Opini

Mendidik Itu Membahagiakan (02/05/2019)

Syamril

(Direktur Sekolah Islam Athirah)

 

Salah satu tradisi di Sekolah Islam Athirah di tiap acara ulang tahunnya yaitu pemberian penghargaan pengabdian 15 dan 25 tahun. Beberapa tahun lagi mungkin ada yang mendapat penghargaan pengabdian 35 tahun. Waktu yang panjang untuk masa kerja di satu lembaga.

Melihat wajah para guru yang mendapat penghargaan ada yang istimewa. Mereka tampak lebih muda dari orang lain yang seumur tapi profesinya bukan guru. Kok wajah guru guru awet muda ya. Apa karena selalu bertemu dengan anak anak yang lebih muda. Atau ada faktor lain.

Satu yang pasti semua guru yang pengabdiannya panjang hidup relatif lebih bahagia. Itulah yang membuatnya awet muda. Meskipun mungkin gajinya lebih rendah dari profesi lain seperti dokter dan karyawan swasta tapi kebahagiaanya lebih tinggi.

Apa yang membuat guru lebih bahagia? Karena mereka merasakan hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat. Kebahagiaan seorang guru bukan pada saat terima gaji berlipat. Kebahagiaan guru muncul saat melihat wajah anak didiknya yang sukses menggapai cita-cita, hidup lebih sejahtera dan memiliki strata keilmuan yang lebih tinggi dari gurunya.

Saya juga pernah jadi guru SMP dan SMA. Suatu saat saya bertemu dengan siswa saya yang sudah lulus dari ITB dan sedang lanjut kuliah S2 ke Jepang. Alangkah bahagia rasanya meskipun waktu itu saya masih S1. Apalagi jika di sebuah acara seperti seminar atau forum keilmuan lainnya. Guru jadi peserta dan ternyata yang menjadi narasumbernya adalah siswanya yang dulu diajar waktu SD atau SMP. Ada kebanggaan dan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hal lain yang membuat guru bahagia adalah tidak ada istilah bekas guru. Beda dengan profesi lain. Seorang pejabat yang bertemu dengan gurunya saat dia SD mungkin 40 tahun lalu tetap saja memanggilnya dengan Pak atau Bu Guru. Tetap saja dia menghormati gurunya meskipun jabatannya lebih tinggi dari gurunya.

Demikianlah guru memiliki posisi yang sangat sentral di masyarakat karena tugasnya mendidik dan mencerahkan masyarakat. Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas manusianya bukan oleh jumlah kekayaan alamnya. Negara yang maju seperti Jepang sumber daya alamnya sangat terbatas. Namun bisa maju karena memiliki sumber daya manusia unggul dan produktif karena kualitas pendidikannya bagus.

Pendidikannya bagus karena gurunya juga bagus dan berkualitas. Mengapa bisa berkualitas? Karena bangsa Jepang masyarakatnya sangat menghormati para guru sehingga orang-orang terbaik berlomba-lomba menjadi guru.

Oleh karena itu di Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei ini, inti pesannya adalah jika Indonesia ingin maju maka kuncinya pada pendidikan yang berkualitas. Ini akan terwujud jika gurunya berdedikasi, kompeten, sejahtera dan bahagia. Selamat Hari Pendidikan Nasional.


Salam
Pengurus

Adil Itu Damai (25/04/2019)

Itu adalah judul buku kumpulan pidato pak JK yang diterbitkan pada tahun 2017. Terdapat 75 judul pidato yang membahas segala aspek kehidupan bangsa seperti politik, ekonomi, pendidikan, energi, agama, sosial budaya dan lain sebagainya.

Inti pesannya adalah jika ingin mewujudkan perdamaian di dunia dan Indonesia maka syarat utamanya adalah wujudkan dulu keadilan. Adanya kekacauan di berbagai belahan dunia serta teror dan konflik termasuk di Indonesia penyebabnya karena adanya ketidakadilan. Kerusuhan di Ambon, Poso dan Sampit contohnya, itu karena ketidakadilan ekonomi dan politik.

Kedamaian di keluarga juga kuncinya adalah keadilan. Bapak dan ibu yang memperlakukan anak-anaknya dengan adil dan tidak pilih kasih, maka keluarganya akan hidup dengan damai dan tenteram. Banyak kