatan.

Istiqamah dalam ketaatan sangat berat. Allah berfirman : "Beribadahlah engkau kepada Allah sampai datang al yaqin (kematian)". Kematian adalah gerbang pertama menuju akhirat. Jika menutup usia dengan kebaikan maka akan meraih kebaikan pada kehidupan selanjutnya.

Tentu kita ingin meraih husnul khotimah. Caranya bertemanlah dengan orang saleh. Banyaklah berdoa sebagaimana yang diajarkan Nabi tentang doa yg paling banyak beliau baca yaitu : "wahai yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama Mu". Dan terakhir yaitu banyak dekat dengan Al Qur'an.

Ramadhan segera masuk di 10 malam terakhir. Mari jaga hati dan motivasi. Dekatkan diri dengan Al Quran. Hidupkan 10 malam terakhir. Jangan pilih pilih tanggal. Hidupkan semuanya karena kita tidak tahu di malam berapa Allah menurunkan lailatul qadar. Semoga Allah memudahkan kita istiqamah dalam ibadah sampai ajal datang menjemput.

 

Makassar, 3 Juni 2018

Oleh : Syamril, ST, M.Pd

Direktur Sekolah Pendidikan Islam Athirah


Salam
Pengurus

Renungan Hari Ke-15 Memaknai Masa Depan (02/06/2018)


Jika seorang siswa ditanya tentang masa depannya maka yang terbayang olehnya adalah cita-cita profesi atau pekerjaan. Dokter, insinyur, guru, pengusaha, tentara adalah beberapa contoh jawabannya. Maka target pertama yang harus dia capai yaitu masuk Perguruan Tinggi sesuai cita-citanya. 

Setelah masuk perguruan tinggi dan menempuh jenjang sarjana atau diploma maka masa depan yang harus segera diraih yaitu memiliki penghasilan sendiri. Bisa jadi karyawan atau pengusaha. Jika itu juga tercapai maka mulai berharap dapat jenjang karir yang baik jadi top manajemen. Bisa manajer atau direktur.

Saat sudah tiba di titik itu maka pikiran mulai lagi berubah apalagi jika umur sudah kepala lima.   Mulai berfikir bagaimana saat nanti pensiun. Apa yang akan dilakukan? Apakah tunjangan pensiun masih bisa mencukupi kebutuhan? Apa bisa hidup dengan tenang di masa tua? 

Saat sudah tiba di titik itu maka pikiran tentang masa depan berubah lagi. Bukan lagi tentang kehidupan dunia tapi kehidupan yang abadi di akhirat. Maka mulailah aktif beribadah di masjid. Di sebuah kompleks tentara di Geger Kalong Bandung yang banyak dihuni para pensiunan militer membuat nama kelompoknya sesuai nama perumahannya yaitu KPAD (Komunitas Penunggu Ajal Datang). Mereka aktif di masjid perumahan. Shalat lima waktu, pengajian, puasa sunnah dan wajib bersama, acara sosial bersama serta rekreasi bersama. 

Pada akhirnya jika manusia terus merenungi masa depan maka akan tiba pada masa depan abadi yaitu akhirat. Hanya saja tiap orang beda masa munculnya kesadaran akhiratnya. Secara umum biasanya saat pensiun apalagi jika satu persatu teman seangkatan pergi meninggalkan dunia ini. 

Saat itu muncullah kesadaran sebagaimana ungkapan penyair "Kehidupan dunia adalah nafas yang dapat dihitung. Ruang yang dapat diukur. Ajal yang pasti dan terjadwal serta rejeki yang terbatas. Wahai manusia sadarlah bahwa masa depan sesungguhnya adalah akhirat". 

Kesadaran akhirat sebagai masa depan sejati tidak harus menunggu masa tua. Sejak masih muda hendaknya sudah disadari. Bukankah Al Qur'an banyak mengingatkan salah satunya ayat berikut "carilah olehmu kehidupan akhirat dan jangan lupakan bagianmu di akhirat". 

Kesadaran 'akhirat orientation' tidak menjadikan kita mengabaikan dunia. Justru dunia dijadikan sebagai alat untuk meraih masa depan akhirat. Semua fasilitas duniawi dijadikan alat beramal saleh. Harta, ilmu dan tahta untuk kemashalatan dan dakwah. Tentunya semua dilakukan dengan penuh keikhlasan. Allah berfirman : 
"Barang siapa yang harapannya bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan jangan mempersekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya". 

Mumpung masih ada waktu. Jangan tunda kesempatan beramal saleh apalagi di bulan Ramadhan. Boleh jadi ada waktu tapi tidak bisa karena sakit. Bisa jadi sehat tapi tidak ada waktu karena sangat sibuk. Rasulullah mengingatkan "dua hal yang sering diabaikan yaitu kesehatan dan waktu luang". 

 

Makassar, 1 Juni 2018

 

Oleh : Syamril, ST, M.Pd


Salam
Pengurus

Renungan Hari Ke-13 Ramadhan : Tanda Tanda Orang yang  Celaka (31/05/2018)

Seorang ulama menulis dalam kitabnya tentang ciri-ciri orang yang celaka. Menurut beliau ada 4 ciri-cirinya. Pertama, tidak mengingat dosa dosa yg telah berlalu. Akibatnya tidak ada penyesalan. Tidak ada keinginan untuk bertobat dan mudah untuk mengulangi kembali. 

Padahal ciri orang bertakwa bukanlah orang yang tidak punya dosa. Tapi jika melakukan salah segera ingat Allah, memohon ampun kepada-Nya dan berjanji tidak mengulangi. Jika punya salah pada manusia segera memohon maaf.

Ciri kedua orang yang celaka yaitu selalu menyebut nyebut kebaikan yang telah diperbuat. Akibatnya pahala kebaikannya dapat hilang karena riya. Padahal amalan yang baik yaitu seperti ungkapan Rasulullah "tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu". Selain itu suka menyebut kebaikan juga dapat menyakiti perasaan orang yang menerima kebaikannya. 

Memperlihatkan kebaikan bisa saja dilakukan jika dimaksudkan untuk memotivasi orang lain. Misalnya ada penggalangan dana untuk pembangunan masjid. Niatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentu dengan tetap menjaga keikhlasan hati. 

Ciri ketiga orang yang celaka yaitu memandang harta orang lain lebih unggul. Akibatnya tumbuh iri hati dan susah bersyukur. Iri hati cirinya yaitu SOS. Sengsara melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain sengsara. 

'Iri hati' bisa saja positif jika jadi motivasi kebaikan. Jika orang lain bisa beli mobil dari harta yang halal mengapa saya tidak bisa. Lebih bagus lagi jika itu amal ibadah. Misalnya orang lain bisa baca Al Qur'an dengan benar maka saya juga bisa. Jika orang lain bisa khatam 30 juz di bulan Ramadhan maka saya juga bisa. 

Ciri keempat orang yang celaka yaitu memandang remeh orang lain karena penampilannya biasa saja. Dia terjebak pada bungkus bukan isi. Banyak ulama dan orang saleh yang sangat tawadhu. Penampilan biasa saja tapi ternyata ilmunya luar bisa. Maka pandanglah manusia apa adanya. Kemuliaan bukan karena penampilan. Bukan karena harta dan tahta. Tapi kemuliaan karena ketakwaan.

 

Syamril

Penulis Buku 50 Jalan Kalla, Kerja Ibadah

 


Salam
Pengurus

Renungan Hari Ke-12 Pahala dan Tingkat Kesulitan (28/05/2018)


Dalam ilmu ekonomi bisnis dikenal istilah investasi. Ada modal (capital), resiko (risk) dan keuntungan (return). Untuk mendapatkan keuntungan dibutuhkan modal (capital). Tiap bisnis yang dijalankan pasti ada resikonya (risk). Interaksi modal dan resiko menghasilkan keuntungan. Berlaku hukum high capital, high risk, high return. Maksudnya bisnis yang  modal dan resikonya besar biasanya keuntungannya juga besar. Demikian pula sebaliknya. Resiko ditentukan oleh tingkat kesulitan dari bisnis yang digeluti.

Dalam dunia ibadah juga berlaku demikian. Keuntungan atau return yaitu pahala. Besarnya pahala juga tergantung tingkat kesulitan. 
Semakin sulit semakin besar pahalanya. Contohnya pahala shalat isya dan subuh berjamaah di masjid. 
Shalat subuh berjamaah pahalanya sama dengan shalat semalam penuh. 
Sedangkan shalat isya  pahalanya sama dengan shalat 1/2 malam. Padahal rakaat shalat isya lebih banyak daripada shalat. Jadi pahala bukan karena jumlah rakaat tapi tergantung kesulitannya.

Mengapa shalat subuh berjamaah lebih sulit? Dalam kondisi tidur nyenyak kita harus bangun. Meninggalkan zona nyaman untuk menuju mesjid. Alamiah tubuh kita pada malam hari istirahat dan siang mencari nafkah. Saat istirahat ada panggilan shalat dan seruan "shalat lebih baik daripada tidur". Karena adanya keyakinan dan keimanan maka kita bangun menuju masjid dengan penuh perjuangan. Wajar saja jika pahalanya besar.  

Khusus di bulan Ramadhan Allah memberikan pahala yang berlipat ganda dengan rentang 10 kali sampai 700 kali dari ibadah di luar ramadhan. Tiap orang bisa dapat pahala yang berbeda  pada rentang di atas. Tergantung pada keikhlasan masing-masing. 

Ibadah puasa punya keistimewaan. Kata Allah dalam hadist Qudai "...Kecuali puasa. Itu untukKu dan Aku akan membalasnya".  Jadi bukan di  rentang 10-700 tapi tak terbatas. Mengapa? Puasa ibadah paling berat. Jika shalat satu waktu hanya 5 menit dan ada jeda setelah itu. Demikian pula haji hanya 5 hari selesai. Zakat juga hanya sekali setahun dengan syarat nishab dan haul.

Dari sisi psikologi juga dpt dijelaskan alasan puasa itu berat. Penggunaan kata dalam Al Qur'an dan Hadist. Perintah puasa tipenya meninggalkan perbuatan. Tidak boleh makan, minum dan berhubungan suami istri dari subuh sampai magrib. Berbeda dengan perintah shalat yang tipe kalimatnya melaksanakan perbuatan seperti "dirikanlah shalat". Teori framing mengatakan kalimat negatif dua kali lebih besar direspon daripada kalimat positif. Karena puasa menggunakan kalimat negatif maka itu membuat puasa jadi berat. Jadi sedikit ringan karena iman dan dilakukan berjamaah. 

Kemudian semakin dekat syawal juga semakin berat. Ada gangguan dari aktivitas mudik dan persiapan lebaran. Oleh karena itu pada 10 hari terakhir Allah letakkan malam lailatul qadr dengan pahala yang luar biasa besar. Lebih mulia daripada 1000 bulan. Untuk merainya bukan ditunggu tapi dijemput dengan i'tikaf di masjid. Secara ilmu ekonomi return besar butuh juga modal yang besar.

Menjelang tengah ramadhan mari kuatkan semangat dan motivasi. Allah siapkan return pahala yang semakin besar maka tentu resiko dan modal juga besar. Tingkat kesulitan semakin tinggi. Mari siapkan diri meraih pahala yang Allah janjikan. Kalau bukan ramadhan tahun ini, kapan lagi. Tidak ada jaminan masih hidup di ramadhan tahun depan.

Makassar, 28 Mei 2018

Syamril, 

Penulis buku 50 Jalan Kalla, Kerja Ibadah

 

 

Rangkuman ceramah Dr. Hamid Habbe di Masjid Al Ukhuwwah Bukit Baruga


Salam
Pengurus

Syukur Nikmat Ramadhan (24/05/2018)

 

Bersyukur kepada Allah karena kita masih diberi kehidupan dan dapat memasuki bulan Ramadhan. Bulan istimewa. Bisa jadi ada saudara, keluarga, tetangga dan teman yang tahun lalu masih bersama kita di bulan Ramadhan. Sekarang sudah telah meninggal dunia. 

Bersyukur kepada Allah karena kita masih diberi kesehatan. Ada banyak orang yang terbaring sakit di rumah sakit atau di rumahnya. Tak bisa berpuasa karena sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sering dilupakan sehingga Rasulullah mengingatkan khusus dalam sabdanya "ada dua nikmat yang sering dilupakan yaitu kesehatan dan waktu luang". 

Bersyukur kepada Allah karena kita masih diberi keimanan yang membuat kita memasuki Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Bahagia karena melaksanakan perintah puasa dan ibadah lainnya. Banyak orang yang masih hidup sehat di bulan Ramadhan tapi tidak menjalankan perintah puasa. Bukan karena tidak sanggup. Tapi karena tak ada iman di dalam hatinya.  

Bersyukur kepada Allah karena Allah masih memberikan rezeki harta yang dapat mencukupi kebutuhan. Masih ada penghasilan tetap yang diterima di tiap awal bulan. Kita masih dapat memenuhi kebutuhan pokok bahkan dapat berbagi dengan orang lain. Banyak orang yang memasuki Ramadhan dalam keadaan di PHK tak punya lagi penghasilan tetap. 

Bersyukur kepada Allah karena kita hidup di Indonesia dalam keadaan aman. Meskipun ada teror bom di Surabaya tapi tidak membuat kita merasa takut. Kita masih dapat bepergian 24 jam. Datang ke pusat keramaian seperti masjid yang penuh di bulan Ramadhan. Dapat beribadah bersama sama dengan aman dan nyaman. 

Bandingkan dengan negeri yang dilanda konflik dan perang. Setiap saat nyawa terancam. Tidak bisa bebas bepergian. Bahkan harus mencari tempat perlindungan. Di Palestina ratusan warga meninggal dan ribuan yang cedera karena kebiadaban tentara Israel. Di Suriah setiap hari ada yang meninggal karena konflik perang saudara. 

Apa yang diharapkan oleh Allah dari seluruh nikmat yang telah Allah anugerahkan tersebut? Pertama, kita diperintahkan untuk senantiasa ingat kepada-Nya. Allah berfirman : 
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Q.S. Al Baqarah : 152)

Salah satu cara untuk mengingat Allah yaitu menjalankan shalat. "... dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (Q.S. Thaha : 14). Mari perbaiki kualitas dan kuantitas shalat kita sebagai jalan ingat kepada Allah wujud syukur kepada-Nya. Rasulullah yang telah dijamin masuk surga, diampuni seluruh dosanya masih tetap shalat tahajjud sampai kakinya bengkak. Ditanya oleh istrinya Aisyah mengapa seperti itu shalatnya padahal sudah dijamin masuk surga. Apa jawaban Rasulullah "apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?"

Selanjutnya wujud syukur nikmat yaitu menjaga dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai tujuannya. Mari gunakan waktu sebaik-baiknya untuk hal yang bermanfaat. Jaga kesehatan dengan makanan halalan thayyibah dan olahraga. Belanjakan harta untuk hal yang berguna. Bantu kaum dhuafa yang membutuhkan. 

Bagi yang status karyawan, mari bekerja dengan baik sesuai tupoksi masing-masing. Berikan kinerja yang maksimal agar perusahaan terus maju dan berkembang. Jauhkan diri dari perilaku menyimpang yang dapat merugikan perusahaan. 

Bagi kita semua warga Indonesia. Mari jaga perdamaian dan persatuan. Hindarkan diri dari perilaku saling fitnah. Jangan menyebar hoax di dunia maya. Biasakan tabayyun (cross check) dan budayakan prasangka positif. Jalin persaudaraan dan jauhi permusuhan. 

Akhirnya sebagai wujud syukur nikmat Ramadhan maka mari bertekad jadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan yang terbaik. Isi hari harinya dengan ibadah terbaik. Puasa, shalat, infak, zakat, menuntut ilmu, silaturrahmi. Semuanya dengan kualitas yang terbaik. Sehingga kita keluar dari bulan Ramadhan menjadi manusia yang terbaik. Manusia yang bertakwa. Amin. 

 


Syamril, ST, M.Pd

Direktur Sekolah Islam Athirah
 


Salam
Pengurus

Hikmah Keempat Belas : Mencintai yang Dimiliki (17/05/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Kebahagiaan akan dirasakan apabila bisa memiliki apa yang dicintai, namun akan lebih membahagiakan apabila mampu mencintai apa yang sudah dimiliki. Kepuasan akan dirasakan apabila bisa meraih kebaikan yang diharapkan, tetapi akan lebih terasa memuaskan jika mampu mengubah apa yang sudah ada dalam genggaman menjadi kebaikan yang sesuai dengan harapan. Cintailah orang-orang yang ada disekitarmu yang telah menjadi bagian dari dirimu. Keluarga, sahabat-sahabat yang sejati. Dukung mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan.

 

 

Ketika masih sekolah, apa yang ada di dalam benakmu sebagai sesuatu yang akan sangat membahagiakan jika sekiranya bisa terwujud?

Lulus sekolah barangkali jawabannya.

 

Setelah lulus sekolah, benar merasa bahagia, tetapi ternyata itu hanya sejenak. Setelah itu, keinginan lain yang diharapkan akan mendatangkan kebahagiaan mulai muncul di hati. Bahagia akan dirasakan apabila diterima di tempat kuliah favorit.

 

Begitu diterima kuliah, merasa bahagia, namun itu pun hanya sejenak. Di dalam hati mulai muncul harapan yang lain, kebahagiaan akan dirasakan apabila lulus kuliah dan diwisuda.

 

Ketika wisuda, merasa sangat bahagia, namun lagi-lagi itu hanya sejenak. Muncul lagi keinginan yang lain di dalam hati bahwa kebahagiaan akan dirasakan apabila bisa lanjut ke jenjang kuliah yang lebih tinggi.

 

Pada akhirnya kuliah sampai selesai s3. Bahagia? Tentu saja, namun hanya sejenak, setelah itu mulai muncul keinginan untuk bekerja dan mengharapkan dengan bekerja akan merasa bahagia.

 

Setelah bekerja, sejenak merasa bahagia. Setelah itu, kembali merasa hampa dan mulai berpikir bahwa menikah lah yang akan mendatangkan kebahagiaan.

 

Setelah menikah, sejenak merasa bahagia, lalu kembali merasa hampa.

 

Begitulah perjalanan hidup manusia Setiap satu keinginan terpenuhi, merasa bahagia sejenak dan setelah itu muncul lagi keinginan yang baru. Tentu saja, tidak semua orang perjalanan hidupnya linier seperti yang diilustrasikan di atas, tetapi pointnya adalah kebahagian akan dirasakan apabila bisa memiliki apa yang diinginkan dan dicintai, namun kebahagiaan tersebut tidak bersifat abadi, sifatnya hanya sementara.

Perhatikanlah hadis berikut:

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ »

Artinya:

Dari ‘Abbas bin Sahl bin Sa’d ia berkata, Saya mendengar Ibn az-Zubair berkata di atas mimbar di Makkah ketika khutbah: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Allah maha menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.

(HR al-Bukhari)

            Di dalam hadis di atas, Nabi saw. menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Maksud pernyataan tersebut adalah manusia terus menerus memenuhi dirinya dengan harta sampai ia mati lantas di kuburnya, isi perutnya dipenuhi dengan tanah kuburan.

Pernyataan Nabi saw. tersebut menunjukkan bahwa salah satu watak manusia adalah tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kebahagiaan memang akan dirasakan apabila bisa memiliki apa yang diinginkan dan dicintai, namun akan lebih membahagiakan apabila mampu mencintai apa yang sudah dimiliki. Kepuasan akan dirasakan apabila bisa meraih kebaikan yang diharapkan, tetapi akan lebih terasa memuaskan jika mampu mengubah apa yang sudah ada dalam genggaman menjadi kebaikan yang sesuai dengan harapan.

Tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi ketidakpuasan seseorang dan keinginan yang berkelanjutan, juga berkaitan dengan manusia seperti suami, istri, anak, sahabat dan lainnya.

Sebelum berkeluarga, seseorang merasa bahwa dengan memiliki pasangan hidup, ia akan merasa bahagia. Setelah keinginannya terwujud, muncul keinginan yang lain untuk mempunyai anak. Setelah memiliki istri dan anak, muncul keinginan untuk menambah lagi. Demikian seterusnya.

Seseorang seringkali tidak merasa puas dengan orang-orang yang sudah dimiliki dan memimpikan orang lain yang belum dimiliki. Padahal memiliki mereka tidak merupakan jaminan akan mendatangkan kebahagiaan. Maka untuk mendapatkan kebahagiaan bukan dengan memiliki orang-orang yang dicintai, tetapi dengan mencintai orang-orang yang telah diamanahkan oleh Allah untuk menjadi tanggung jawab. 

Mari mencintai mereka yang ada di sekitar kita, mereka yang telah menjadi bagian dari diri. Keluarga dan sahabat-sahabat yang sejati. Dukung mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan.

 

 

Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI

 


Salam
Pengurus

HIKMAH KE TIGA BELAS : Menyeimbangkan Potensi Diri (11/05/2018 )

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Apabila potensi akal dimatikan, maka akan menyebabkan kebodohan. Namun apabila potensi akal dilepaskan tanpa kontrol maka akan melahirkan kelicikan. Apabila potensi emosi dimatikan, maka akan menyebabkan sifat pengecut. Namun apabila potensi emosi dilepaskan tanpa kontrol maka akan melahirkan tindakan nekat. Apabila potensi syahwat dimatikan, maka akan menyebabkan sifat statis. Namun apabila potensi syahwat dilepaskan tanpa kontrol maka akan melahirkan manusia yang rakus. Seimbangkan ketiga potensi tersebut.

 

Manusia adalah makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah swt., diciptakan dalam komposisi yang terbaik. Kemuliaan manusia, di antaranya disebabkan oleh potensi kebaikan yang dikaruniakan oleh Allah swt. Namun apabila potensi kebaikan disalahgunakan, maka akan menjerumuskan manusia ke posisi yang rendah.

Allah swt. berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ .ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ. إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ.

Artinya:

Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami mengembalikannya ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang yang beriman dan beramal saleh.

(QS at-Tin: 4-6)

 

Manusia dikaruniai oleh Allah swt. aneka macam quwwah (potensi), di antaranya yaitu potensi akal, syahwat dan emosi. Ketiga potensi tersebut tidak boleh dimatikan dan tidak boleh juga dilepaskan. Apabila ketiganya dimatikan atau di lepaskan tanpa kendali, maka akan menimbulkan efek buruk dalam kehidupan.

Akal jika dimatikan akan menyebabkan kebodohan dan menempatkan manusia pada derajat yang lebih rendah dibandingkan dengan binatang. Sebaliknya jika akal dibiarkan tanpa kendali akan melahirkan manusia yang licik.

Syahwat jika dimatikan akan menyebabkan manusia tidak mempunyai obsesi dan keinginan. Sebaliknya, jika syahwat dibiarkan tanpa kendali akan melahirkan manusia yang rakus dan tamak, manusia yang ingin memiliki bahkan meskipun bukan haknya.

Emosi  jika dimatikan akan menyebabkan manusia menjadi penakut. Sebaliknya, jika emosi dilepaskan begitu saja akan melahirkan manusia yang emosional dan mudah marah.

Sikap yang bijaksana adalah dengan menempatkan ketiga potensi tersebut secara proporsional. Apabila akal ditempatkan secara proporsional, akan melahirkan manusia yang cerdas Ketika syahwat ditempatkan secara proporsional akan melahirkan manusia yang punya ‘iffah yaitu mereka yang menjaga kehormatan dirinya. Ketika emosi ditempatkan secara proporsional akan melahirkan manusia yang pemberani.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THi


Salam
Pengurus

Hikmah Kedua Belas : Menyadari Kesalahan (03/05/2018)

 

Tidak ada seorang manusia pun yang steril dari kesalahan. Manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak mempunyai kesalahan, tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika melakukan kesalahan, segera menyadari diri, memohon pengampunan kepada Sang maha Pengampun. Jangan pernah putus asa dari kasih sayang Allah. Semua dosa akan diampuni, asalkan bisa menghentikannya, sungguh-sungguh menyesali diri dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

 

            Adakah di antara pembaca sekalian yang tidak pernah melakukan kesalahan?

            Adakah di antara pembaca sekalian yang tidak penah berbuat dosa?

            Kalau ada yang menjawab iya, maka yakinlah dia telah menambah kesalahan dan perbuatan dosa, karena tidak menyadari kesalahan dan dosanya.

 

Di antara manusia yang diciptakan oleh Allah swt., hanya para Nabi dan Rasul yang ma’shum (terpelihara dari dosa). Maka, selain mereka tidak ada seorang manusia pun yang steril dari kesalahan. Manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak mempunyai kesalahan, tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika melakukan kesalahan, segera menyadari diri, memohon pengampunan kepada Sang Maha Pengampun.

Seorang manusia tidak selayaknya menunda dan menangguhkan taubat, sebaliknya mesti bersegeralah meminta pengampunan kepada Allah swt. Ajal tidak pernah menunggu taubat, maka sebelum ruh sampai di tenggorokan, bertaubatlah.

Seorang hamba tidak selayaknya putus asa dari kasih sayang Allah karena semua dosa akan diampuni, kecil maupun besar, yang disengaja atau karena kelalaian, yang dilakukan sekaligus atau bertahap, yang dinampakkan atau pun disembunyikan, asalkan syarat-syarat taubat bisa dipenuhi.

 

Allah swt. menjanjikan dalam firman-Nya:

 

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Terjemah:

Katakanlah! Wahai hamba-hambaku yang sudah melampaui batas atas diri mereka. Jangan putus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

(QS az-Zumar: 53)

 

            Dalam ayat di atas, Allah swt. menyapa manusia yang sudah melampaui batas dengan sapaan yang penuh kasih sayang dan menjanjikan kepada mereka pengampunan atas semua dosanya.

            Adapun syarat-syarat taubat yang diterima apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak Allah SWT. adalah:

  • Menghentikan dosa dengan segera
  • Menyesali dengan penyesalan yang mendalam
  • Bertekad tidak akan mengulangi lagi.

 

Apabila dosa tesebut berkaitan dengan hak manusia, maka ditambah satu persyaratan yaitu menyelesaikan urusan tersebut dengan orang yang bersangkutan. Apabila berkaitan dengan kehormatan diri, maka penyelesaiannya dengan cara meminta maaf. Sedangkan apabila berkaitan dengan harta benda, maka penyelesaiannya adalah dengan mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya yang sah.   

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc, M.THI


Salam
Pengurus

Hikmah Kesebelas : Menyikapi Masa Lalu (26/04/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb.

 

Masa lalu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan yang tak mungkin untuk diubah lagi. Masa lalu ada yang terasa indah, namun tidak sedikit pula yang kelam. Masa lalu yang indah bukan hanya untuk dijadikan sebagai kenangan, tetapi untuk dijadikan sebagai alarm pengingat ketika sudah terlalu jauh menyimpang dari yang semestinya. Masa lalu yang kelam bukan untuk disesali, tetapi sebagai pelajaran agar tidak lagi terulang pada diri sendiri dan orang lain.

 

Pernahkah anda sejenak meluangkan waktu untuk mengenang kembali apa yang telah dialami pada masa lalu?

Kalau pernah, kenangan apa yang paling anda ingat?

Kenangan indah yang menyenangkan atau kenangan buruk yang menyesakkan, atau mungkin dua-duanya?

 

Begitulah kehidupan manusia. Ia tidak terlepas dari tiga masa, masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa sekarang adalah lanjutan dari apa yang dialami pada masa lalu, karena itu keadaan di masa sekarang sangat ditentukan oleh cara menjalani hidup di masa lalu.

Bagaimanapun juga, masa lalu adalah bagian dari kehidupan seseorang yang tak terpisahkan dari dirinya yang tak mungkin untuk diubah lagi. Masa lalu ada yang terasa indah, namun tidak sedikit pula yang kelam. Masa lalu yang indah bukan hanya untuk dijadikan sebagai nostalgia dalam kenangan, tetapi banyak manfaat yang bisa diambil untuk kebaikan masa sekarang dan masa yang akan datang.

Masa lalu yang positif karena diisi dengan berbagai kebaikan seyogyanya dijadikan sebagai pengingat dan penyemangat, ketika di masa sekarang sudah mengalami perubahan. Sebagian orang terkadang menjadikan masa lalunya yang positif hanya sebatas kenangan.

 

Ada yang berkata: “Dulu saya pernah belajar agama, tetapi sekarang….

Ada lagi yang berkata: “Dulu saya juga rajin ibadah, tetapi sekarang …

Ada juga yang berkata: “Dulu, Alhamdulillah, saya juga termasuk orang yang baik lah, tetapi sekarang …   ”

 

Kebaikan-kebaikan di masa lalu bukan hanya untuk jadi kenangan, tetapi merupakan bukti nyata bahwa kalau di masa lalu bisa melakukan kebaikan, maka di masa sekarang dan di masa yang akan datang, pasti juga akan bisa melakukannya sepanjang ada kemauan dan usaha keras. 

Sebaliknya, masa lalu yang kelam bukan untuk disesali, tetapi sebagai pelajaran agar tidak lagi terulang pada diri sendiri dan orang lain. Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt. memerintahkan kepada manusia untuk mengambil pelajaran dari berbagai kejadian di masa lalu, baik yang dialami sendiri ataupun yang dialami oleh orang lain, baik kejadian yang bersifat individu yang dialami secara perseorangan ataupun kejadian yang dialami oleh satu komunitas. Allah swt. berfirman:

 

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (137) هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138)

Terjemah:

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah; karena itu berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (pesan-pesan Allah). Ini adalah penjelasan bagi seluruh manusia, petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang bertakwa”.

(QS Ali Imran: 137-138)

 

Dalam ayat di atas, setelah Allah swt. menegaskan sunnah dalam arti hukum kemasyarakatan yang telah terjadi pada orang-orang yang terdahulu, Allah swt. kemudian memerintahkan kepada manusia melalui Rasul-Nya untuk mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan kesudahan orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Allah swt.

Sejarah telah banyak menceritakan betapa banyak orang atau kaum yang pada awalnya mendapatkan kejayaan, namun kemudian mengalami kejatuhan dan keruntuhan setelah meninggalkan tuntunan Allah swt dan mengabaikan hak-hak orang lain.

Semoga masa lalu bisa dijadikan sebagai peringatan dan pertunjuk sehingga masa sekarang bisa lebih baik daripada masa lalu dan masa depan bisa lebih baik lagi daripada masa sekarang.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus

HIKMAH KESEPULUH : KEPERCAYAAN (21/04/2018)

 

Kepercayaan adalah dasar dari setiap interaksi yang melibatkan dua orang. Hubungan pemimpin dengan rakyat, atasan dengan bawahan, orang tua dengan anak, suami dengan istri, begitu pula antar sahabat, semuanya membutuhkan saling kepercayaan. Ketika kepercayaan di antara keduanya sudah tidak ada, maka hubungan itu tidak akan pernah lagi harmonis. Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan dengan siapapun yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepadamu.

 

 

Ketika ingin bepergian meninggalkan rumah dan menitipkan suatu barang, kepada siapakah anda akan menitipkannya?

 

Kepada seseorang yang punya hubungan keluarga?

Kepada teman sekerja?

Kepada tetangga yang paling dekat rumahnya?

Atau kepada seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaga titipannya, sekalipun tidak ada hubungan keluarga, bukan teman kerja dan bukan pula tetangga dekat?

 

Saya yakin bahwa barang berharga yang anda miliki hanya akan dititipkan kepada orang yang bisa dipercaya. Bukan hanya barang, tetapi amanah dalam bentuk yang lainnya seyogyanya hanya diserahkan kepada orang yang bisa menjaganya.

Allah swt. memerintahkan di dalam al-Qur’an:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Terjemah:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah Maha mendengar dan Maha melihat

(QS an-Nisa: 58)

 

Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan. Kepercayaan adalah dasar dari setiap interaksi yang melibatkan dua pihak atau lebih.

Hubungan antara pemimpin dengan rakyat, atasan dengan bawahan, orang tua dengan anak, suami dengan istri, begitu pula antar sahabat, semuanya membutuhkan kepercayaan. Apabila kedua orang atau kedua pihak saling mempercayai, maka hubungan keduanya akan berjalan dengan harmonis.

Kepercayaan adalah ikatan yang menguatkan hubungan di antara kedua pihak. Selama masih ada kepercayaan, maka masalah apapun yang dihadapi oleh kedua pihak, akan bisa diselesaikan. 

 Namun ketika kepercayaan di antara keduanya sudah tidak ada, maka hubungan itu tidak akan pernah lagi harmonis. Masalah sekecil apapun tidak akan bisa diselesaikan, karena diliputi oleh kecurigaan. Sebaliknya, masalah kecil akan semakin membesar.

Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan apapun  dengan siapapun yang tidak bisa memberikan kepercayaan. Maka berikanlah kepercayaan kepada orang yang berinteraksi denganmu dan berusahalah untuk menjadi orang yang bisa dipercaya.

 

 

DR.H.Syahrir Nuhun, Lc, M.THi

 


Salam
Pengurus

HIKMAH KESEPULUH : KEPERCAYAAN (21/04/2018)

Kepercayaan adalah dasar dari setiap interaksi yang melibatkan dua orang. Hubungan pemimpin dengan rakyat, atasan dengan bawahan, orang tua dengan anak, suami dengan istri, begitu pula antar sahabat, semuanya membutuhkan saling kepercayaan. Ketika kepercayaan di antara keduanya sudah tidak ada, maka hubungan itu tidak akan pernah lagi harmonis. Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan dengan siapapun yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepadamu.

 

 

Ketika ingin bepergian meninggalkan rumah dan menitipkan suatu barang, kepada siapakah anda akan menitipkannya?

 

Kepada seseorang yang punya hubungan keluarga?

Kepada teman sekerja?

Kepada tetangga yang paling dekat rumahnya?

Atau kepada seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaga titipannya, sekalipun tidak ada hubungan keluarga, bukan teman kerja dan bukan pula tetangga dekat?

 

Saya yakin bahwa barang berharga yang anda miliki hanya akan dititipkan kepada orang yang bisa dipercaya. Bukan hanya barang, tetapi amanah dalam bentuk yang lainnya seyogyanya hanya diserahkan kepada orang yang bisa menjaganya.

Allah swt. memerintahkan di dalam al-Qur’an:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Terjemah:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kalian menetapkan hokum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah Maha mendengar dan Maha melihat

(QS an-Nisa: 58)

 

Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan. Kepercayaan adalah dasar dari setiap interaksi yang melibatkan dua pihak atau lebih.

Hubungan antara pemimpin dengan rakyat, atasan dengan bawahan, orang tua dengan anak, suami dengan istri, begitu pula antar sahabat, semuanya membutuhkan kepercayaan. Apabila kedua orang atau kedua pihak saling mempercayai, maka hubungan keduanya akan berjalan dengan harmonis.

Kepercayaan adalah ikatan yang menguatkan hubungan di antara kedua pihak. Selama masih ada kepercayaan, maka masalah apapun yang dihadapi oleh kedua pihak, akan bisa diselesaikan. 

 Namun ketika kepercayaan di antara keduanya sudah tidak ada, maka hubungan itu tidak akan pernah lagi harmonis. Masalah sekecil apapun tidak akan bisa diselesaikan, karena diliputi oleh kecurigaan. Sebaliknya, masalah kecil akan semakin membesar.

Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan apapun  dengan siapapun yang tidak bisa memberikan kepercayaan. Maka berikanlah kepercayaan kepada orang yang berinteraksi denganmu dan berusahalah untuk menjadi orang yang bisa dipercaya.

 

 

DR.H.Syahrir Nuhun, Lc, M.THi

 


Salam
Pengurus

Hikmah Kesembilan : Menunaikan Kewajiban (13/04/2018)

  Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Dalam setiap interaksi yang melibatkan dua pihak, apapun bentuknya, akan selalu meniscayakan adanya kewajiban dan hak. Tunaikanlah kewajiban seikhlas mungkin, tanpa mengharapkan pemenuhan hak secara berlebihan. Yakinlah! Kalau kewajiban sudah ditunaikan, maka Allah pasti akan memenuhi hak. Kalau tidak diperoleh dari orang yang semestinya di tempat yang seharusnya, maka Allah akan memberinya melalui orang lain di tempat yang berbeda. Bahkan kalaupun tidak didapatkan di dunia, maka bersyukurah karena itu artinya Allah telah menginvestasikannya di akhirat dengan balasan yang pasti berlipat ganda. Allah tidak akan pernah menganiaya hamba-hamba-Nya.

 

Seberapa sungguh-sungguh anda berusaha menunaikan kewajiban?

Dan seberapa ngotot anda menuntut hak?

 

Dalam kehidupan manusia di dunia ini, interaksi dengan orang lain adalah suatu keniscayaan. Setiap interaksi yang melibatkan dua pihak, apapun bentuknya, interaksi antara pemimpin dengan rakyat, interaksi antara atasan dengan bawahan, interaksi antara tokoh agama dengan umat, interaksi antara pendidik dengan orang dididik, interaksi antara orang tua dengan anak, interaksi antara suami dengan istri, interaksi di antara dua sahabat, akan selalu melahirkan adanya kewajiban dan hak.

Penunaian kewajiban dengan tuntutan pemenuhan hak mesti diseimbangkan dalam setiap interaksi di antara dua pihak.  Keseimbangan antara pelaksanaan kewajiban dengan tuntutan pemenuhan hak dikemukakan dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Di antaranya Allah swt. berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Terjemah:

Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.

(QS al-Baqarah: 228).

 

Di dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan keseimbangan hak dengan kewajiban di antara suami istri. Keseimbangan akan menciptakan harmoni dalam rumah tangga. Sebaliknya, ketimpangan akan menimbulkan disharmoni dan konflik.

Dalam konteks hubungan yang harmonis antara pemimpin dengan rakyat, Rasulullah saw menjelaskan dalam hadis berikut:

 

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ »

 

Artinya:

Dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan kalian juga mencintai mereka, pemimpin yang mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Sejahat-jahat pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian, pemimpin yang kalian kutuk dan mereka mengutuk kalian.

(HR Muslim)

 

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. membandingkan dua jenis pemimpin, yaitu pemimpin yang baik dan pemimpin yang jahat. Kedua jenis pemimpin tersebut bisa dibedakan berdasarkan interaksinya dengan masyarakat yang dipimpin.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyat. Kecintaan pemimpin kepada rakyatnya, tentunya akan menumbuhkan cinta rakyat kepada pemimpinnya. Pemimpin yang baik juga adalah pemimpin yang mendoakan kebaikan untuk rakyatnya. Ketulusan seorang pemimpin dalam mendoakan kebaikan untuk rakyatnya, tentunya akan mendorong rakyatnya untuk juga mendoakan kebaikan untuk pemimpinnya.

Sebaliknya, pemimpin yang jahat adalah pemimpin yang membenci rakyatnya Kebencian seorang pemimpin kepada rakyatnya akan menumbuhkan kebencian di hati rakyat kepada pemimpinnya. Pemimpin yang jahat juga adalah pemimpin yang terbiasa mengutuk rakyatnya dan mempersalahkan mereka. Kutukan yang dengan mudah keluar dari lisan seorang pemimpin akan menyebabkan rakyat membalas untuk mengutuk mereka. 

Menyeimbangkan antara pelaksanaan kewajiban dengan tuntutan pemenuhan hak adalah sikap yang bijaksana. Jangan sampai yang terjadi adalah tuntutan pemenuhan hak secara belebihan dengan mengeyampingkan pelaksanaan kewajiban. Bahkan akan sangat terpuji apabila seseorang melaksanakan kewajiban dengan seikhlas mungkin, tanpa mengharapkan pemenuhan hak secara berlebihan.

Kalau seseorang sudah menunaikan kewajibannya, maka Allah pasti akan memenuhi hak-haknya dengan cara yang terkadang tidak biasa. Ada yang mendapatkan haknya dari tempat yang semestinya menurut ukuran manusia, namun adapula yang memperolehnya dengan cara yang tidak disadarinya. Terkadang Allah memberikan hak kepada seseorang melalui orang lain di tempat yang berbeda.

Boleh jadi, ada seseorang bekerja keras di suatu tempat dengan mengerahkan upaya yang maksimal, namun mendapatkan imbalan yang tidak seimbang, namun di kali lain ia berkerja di tempat yang berbeda dan malah mendapatkan imbalan yang jauh lebih besar melebihi harapannya. 

Bahkan kalaupun hak tidak didapatkan di dunia, maka tetaplah bersyukur karena itu artinya Allah telah menangguhkan imbalan di dunia dan menginvestasikannya di akhirat dengan balasan yang berlipat ganda.

Yakinlah! Allah tidak akan pernah menganiaya hamba-hamba-Nya.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus

HIKMAH KEDELAPAN : MENEPATI JANJI (09/04/2018)

 

Orang yang selalu menepati janji akan mendapatkan kepercayaan, persahabatan, cinta dan kehormatan. Sementara orang yang sering mengingkari janjinya akan kehilangan semuanya.

 

Kesan apa yang anda rasakan ketika ada seseorang yang berkali-kali berjanji, namun seringkali mengingkarinya?

Perasaan jengkel, kesal dan marah. Mungkin itulah yang anda rasakan.

 

Begitulah pentingnya menepati janji. Integritas seseorang, salah satunya diukur dari kesungguhannya untuk menepati janji. Orang yang selalu berusaha untuk menepati janjinya akan mendapatkan kepercayaan, persahabatan, cinta dan kehormatan. Sementara orang yang tidak menepati janji akan kehilangan semuanya.

Dalam agama, seseorang yang apabila berjanji kemudian mengingkarinya dipandang sebagai orang yang memiliki ciri-ciri kemunafikan.

Rasulullah saw. bersabda:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila ia bicara, ia dusta, apabila ia berjanji ia mengingkari dan apabila diberi amanah ia mengkhianatinya.

(HR al-Bukhari)

 

            Ada banyak faktor yang bisa menjadikan seseorang sering mengingkari janji. Di antaranya menganggap sepele sebuah janji. Pada dasarnya sebuah janji adalah komitmen diri dan salah satu ukuran kepribadian seseorang, maka tidak seharusnya janji disepelekan.

            Penyebab lainnya adalah karena tidak mengukur kemampuan diri ketika berjanji. Sikap seperti ini seringkali terjadi ketika seseorang hanya mencari jalan pintas untuk meraih sebuah keinginan atau mendapatkan sesuatu dari orang lain.

Misalnya saja, ketika ada yang ingin berhutang dan mendapatkan pinjaman dari orang lain, maka dengan mudahnya dia berjanji akan mengembalikannya pada waktu tertentu tanpa mengukur kemampuannya, karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan pinjaman.

            Begitu pula adanya, ketika ada seseorang yang mencalonkan diri menjadi pejabat, maka demi mendapatkan jabatan tersebut, dengan mudahnya ia menjanjikan sesuatu kepada siapapun yang diharapkan bisa memuluskan keadaannya.

            Jangan terlalu mudah berjanji dan jangan terlalu sering berjanji. Pikirkan sebelumnya dengan seksama. Ukur dulu kemampuan diri. Setelah yakin atau menduga kuat akan bisa menunaikannya, maka silahkan berjanji.

Jangan lupa ketika berjanji untuk mengembalikannya kepada Allah swt. dengan ucapan ‘insyaallah’ karena manusia hanya bisa merencanakan dan mengupayakan, tetapi hanya Allah yang kuasa mewujudkannya. 

 

Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus

HIKMAH KEDELAPAN : MENEPATI JANJI (09/04/2018)

Orang yang selalu menepati janji akan mendapatkan kepercayaan, persahabatan, cinta dan kehormatan. Sementara orang yang sering mengingkari janjinya akan kehilangan semuanya.

 

Kesan apa yang anda rasakan ketika ada seseorang yang berkali-kali berjanji, namun seringkali mengingkarinya?

Perasaan jengkel, kesal dan marah. Mungkin itulah yang anda rasakan.

 

Begitulah pentingnya menepati janji. Integritas seseorang, salah satunya diukur dari kesungguhannya untuk menepati janji. Orang yang selalu berusaha untuk menepati janjinya akan mendapatkan kepercayaan, persahabatan, cinta dan kehormatan. Sementara orang yang tidak menepati janji akan kehilangan semuanya.

Dalam agama, seseorang yang apabila berjanji kemudian mengingkarinya dipandang sebagai orang yang memiliki ciri-ciri kemunafikan.

Rasulullah saw. bersabda:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila ia bicara, ia dusta, apabila ia berjanji ia mengingkari dan apabila diberi amanah ia mengkhianatinya.

(HR al-Bukhari)

 

            Ada banyak faktor yang bisa menjadikan seseorang sering mengingkari janji. Di antaranya menganggap sepele sebuah janji. Pada dasarnya sebuah janji adalah komitmen diri dan salah satu ukuran kepribadian seseorang, maka tidak seharusnya janji disepelekan.

            Penyebab lainnya adalah karena tidak mengukur kemampuan diri ketika berjanji. Sikap seperti ini seringkali terjadi ketika seseorang hanya mencari jalan pintas untuk meraih sebuah keinginan atau mendapatkan sesuatu dari orang lain.

Misalnya saja, ketika ada yang ingin berhutang dan mendapatkan pinjaman dari orang lain, maka dengan mudahnya dia berjanji akan mengembalikannya pada waktu tertentu tanpa mengukur kemampuannya, karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan pinjaman.

            Begitu pula adanya, ketika ada seseorang yang mencalonkan diri menjadi pejabat, maka demi mendapatkan jabatan tersebut, dengan mudahnya ia menjanjikan sesuatu kepada siapapun yang diharapkan bisa memuluskan keadaannya.

            Jangan terlalu mudah berjanji dan jangan terlalu sering berjanji. Pikirkan sebelumnya dengan seksama. Ukur dulu kemampuan diri. Setelah yakin atau menduga kuat akan bisa menunaikannya, maka silahkan berjanji.

Jangan lupa ketika berjanji untuk mengembalikannya kepada Allah swt. dengan ucapan ‘insyaallah’ karena manusia hanya bisa merencanakan dan mengupayakan, tetapi hanya Allah yang kuasa mewujudkannya. 

 

Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc. M.THI

 


Salam
Pengurus

HIKMAH KETUJUH : KETEGARAN SEORANG PANUTAN (03/04/2018)

Dalam keadaan bagaimanapun, seorang panutan harus selalu menjadi teladan dan memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang lain. Sesekali ia boleh gelisah, tetapi jangan pernah terlihat lemah dan putus asa. Kelemahan seorang panutan akan menularkan perasaan ketidak berdayaan kepada orang yang meneladaninya. Berusahalah untuk tetap kuat dan menguatkan.

 

Seberapa sering anda memotivasi orang lain?

 

Lalu seberapa sering anda menguatkan diri sendiri?

 

Ketika ada seseorang mengalami satu permasalahan hidup yang berat sehingga ia membutuhkan nasehat, semangat dan motivasi untuk menguatkannya, maka akan banyak orang yang bisa melakukannya. Namun ketika seseorang ingin menguatkan dirinya sendiri, maka itu tidaklah mudah untuk dilakukan

Menasehati orang lain tidaklah sulit, yang sulit adalah menasehati diri sendiri. Menyemangati oang lain tidaklah susah, yang susah adalah menyemangati diri sendiri. Menguatkan orang lain tidaklah berat, yang berat adalah menguatkan diri sendiri.

Ketika ada seseorang yang begitu dibutuhkan oleh orang lain, apalagi jika banyak orang yang bergantung kepadanya, membutuhkan dukungannya dalam bentuk apapun, moril, materil, keteladanan dan lainnya, maka seringkali ia harus belajar untuk ‘menyembunyikan keadaan’-nya yang sesungguhnya dan menampakkan apa yang berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

Seorang pemimpin tidak boleh memperlihatkan kepanikannya di hadapan rakyatnya, sesulit apapun krisis yang dihadapi. Seorang panglima perang tidak boleh menampakkan rasa gentar terhadap musuh di hadapan para prajuritnya karena itu akan meruntuhkan mental mereka.

Orang tua yang bijaksana tidak akan mengeluhkan kesulitan yang mereka alami kepada anak-anaknya. Mereka akan selalu tersenyum untuk menyembunyikan kegetiran hidupnya.

Sebagai seorang manusia, siapapun orangnya akan pernah mengalami masalah dalam kehidupannya. Oleh karena itu, sesekali ia boleh gelisah, tetapi jangan pernah terlihat lemah dan putus asa. Kelemahan seorang panutan akan menularkan perasaan ketidak berdayaan kepada orang yang meneladaninya.

Ketika ingin mengeluh dan mengadu, sampaikanlah keluhan dan pengaduan tersebut kepada Allah swt. Nabi saw. pun pernah mengeluh kepada Allah swt. Dalam perjalanan pulang dari Taif menuju ke Makkah, ketika dakwah beliau ditolak oleh penduduk Taif, bahkan beliau dihina, dilempari dengan batu sehingga kaki beliau mengucurkan darah dan diusir dari Taif. Beliau kemudian menyampaikan keluhannya kepada Allah swt. dengan berkata:

 

اللهم إني أشكو إليك ضعف قوتي وهواني على الناس،أرحم الراحمين أنت أرحم الراحمين إلى من تكلني إلى عدو يتجهمني أم إلى قريب ملكته أمري،إن لم تكن غضبان علي فلا أبالي،غير أن عافيتك أوسع لي،أعوذ بوجهك الذي أشرقت له الظلمات وصلح عليه أمر الدنيا والآخرة أن ينزل بي غضبك أو يحل بي سخطك،لك العتبى حتى ترضى ولا حول ولا قوة إلا بالله.

Artinya:

Ya Allah! Sesungguhnya aku mengadukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku dan kehinaanku atas manusia. Wahai yang paling Pengasih di antara yang Pengasih. Engkau yang Paling Pengasih di antara yang Pengasih. Kepada siapa Engkau akan menyerahkanku? Kepada musuh yang akan menyerangku? Atau kepada kerabat yang Engkau berikan kuasa kepadanya atasku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka saya tidak peduli. Hanya saja ‘afiyatmu lebih luas untukku. Saya berlindung dengan wajah-Mu yang telah menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat dari turunnya marah-Mu kepadaku atau murka-Mu yang menimpaku. Bagi-Mu hak sampai Engkau ridha. Tidak ada kekuatan yang menolak keburukan dan tidak ada kekuatan yang mendatangkan kebaikan kecuali dengan izin Allah swt.

(HR al-Tabrani)

 

Dalam keadaan bagaimanapun, seorang panutan harus selalu menjadi teladan dan memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang lain serta berusaha untuk tetap terlihat tegar, kuat dan menguatkan.

 

Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus

HIKMAH KEENAM : KELEMBUTAN (20/03/2018)

Kelembutan bukanlah tanda kelemahan diri, tetapi dia adalah magnet yang sanggup menarik orang banyak untuk berada di sekelilingmu. Sikap kasar bukanlah tanda kekuatan, tetapi justru merupakan tanda ketidakberdayaan dan kelemahan diri yang akan menjauhkanmu dari orang lain. Anda bisa dengan mudah menguasai fisik seseorang dengan paksaan dan tekanan, tetapi sampai kapanpun anda tidak akan pernah bisa memiliki hatinya.

 

Perang Uhud adalah perang yang mendatangkan kepiluan di hati Rasulullah saw dan kaum muslimin. Dalam peperangan tersebut kaum muslimin mengalami kekalahan. Tujuh puluh sahabat Rasulullah saw. gugur di medan peperangan Nabi saw sendiri juga terluka, gigi beliau tanggal dan wajahnya berlumuran darah. Nabi saw bahkan diberitakan wafat. Banyak sahabat yang melarikan diri dari medan peperangan, sehingga yang tersisa dan bertahan hanya sekitar sepuluh sampai tiga puluh orang. Mereka meninggalkan Nabi saw. di medan peperangan.

Bagi orang biasa, kondisi tersebut tentulah akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam di hati dan akan menjadi sesuatu yang wajar apabila kemudian memberikan reaksi yang keras.

Namun Rasulullah saw. bukanlah orang biasa. Beliau adalah seorang nabi yang diliputi dengan rahmat Allah swt. Dengan rahmat itulah, Nabi saw tetap bersikap lemah lembut terhadap mereka. Hal ini digambarkan oleh Allah swt. dalam ayat berikut: 

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 

Terjemah:

Maka disebabkan kasih sayang dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah dan mohonkanlah ampunan untuk mereka dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang bertawakkal.

(QS Ali Imran: 159).

 

Kelembutan adalah magnet yang bisa menarik banyak orang untuk mendekat. Suami yang lembut dan romantis akan lebih dihormati istrinya daripada suami yang kasar dan sering memarahi. Orang tua yang lembut dan senang memuji akan lebih disayangi anak-anaknya daripada orang tua yang kasar dan suka membentak. Seorang pendidik yang lembut dan memotivasi akan lebih menarik bagi anak didiknya daripada pendidik yang kasar dan suka menghukum. Seorang muballigh yang lembut dan santun akan lebih didengar jamaahnya daripada muballigh yang kasar dan suka menghujat. Seorang pemimpin yang lembut dan selalu merangkul akan lebih ditaati daripada pemimpin yang kasar dan senang memukul. Pendeknya kelembutan adalah hiasan yang akan memperindah pemiliknya.

Kelembutan bukan berarti kelemahan dan ketidaktegasan, karena lawan dari kelembutan bukanlah ketegasan tetapi kekasaran, sementara lawan dari ketegasan adalah sikap plin plan dan tidak konsisten. Bukankah ada orang yang tegas tapi kasar dalam perangai dan tutur katanya. Sebaliknya ada orang yang lembut dalam penyampaiannya, tetapi tegas dalam prinsifnya.

Sikap kasar dan tindakan yang mengintimidasi boleh jadi akan membuat orang lain merasa lemah dan tunduk, tetapi sesungguhnya ketundukannya adalah ketundukan semu. Fisiknya bisa saja dikuasai dan tubuhnya boleh jadi terpenjara, tetapi hatinya tidak akan pernah bisa dimiliki.

Mari kita merenungkan perintah Allah swt. kepada nabi Musa as dan Harun as. Berikut ini:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى.  فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Terjemah:

Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, lalu ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang lembut semoga dia mengambil pelajaran atau merasa takut (kepada Allah).

(QS Taha: 43-44)

 

Subhanallah! Ingatlah selalu ayat ini ketika hendak menasehati orang lain Kalau manusia sebaik nabi Musa as dan Harun as ketika hendak menasehati manusia seperti Fir’aun yang sudah sangat melampaui batas, masih diperintahkan oleh Allah swt untuk menyampaikan perkataan yang lembut, lalu bagaimana dengan orang yang belum sebaik nabi Musa as dan Harun as yang hendak menasehati orang yang belum sejahat Fir’aun? Bukankah perkataannya mestinya jauh lebih lembut? Renungkanlah!

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI

 


Salam
Pengurus

Hikmah kelima : Tingkat Ketakwaan (15/03/2018)

Kemampuan mengendalikan emosi dan menahan rasa marah adalah batas minimal dari sebuah ketaqwaan. Mencabut rasa jengkel dari dalam hati sampai ke akar-akarnya dan memaafkan kesalahan orang lain dengan sepenuh hati berada satu tingkat di atasnya. Namun puncak dari semuanya adalah ketulusan hati untuk membalas perlakuan buruk dengan sikap yang terbaik.

 

Di hadapan jamaah pengajian, saya pernah mengajukan satu pertanyaan sederhana. Pertanyaannya seperti ini; “Menurut bapak ibu, apakah indikator ketakwaan seseorang?”

           

Di antara jamaah ada yang menjawab; orang yang bertakwa adalah orang yang rajin shalat, bukan hanya shalat wajib, tetapi juga shalat sunnah, bahkan selalu mengupayakan untuk shalat berjamaah di awal waktu.

Ada juga yang menjawab bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang rajin membaca al-Qur’an, mempelajarinya, bahkan menghapalnya.

Ada juga yang menjawab bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang rajin pergi haji dan berkali-kali ‘umrah.

Ada juga yang menjawab bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang rajin berzikir. Lidahnya hampir tidak pernah berhenti melantunkan kalimat-kalimat thayyibah, bahkan di tangannya selalu terselip misbahah (alat penghitung tasbih).

Jawaban-jawaban yang dikemukakan di atas tentulah tidak salah. Semua jawaban tersebut benar, hanya saja belum mencerminkan ketakwaan secara utuh.

Ketakwaan sesungguhnya tidak hanya dinilai dan diukur dari kesalehan personal dalam kaitannya dengan ibadah mahdah seperti shalat, puasa, bacaan al-Quran, zikir dan semacamnya. Lebih dari itu, ketakwaan juga dinilai dan diukur dari kesalehan sosial dalam kaitannya hubungan dengan sesama manusia.

Begitu banyak al-Quran yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya adalah firman Allah swt dalam rangkaian ayat-ayat berikut ini:

 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)

Terjemah:

Dan bersegeralah kalian mencari ampunan dari tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

(QS Ali Imran: 133-135)

 

Rangkaian ayat di atas menguraikan 5 indikator ketakwaan, yaitu:

  1. Berinfak, baik dalam keadaan lapang atau kesusahan
  2. Mengendalikan emosi
  3. Memaafkan kesalahan orang
  4. Membalas keburukan dengan kebaikan
  5. Memohon pengampunan atas dosa-dosa yang dilakukan

 

Dari lima ciri yang dikemukakan di atas, empat ciri yang pertama semuanya berkaitan dengan kesalehan sosial dalam arti hubungan dengan sesama manusia dan hanya ciri yang kelima saja yang berkaitan dengan kesalehan personal dalam arti hubungan dengan Allah swt.

            Selain itu, ciri yang kedua sampai keempat juga berkaitan dengan reaksi yang ditunjukkan terhadap sikap orang lain. Hal ini juga sekaligus menunjukkan level ketakwaan seseorang.

            Level ketakwaan bisa diukur dari reaksi yang ditunjukkan ketika diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh orang lain. Bagi yang mempunyai level ketakwaan yang paling rendah, dia akan berusaha untuk mengendalikan emosi dan menahan amarahnya.

            Sementara bagi yang lebih tinggi lagi level ketakwaannya, dia tidak akan sebatas menahan amarah, tetapi juga berusaha memaafkan. Bukankah ada orang yang sanggup menahan marah, tetapi belum bisa memaafkan?

            Saya pernah mendengar ada orang yang berkata seperti ini: “Saya sudah didzalimi, tetapi saya tidak bisa membalas, saya bersabar saja dan berdo’a mudah-mudahan Allah swt. yang memberikan hukuman atas kedzalimannya”.

            Kalau seperti ini keadaannya, berarti baru sebatas mengendalikan emosi, tetapi belum bisa memaafkan. Orang yang memaafkan adalah mereka yang bisa mencabut rasa marah di dalam hatinya sampai ke akar-akarnya dan menghapusnya sehingga seakan-akan tidak pernah ada masalah sama sekali.

            Namun level ketakwaan yang paling tinggi adalah ketika mampu membalas keburukan tersebut dengan kebaikan. Inilah yang dinamakan dengan ihsan dan inilah yang paling disukai oleh Allah swt.

            Terus meneruslah berusaha meningkatkan level ketakwaan sampai mencapai puncaknya sehingga segala bentuk keburukan dari orang lain senantiasa bisa disikapi dengan kebaikan. 

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THI

 


Salam
Pengurus

HIKMAH KE EMPAT : KETELADANAN (05/03/2018)

Kesan apa yang anda rasakan ketika menjumpai seseorang yang menyuruh orang lain melakukan sesuatu perbuatan atau meninggalkan suatu perbuatan, tetapi dia sendiri tidak mencontohkannya?

 

Boleh jadi anda merasa dongkol, lalu kehilangan rasa hormat terhadap yang bersangkutan.

 

Jawaban anda sesungguhnya menunjukkan betapa pentingnya keteladanan. Sebatas mengajarkan sesuatu kepada orang lain tanpa menunjukkan keteladanan hanya akan memberikan bekas dalam pikirannya akan tetapi tidak akan memberikan pengaruh positif di dalam hatinya.

Keteladanan dibutuhkan di semua tempat, di rumah, di lembaga pendidikan formal maupun non formal apalagi di lingkungan masyarakat

Dalam keluarga, orang tua mesti memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Anak ibarat kertas putih, yang bisa ditulisi dengan tulisan apa saja. Peran orangtua sangatlah vital karena melalui orang tualah, anak akan menjadi manusia yang baik atau tidak. Satu hal yang sangat penting adalah keteladanan dalam melakukan hal-hal yang terpuji. Inilah yang harus dilakukan orangtua. Bukan hanya memerintah dan menyalahkan, tapi yang lebih penting adalah memberikan contoh kongkret.

Rasulullah SAW, sebagai teladan paripurna, telah memberikan tuntunan bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak. Bahkan jauh sebelum Rasulullah saw, nabi Ibrahim as juga telah menunjukkan hal tersebut.

Mari kita simak doa Nabi Ibrahim as berikut ini:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

Terjemah:

Tuhan jadikanlah saya orang mendirikan shalat dan (begitu pula) anak keturunanku. Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Maha menerima doa.

(QS Ibrahim: 40)

 

Menyimak doa Nabi Ibrahim as di atas, kita bisa melihat bahwasanya nabi Ibrahim as terlebih dahulu meminta kepada Allah swt. untuk dijadikan sebagai orang yang mendirikan shalat sebelum meminta anugerah yang sama untuk anak keturunannya.

            Terkadang ada orang tua yang menegur anaknya dengan keras ketika menemukan anaknya asyik menonton televisi atau bermain game dan menyuruh anaknya untuk segera ke masjid pergi shalat, tetapi yang terjadi kemudian malah dia sendiri yang asyik nonton televisi.

            Ada juga orang tua yang rajin menasehati anaknya untuk selalu berbicara yang santun dan tidak berkata-kata kasar, sementara dia sendiri terlampau sering berkata-kata kasar kepada pasangan hidupnya di hadapan anak-anaknya.

Seorang tokoh agama, penyampai pesan-pesan ilahi, sudah selayaknya menghiasi diri dengan keteladanan. Seindah apapun retorika yang disampaikan, sekuat apapun hujjah yang dikemukakan, namun apabila tidak disertai dengan keteladanan, maka hanya akan menjadi cibiran di kalangan umat. Oleh karena itu, Allah swt mencela dengan keras seseorang yang mengucapkan apa yang ia tidak lakukan dan menilainya sebagai keburukan yang besar di sisi-Nya.

Seorang pemimpin masyarakat juga harus bisa memberikan keteladanan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Tanpa keteladanan, maka ia akan kehilangan rasa hormat dari masyarakatnya.

Masyarakat akan lebih bisa menerima kondisi susah yang disampaikan dengan penuh kejujuran dibandingkan dengan kesenangan semu yang disampaikan dengan kebohongan.

Bagaimanapun juga, tidak ada yang lebih besar pengaruhnya untuk mengubah orang lain dibandingkan dengan keteladanan. 

 

(Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc, MTHI)

 

Pengasuh rubrik Tanya Ustadz

 

 


Salam
Pengurus

24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun (28-02-2018)

Seringkali ada rasa keingintahuan bagaimana cara orang-orang besar mengatur waktu dan pekerjaannya. Orang-orang besar maksudnya adalah orang-orang yang diberi amanah besar. Orang-orang yang secara sosial menempati piramida puncak dalam masyarakat. Beberapa diantaranya, Presiden, Menteri, Direktur BUMN, direktur perusahaan, Gubernur, Bupati dan seterusnya. Terlepas dari bagaimana hasil akhir dari kepemimpinan mereka, satu hal yang sama adalah bahwa mereka telah melakukan hal yang lebih banyak daripada yang dilakukan orang kebanyakan.  Tentu dengan jumlah waktu yang sama yang diberikan Tuhan. Yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 hari setahun.

Pak Jokowi misalnya, dengan waktu yang dimiliki, bisa menyelesaikan banyak hal secara efektif dan kelihatan hasilnya. Jokowi keliling Indonesia blusukan, memantau kinerja para menteri, gubernur, dan bupati untuk memastikan bahwa langkah-langkah dan keputusan mereka terkoordinir efektif sesuai visi dan misi pemerintahan. Sambil menjalankan itu, Jokowi masih mampu menghadapi para pengganggunya, membuat strategi politik agar pemerintahan tetap stabil dan tujuan tercapai. Coba perhatikan, menangani Freeport saja sudah bisa dibayangkan beratnya persoalan, banyaknya kepentingan dan pihak-pihak terkait harus dihadapi. Bukan hanya dalam negeri, semisal masyarakat sekitar, Pemda, Aparat, para Petualang Politik dan Bisnis, tapi juga serta luar negeri yang berseberangan kepentingan dengan pemerintah. Semua itu harus dilakukan dan diselesaikan dengan modal yang sama yaitu 24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun

Menangani masalah-masalah baik rutin semacam rapat kabinet, rapat koordinasi gubernur bupati maupun masalah-masalah insidental seperti kebakaran hutan, hubungan negara sahabat, aktivitas mewakili kepala negara dll. Mengatur strategi menempatkan orang-orangnya guna mengendalikan pergerakan politik di Indonesia, bahkan masih sempat untuk kumpul keluarga, menemani cucunya jalan-jalan ke Mall dan lain-lain, dan seterusnya. Dengan jumlah waktu yang sama, Beliau sudah melakukan banyak hal yang tidak (bisa) dilakukan oleh orang kebanyakan. Demikian pada berbagai level dibawahnya, semua orang akan memanfaatkan modal waktu dari Tuhan untuk melakukan berbagai aktivitas yang diembannya. Modalnya sama, 24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun.

Kalau bisa disimpulkan, masing-masing orang punya Modal yang sama namun bisa menghasilkan Output tak terbatas. Ibaratnya, sama-sama punya modal (uang) Rp. 1000,-. Dengan modal tersebut, ada yang bisa memperoleh segalanya, kesejahteraan, rumah, mobil, kesehatan, persahabatan, kebahagiaan, keliling dunia, dan segala macam yang diperlukan sebagai hasil dari kemampuan mengelola modal yang dimiliki. Di lain pihak, dengan modal yang sama, ada yang hanya bisa membeli sekedar kebutuhan makan. Bahkan lebih celaka lagi ada yang menyia-nyiakan modalnya berlalu tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan. Itulah Modal kita semua 24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun.

Masuk kategori dimanakah kita ? Sungguh, Demi Masa. Semua orang berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh. Saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran (Al Ashr 1 – 4).

 

 

Mukhammad Idrus,

Dosen UNM Makassar


Salam
Pengurus

Memaknai Al Fatihah (26/02/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Setiap shalat kita wajib membaca Surat Al Fatihah. Tentu kita perlu menggali spirit dari Al Fatihah ini agar tidak hanya jadi ritual tapi juga mendapatkan spiritnya.

Jangan sampai karena seringnya dibaca maka sudah hafal luar kepala dan bisa dibaca dengan sangat cepat. Karena begitu cepatnya maka hanya mulut yang membaca namun hati tidak memberi makna. Padahal surat Al Fatihah maknanya demikian tinggi dan sempurna. Berisi pujian dan do’a kepada Allah. Jika memuji dan berdo’a hanya di mulut saja tanpa kehadiran hati maka besar kemungkinan Allah tidak akan menerima dan mengabulkannya. Untuk itu mari memaknai bacaan Al Fatihah ayat demi ayat.

Saat membaca “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” maka itu bermakna segala perbuatan diawali dengan nama Allah. Artinya melibatkan Allah dalam segala aktivitas sehingga bertekad untuk melaksanakan yang benar dengan benar.

Saat membaca “segala puji hanya untuk Allah Tuhan semesta alam” maka maknai dan sadarilah bahwa segala nikmat yang kita miliki sehingga manusia memuji kita semuanya berasal dari Allah. Harta, tahta, ilmu, dan kelebihan lain yang dimiliki semua titipan dari Allah dan hanya Allah yang berhak untuk dipuji. Manusia hanya menerima titipan dan amanah untuk menggunakan titipan tersebut agar memberi manfaat sebesar-besarnya.

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” bahwa sungguh demikian besar cinta dan sayangnya Allah kepada hamba-Nya maka diberikanlah nikmat yang sangat banyak yang tak terhingga jumlahnya.

“Yang Menguasai hari pembalasan”  bahwa akan tiba masa segalanya dipertanggungjawabkan di depan mahkamah Sang Maha Adil. Segala amanah yang telah Allah berikan berupa waktu, kesehatan, harta, jabatan, keluarga dan sebagainya akan ditanya oleh Allah penggunaannya selama di dunia. Tidak akan ada yang lolos dari hari tersebut  karena Allah memiliki bukti dan rekaman yang lengkap.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. Bermakna segala aktivitas kehidupan kita sebagai bentuk ibadah atau penyembahan kepada Allah. Aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan semua hendaknya bernilai ibadah. Dalam menjalani kehidupan tentu ada masalah. Allah tempat berdo’a memohon pertolongan disertai dengan usaha maksimal melakukan pemecahan masalah.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus” bermakna dalam menjalani kehidupan ini kita bertekad untuk berada di jalan yang lurus. Menjauhkan diri dari pelanggaran. Menggapai target dengan cara yang benar. Jauh dari perilaku menghalalkan segala cara.

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. Ada 3 golongan manusia dalam menjalani hidup ini yaitu : 1). mereka yang selalu di jalan yang salah; 2). Mereka yang pernah di jalan yang salah dan sekarang sudah kembali ke jalan yang benar. 3). Mereka yang selalu di jalan yang benar (istiqamah). Dengan do’a ini harapannya kita masuk dalam golongan yang ketiga yaitu orang yang istiqamah.

Ternyata Al Fatihah yang sering dibaca setiap hari memiliki makna yang luar biasa. Jika makna itu dapat dipahami, dihayati dan do’anya terkabul, Insya Allah hidup yang dijalani akan menggapai sukses dan bahagia. Amin.

 

Syamril, S.T, M.Pd

Penulis buku, 50 Jalan Kalla, Kerja Ibadah
 


Salam
Pengurus

Supra Rasional (09/02/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb

Seminar di Athirah Bone awal bulan Januari 2018 lalu yang diisi oleh Ust. Kamal Kepala AQL Makassar sungguh sangat menarik. Tema yang dibahas yaitu supra rasional. Ust. Kamal mengisahkan perjalanan hidupnya yang tidak masuk akal. Menjadi guru ngaji tanpa gaji. Berani menikah padahal tidak punya penghasilan yang jelas. Namun semua dilaluinya dan tetap bisa menghidupi istrinya. Sampai punya anak juga bisa aqiqah padahal anaknya 3 orang pertama lahir laki laki semua. Lebih mahal karena kambingnya dua ekor.

 

Sampai akhirnya Ust. Kamal hijrah ke Makassar dan membina Rumah Tahfizh Gratis. Ada santri 120 orang. Tinggal di kawasan elit Bukit Baruga. Biaya kontrak rumah saja bisa 100 an juta pertahun. Listrik dan air 20 an juta perbulan. Belum lagi makan dan minum, honor pengajar dan sebagainya. Bisa 100 an juta per bulan. Tidak mungkin mengandalkan gaji pribadi.

Dari mana semua biaya tersebut? Tetap dari sumbangan donatur cuma jalan mendapatkannya yang tidak umum. Tidak ada proposal dan iklan penggalangan dana. Ust. Kamal hanya menceritakan aktivitasnya. Akhirnya banyak orang yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu. 

Ada juga cari lain yaitu sedekah ilmu. Tiap hari santri beliau yang sudah remaja mengajar anak TK dan SD Athirah menghafal Al Qur'an dengan Metode Kaisa. Beliau tidak mau digaji. Alasannya "saya punya kebutuhan yang banyak. Maka saya ingin mengetuk pintu langit Allah yang Maha Kaya dengan cara santri saya mengajarkan Al Qur'an sebagai sedekah ilmu".

 Apa hasilnya? Semua kebutuhan santri terpenuhi dan datang saat dibutuhkan dari jalan yang tak pernah disangka-sangka. Suatu hari setelah isi pengajian tiba-tiba ada yang beri 20 juta dari orang yang tidak dikenal. Ternyata memang lagi ada kebutuhan sejumlah 20 juta untuk beli tempat tidur santri putra. Dana itu pun langsung dibawa ke toko meubel.

Itulah supra rasional. Didasari keyakinan bahwa semua rejeki dari Allah SWT. Bagi Allah tidak ada yang sulit. Allah dalam surat At Thalaq ayat 3 menjanjikan bagi orang yang bertakwa akan diberikan rejeki dari jalan yang tak terduga.

Pada sesi tanya jawab di seminar itu seorang santri bertanya apa amalan yang dilakukan Ust. Kamal sehingga mendapatkan rejeki yang supra rasional. Beliau pun menceritakan tentang Alm KH. Lanre Said pimpinan Pesantren Tuju-Tuju Bone yang menjadi gurunya. Pesantren ini dulu santrinya ribuan dan juga gratis. Pak Kiyai sangat yakin Allah akan memberi makan santrinya jika 3 syarat bisa dipenuhi. Apa syaratnya?

Pak Kiyai pernah berucap " selama saya masih mendahulukan kepentingan dakwah dan pesantren dari pada kepentingan pribadi, tidak melakukan dosa besar dan tidak pernah berbohong maka saya yakin rejeki kalian masih ada di sini". Demikianlah kehidupan beliau. Sangat sederhana. Rumah kecil seadanya. Semua pikiran dan usahanya untuk dakwah. Tidak pernah berpikir bisa dapat apa dengan posisinya sebagai Kiyai pesantren. Lalu tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak pernah berbohong. Dengan 3 amalan itu maka pak Kyai yakin Allah akan mengabulkan permohonannya dan memenuhi kebutuhannya.

Itulah yang juga dijaga dan diamalkan oleh Ust. Kamal. Meskipun donatur sudah banyak bahkan di kawasan Kayu Agung saja ada 3 rumah yang total harganya lebih dari 5 Milyar yang dititipkan kepadanya. Berarti orang sangat percaya padanya. Tapi hidupnya tetap sederhana. Tidak menggunakan kesempatan itu untuk kepentingan pribadi.

Apa mau juga mendapatkan rejeki supra rasional? Silakan amalkan 3 amalan tersebut. Selamat mencoba.

 

Penulis,

Syamril, S.T., M.Pd.

Direktur Sekolah Islam Athirah

 


Salam
Pengurus

HIKMAH KETIGA : KESABARAN (24/01/2018)

Sabar tidak ada batasnya, tapi kesabaran bisa bermetamorfosis dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sabar juga bukan kepasrahan mutlak tanpa usaha atau keterpaksaan, tetapi sabar adalah pilihan dan kesadaran aktif yang bersifat dinamis untuk meraih yang lebih baik. Jadi jangan pernah menyerah dan putus asa. Yakinlah! Untuk setiap satu kesulitan selalu disertai minimal dua kemudahan.

 

Apakah kesabaran ada batasnya?

Pertanyaan ini seringkali terdengar, terutama dari orang yang sudah merasa putus asa dengan usahanya. 

            Sebagian orang menyatakan bahwa kesabaran memang ada batasnya. Pernyataan tersebut bisa dinilai benar kalau dilihat dari segi kemampuan manusia yang tentu saja terbatas.

Meskipun demikian, Saya pribadi berpandangan bahwa kesabaran tidak mempunyai batas akhir, karena apabila kesabaran mempunyai batas, maka ketika melewati batas, itu artinya sudah tidak sabar lagi. Bagaimanapun juga kemampuan manusia untuk bertahan sampai pada puncak kesabaran, tentulah berbeda-beda.

Mari kita merenungi bersama firman Allah swt. berikut ini:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Terjemah:

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, serta tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapatkan keberuntungan.

(QS Ali Imran: 200)

 

Dalam ayat di atas, Allah swt. tidak hanya memerintahkan untuk bersabar, tetapi juga memerintahkan untuk mempertahankan dan menguatkan kesabaran.

            Secara bahasa, makna sabar berkisar pada tiga hal. Pertama, menahan; Kedua, ketinggian sesuatu; Ketiga, sejenis batu. Dari makna menahan lahirlah makna konsisten, karena seseorang yang bertahan akan menahan pandangannya pada satu sikap. Seseorang yang bersabar adalah orang yang mampu menahan gejolak hatinya.

Ketiga makna tersebut saling berkaitan karena seseorang yang bersabar akan menahan diri dan untuk itu dia memerlukan jiwa yang kokoh laksana batu sehingga dapat mencapai puncak yang tinggi.

Kesabaran terkadang disalahpahami. Di antara kesalahpahaman tentang kesabaran adalah ketika sabar diidentikkan dengan diam. Pada saat melihat seorang anak kecil yang pendiam, terkadang ada yang langsung berkomentar: “Sabarnya anak ini”.

Ingat orang yang sabar bukan orang yang pendiam.

Kesalahpahaman yang lain tentang kesabaran adalah kesabaran terkadang diidentikkan dengan kepasrahan tanpa usaha. Padahal kesabaran sejatinya adalah pengerahan usaha secara maksimal sampai mencapai atau mendekati puncaknya.

Kesabaran mempunyai beberapa dimensi, di antaranya;

  • Sabar melakukan ketaatan

Sabar dibutuhkan dalam melakukan ketaatan karena karena dalam ketaatan terdapat tantangan yang sangat besar, yaitu kejenuhan. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran untuk mengatasi kejenuhan.

  • Sabar menjauhi maksiat

Sabar dibutuhkan untuk menjauhi maksiat karena manusia mempunyai hawa nafsu yang cenderung mendorong kepada keburukan. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran untuk menghindari kemaksiatan

  • Sabar ketika ditimpa musibah.

Musibah, sedikit atau banyak tentulah akan menimbulkan goncangan dalam jiwa. Maka dibutuhkan kesabaran untuk mampu memikul musibah dan menahan goncangan.

Begitu pentingnya kesabaran sehingga perintah bersabar lebih didahulukan daripada perintah shalat pada ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Terjemah:

Wahai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan kepada Allah dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.

(QS al-Baqarah: 153)

 

Sebagian ulama membagi bentuk kesabaran menjadi dua macam, yaitu sabar jasmani dan sabar rohani. Sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh. Adapun sabar rohani yaitu kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan, seperti sabar menahan amarah.

Beberapa contoh bentuk kesabaran yang diabadikan di dalam al-Qur’an adalah:

  • Sabar terhadap orang yang berbeda keyakinan

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ ءَامَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Terjemah:

Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

(QS al-A’raf: 87)

 

  • Sabar terhadap orang yang berbeda pendapat

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Terjemah:

Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(QS al-Anfal: 46)

 

  • Sabar dalam menyuruh kepada kebaikan

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Terjemah:

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.

(Qs Thaha: 132)

 

  • Sabar ketika ditimpa musibah

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemah:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun".

(QS al-Baqarah: 155-156)

 

  • Sabar dengan tidak meladeni ucapan-ucapan yang tidak baik

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Terjemah:

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.

(Qs al-Muzammil: 10)

  • Sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ

Terjemah:

Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

(QS al-Baqarah: 177)

  • Sabar melaksanakan hukum-hukum Allah swt

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ ءَاثِمًا أَوْ كَفُورًا

Terjemah:

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.

(QS al-Insan: 24)

 

Bagi orang yang sabar akan mendapatkan banyak keutamaan, selain akan selalu bersama dengan Allah swt. sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat 153 surah al-Baqarah, juga akan mendapatkan keutamaan berikut:

  • Disempurnakan pahalanya

 

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Terjemah:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

(QS az-Zumar: 10)

 

  • Dilipatgandakan pahalanya

أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Terjemah:

Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.

(QS al-Qashash: 54)

  • Mendapatkan pertolongan Allah

بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ ءَالَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

Terjemah:

ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

(QS Ali Imran: 125)

 

Berikut ini beberapa kiat yang bisa dilakukan agar bisa bersabar:

  • Berdoa kepada Allah swt. agar dikaruniai kesabaran

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Terjemah:

Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

(Qs an-Nahl: 127)

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Terjemah:

"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir".

(QS al-Baqarah: 250)

 

  • Membiasakan diri untuk selalu bersama dengan orang lain

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Terjemah:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

(QS al-Kahfi: 28)

 

Mari kita menjadikan sabar sebagai wasiat di antara satu sama lain sebagaimana perintah Allah dalam ayat berikut:

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Terjemah:

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

(QS al-Balad: 17)

 

Penulis :

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc, MTHI

Pengasuh Rubrik tanya Ustadz

 

 


Salam
Pengurus

Jadilah STAF Jangan BOSS (10/01/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

 

Soekarno pernah berucap "berikan kepadaku 10 orang pemuda maka aku akan goncangkan dunia". Apakah Soekarno berhasil menggoncangkan dunia? Iya meskipun masih ada tokoh lain yang lebih berhasil. Siapakah tokoh yang berhasil menggoncangkan dunia sampai sekarang meskipun telah wafat 14 abad yang lalu?

Dialah Rasulullah Muhammad SAW. Michael M. Hart yang menulis buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia meletakkan namanya pada urutan pertama. Dia penulis non muslim. Tapi dengan jujur dia menyampaikan alasannya "Muhammadlah tokoh yang berhasil secara material dan spiritual dalam kepemimpinannya".

Apa kelebihan kepemimpinan Muhammad SAW? Beliau tidak hanya memimpin tapi juga melahirkan pemimpin. Di sekitarnya banyak anak muda yang berprestasi luar biasa meskipun hanya anak seorang budak. Bilal bin Rabbah budak hitam dari Afrika di akhir hayatnya adalah seorang Gubernur yang setara dengan Presiden di era sekarang. Ada Usamah bin Zaid yang di usia 17 tahun telah menjadi panglima perang melawan tentara Romawi. Masih banyak lagi contoh lainnya selain sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman dan Ali bin Abi Thalib.

Apa rahasia kepemimpinan Rasulullah? Apa karakter yang dibangun dari para kader dan pengikut setianya? Kata kuncinya adalah pemimpin yang berjiwa melayani bukan dilayani. Ada empat karakter kunci yang dapat disingkat dalam kata STAF yaitu Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah.

Shiddiq artinya benar yaitu akidahnya sesuai dengan Laa Ilaaha Illa Allah Muhammad Rasulullah. Aqidah tauhid berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah. Hasilnya yaitu benar dalam ucapan dan perbuatan. Sesuai kata dan tindakan. Itulah jujur dan berintegritas.

Tabligh artinya komunikatif yaitu mampu mendengar aspirasi rakyat. Memahami jalan pikiran, permasalahan dan harapan rakyat. Tidak hanya itu. Juga mampu menyampaikan visi dan gagasannya sehingga rakyat yakin dengan program yang direncanakan. Rakyat yakin dia dapat memenuhi janjinya.

Amanah artinya professional yaitu mampu melaksanakan tugas dengan baik. Jika dikaitkan dengan program kerja maka apa yang direncanakannya dapat diwujudkan. Taro ada taro gau. Pemimpin yang memiliki tim dengan kemampuan eksekusi yang baik.

Fathonah artinya cerdas yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, antisipatif perkembangan zaman. Masalah yang ada dapat dicari solusinya dengan pemikiran yang logis, sistematis dan jelas.

STAF ini juga relevan dengan kata staff di tempat kerja yang biasanya bertugas melayani costumer dengan baik. Jadi semangat pemimpin berjiwa STAF adalah melayani anggotanya bukan pemimpin yang mau dilayani saja.

Pemimpin yang hanya mau dilayani dinamakan boss. Karakternya pun ada 4 diambil dari kata BOSS yaitu Bohong, Omong kosong, Sombong dan Serakah. Mari hindari karakter ini apalagi sebagai pemimpin. Dua tahun ke depan bangsa Indonesia akan memilih pemimpin tingkat kabupaten, kota, provinsi dan negara. Semoga banyak terpilih pemimpin berkarakter STAF bukan BOSS.

 

Penulis,

Syamril, S.T., M.Pd

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

HIKMAH KEDUA : KEJUJURAN (08/01/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

 

Kejujuran

Kejujuran adalah pintu gerbang dari semua kebaikan. Sementara kebaikan adalah jalan menuju ketenangan hidup. Sebaliknya kebohongan akan mendatangkan kegelisahan jiwa dan menjerumuskan ke dalam perbuatan dosa. Berusahalah untuk selalu jujur dalam setiap perkataan dan perbuatan, meskipun akibatnya akan terasa sangat pahit. Jangan pernah mencoba untuk berbohong walau sekali, karena sekali engkau berbohong akan susah untuk melepaskan diri darinya. Satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang berikutnya untuk menutupi kebohongan yang pertama

 

Suatu ketika, saya bertanya kepada sekelompok anak-anak muda; “Apabila kelak kalian dihadapkan pada pilihan ketika hendak memilih jodoh antara pasangan hidup yang kaya, gagah, cerdas dan mapan dalam pekerjaannya, tapi sering berbohong dengan pasangan hidup yang miskin, kecerdasan biasa-biasa saja, penampilan standar dan belum punya pekerjaan tetap, namun sangat menjaga kejujuran, pasangan hidup mana yang akan kalian pilih?”.

Hampir semuanya memilih yang kedua, kecuali beberapa orang yang secara bercanda menjawab yang pertama, namun dengan cepat meralat kembali jawabannya dan beralih memilih yang kedua.

Orang tua, ketika memilih menantu juga akan lebih memilih menantu yang jujur meskipun memiliki banyak kekurangan, daripada menantu yang pembohong sekalipun mempunyai banyak kelebihan

Seorang atasan akan lebih memilih mempekerjakan orang yang jujur meskipun kurang cakap melakukan pekerjaannya daripada orang yang suka berbohong meskipun lebih terampil.

Masyarakat lebih suka pemimpin yang jujur, tampil apa adanya daripada pemimpin yang suka berbohong dan penuh dengan pencitraan.  

Bahkan seorang pembohong pun akan lebih memilih sahabat yang jujur daripada yang pembohong seperti dirinya.

Semua orang merindukan kejujuran karena kejujuran merupakan salah satu akhlak yang paling mulia. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang menyukai kebohongan karena kebohongan merupakan salah satu akhlak yang tercela.

Nabi saw. sangat menekankan kepada umatnya untuk senantiasa jujur dan menjauhi kebohongan. Hal tersebut, di antaranya ditunjukkan dalam hadis berikut:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

 

Artinya:

Dari ‘Abdullah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah kalian jujur! Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang terus menerus jujur dan membiasakan kejujuran sehingga pada akhirnya ia akan dicatat disi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhi kebohongan! Sesungguhnya kebohongan akan mengantarkan kepada dosa dan dosa akan menjerumuskan ke dalam neraka. Seseorang terus menerus berbohong dan membiasakan kebohongan sehingga pada akhirnya ia akan dicatat disi Allah sebagai seorang pembohong.

(HR. Muslim)

 

Hadis di atas menunjukkan bahwa kejujuran adalah induk dari kebaikan, sebaliknya kebohongan adalah induk dari keburukan.

Menurut sebagian ulama, kejujuran adalah kesesuaian antara berita dengan realita. Sebagian ulama menyatakan bahwa kejujuran adalah kesesuaian antara yang terlihat dengan yang tersembunyi antara yang nampak dengan yang dirahasiakan. Sebagian ulama menyatakan bahwa kejujuran adalah kesesuaian antara perbuatan dengan tuntutan perintah syariat.

Kejujuran akan memberikan manfaat, baik kepada orang yang jujur itu sendiri maupun kepada orang lain. Bagi orang yang jujur, hatinya akan menjadi tenang karena tidak ada yang perlu disembunyikan dan tidak ada kekhawatiran akan diketahui oleh orang lain.

Orang yang jujur juga akan senantiasa menularkan energi positif  kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Oleh karena itulah, Allah swt. memerintahkan kepada orang yang bertaqwa agar senantiasa bersama dengan orang-orang yang jujur sebagaimana yang difirmankan dalam QS at-Taubah ayat 119, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan bersamalah orang-orang yang jujur”.

            Dalam ayat di atas, Allah swt. memerintahkan dua hal kepada orang-orang yang beriman, yaitu bertakwa dan bersama orang-orang yang jujur. Hal ini menjadi indikasi bahwa ketakwaan yang ada di dalam hati akan melahirkan kejujuran pada ucapan dan perbuatan.

            Kalau kejujuran mendatangkan ketenangan jiwa dan ketenteraman batin, maka sebaliknya kebohongan akan mendatangkan kegelisahan karena adanya ketakutan apabila yang disembunyikan akan diketahui oleh orang lain. Terkadang demi menutupi satu kebohongan, maka akan melakukan kebohongan yang berikutnya sehingga pada akhirnya akan semakin susah untuk keluar dari kebohongan.

            Maka demi ketenangan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat, senantiasalah berkata dan berlaku jujur dan hindarilah kebohongan dengan sekuat tenaga. 

 

Penulis :

Dr. Syahrir Nuhung,Lc, M.THI

 


Salam
Pengurus

HIKMAH PERTAMA : KEIHLASAN (02/01/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

"Gunung dengan kekuatannya sanggup menghentikan goncangan bumi. Besi dengan kekuatannya sanggup mengeruk gunung. Api dengan kekuatannya sanggup melunakkan besi. Air dengan kekuatannya sanggup memadamkan api. Angin dengan kekuatannya sanggup membawa air kesana kemari. Namun manusia yang ikhlas jauh lebih kuat dibandingkan dengan makhluk apapun juga"

Seorang aktivis dakwah yang awalnya begitu semangat berdakwah, tiba-tiba kehilangan semangat ketika jamaahnya sudah tidak lagi antusias mendengarkan ceramahnya.

Seorang laki-laki yang tadinya sangat rajin shalat malam dan shalat dhuha atas pemintaan calon istrinya, mendadak menghentikan kebiasaannya tersebut setelah rencana pernikahan mereka gagal.

Di sisi lain, seorang perempuan yang bercerai dari suaminya, tiba-tiba saja mengambil keputusan untuk melepaskan hijabnya. Awalnya memang dia tidak berhijab, namun setelah menikah atas permintaan suaminya, ia kemudian mengenakan hijab. Begitu bercerai, hijabnya kemudian dilepas kembali

Ada lagi seorang gadis muda yang tiba-tiba berubah menjadi begitu liar di media sosial, padahal sebelumnya ia sangat jarang berinteraksi di media sosial, kecuali untuk hal-hal sangat penting. Itupun dilakukan dengan bahasa yang sangat santun karena menjaga perasaan laki-laki yang dicintainya. Namun setelah hubungan mereka kandas, kekecewaan dan kemarahannya dilampiaskan secara membabi buta di media sosial.

Ada juga seorang pegawai yang tadinya sangat disiplin karena ketegasan atasannya, tiba-tiba berubah menjadi sering terlambat masuk dan pulang cepat setelah atasannya dimutasi.

Mengapa semua itu terjadi?

Kemana perginya semangat, kesalehan, hijab, kesantunan dan kedisiplinan itu?

Mengapa semuanya begitu mudah berubah? 

Jawabannya adalah semua itu terjadi karena mereka melakukannya dengan alasan manusia, bukan karena Allah SWT. Sederhananya, mereka tidak Ikhlas.

Ikhlas merupakan kata yang sangat mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sangat susah untuk diamalkan. Secara bahasa, ikhlas mengandung arti hilangnya campuran yang terdapat pada suatu benda atau yang menyatu dengannya, padahal pada mulanya campuran tersebut menyatu dengan benda asalnya.

Ikhlas merupakan ruh dari amal yang dilakukan oleh seseorang. Tanpa keikhlasan, maka amal hanya akan menjadi seperti badan tanpa ruh.

Keikhlasan tidak hanya dituntut dalam pelaksanaan ibadah, tetapi juga dalam muamalah. Allah SWT. Dalam mensyariatkan segala sesuatu, baik yang menyangkut ibadah, maupun muamalah, memiliki dua tujuan, yaitu tujuan utama dan tujuan tambahan. Tujuan utama dari pelaksanaan syariat adalah penghambaan kepada Allah SWT. Meskipun demikian, terdapat tujuan tambahan selain tujuan utama tersebut. Maka apabila ada seseorang yang melakukan suatu ibadah atau muamalah dengan mengharapkan tujuan tambahan, maka dia tetap dikategorikan ikhlas selama tujuan utamanya adalah penghambaan kepada Allah SWT.

Berdasarkan hal tersebut, maka keikhlasan dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan tertinggi, yaitu mereka yang beribadah semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Tingkatan kedua, yaitu mereka yang beribadah selain untuk mendapatkan ridha Allah SWT, juga menghendaki balasan di akhirat, semisal terhindar dari api neraka dan ingin masuk surga.

Tingkatan ketiga, yaitu mereka yang beribadah selain untuk mendapatkan ridha Allah SWT., menghendaki balasan di akhirat, juga menghendaki balasan di dunia yang merupakan tujuan tambahan dari ibadah atau muamalah tersebut.

Sebagai contoh dalam pelaksanaan shalat malam. Keikhlasan yang tertinggi yaitu mereka yang shalat semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Keikhlasan tingkat kedua yaitu mereka yang shalat, selain mengharapkan ridha Allah, juga menginginkan derajat yang tinggi di surga. Adapun keikhlasan yang terendah, yaitu mereka yang shalat malam, selain dengan dua tujuan di atas, juga menghendaki tujuan dunia misalnya dijauhkan dari penyakit.

Dengan keikhlasan, Allah SWT. akan memberikan kekuatan yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut  :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الأَرْضَ جَعَلَتْ تَمِيدُ فَخَلَقَ الْجِبَالَ فَعَادَ بِهَا عَلَيْهَا فَاسْتَقَرَّتْ فَعَجِبَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ شِدَّةِ الْجِبَالِ قَالُوا يَا رَبِّ هَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْجِبَالِ قَالَ نَعَمِ الْحَدِيدُ . قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْحَدِيدِ قَالَ نَعَمِ النَّارُ. فَقَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ النَّارِ قَالَ نَعَمِ الْمَاءُ. قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْمَاءِ قَالَ نَعَمْ الرِّيحُ قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الرِّيحِ قَالَ نَعَمِ ابْنُ آدَمَ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ بِيَمِينِهِ يُخْفِيهَا مِنْ شِمَالِهِ ».

Dari Anas bin Malik dari Nabi saw, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan  bumi, ia bergoncang, maka Allah menciptakan gunung sehingga bumi kembali kepada keadaannya semula yang stabil. Malaikat merasa kagum dengan kekuatan gunung, lalu bertanya: “Wahai Tuhan! Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?”, (Allah menjawab): “Ya, besi”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?”, (Allah menjawab): “Ya, api”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?”, (Allah menjawab): “Ya, air”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air?”, (Allah menjawab): “Ya, angin”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada angin?”, (Allah menjawab): “Ya, anak Adam, apabila ia bersedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya dari tangan kirinya”.

(HR. at-Turmudzi)

Hadis di atas menunjukkan bahwa orang yang ikhlas akan menjadi jauh lebih kuat dibandingkan dengan makhluk apapun juga. Lebih kuat dibandingkan dengan gunung yang dengan kekuatannya sanggup menghentikan goncangan bumi. Lebih kuat dibandingkan dengan besi yang dengan kekuatannya sanggup mengeruk gunung. Lebih kuat dibandingkan dengan api yang dengan kekuatannya sanggup melunakkan besi. Lebih kuat dibandingkan air yang dengan kekuatannya sanggup memadamkan api. Lebih kuat dibandingkan  dengan angin yang dengan kekuatannya sanggup membawa air kesana kemari. Pendeknya, dia akan menjadi lebih kuat dibandingkan dengan makhluk apapun juga.

Orang yang ikhlas akan menjadi orang yang sangat kuat karena orang yang ikhlas sandarannya adalah Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, Allah SWT.

Penulis : Dr. H. Syahrir Nuhung, Lc, M.THI


Salam
Pengurus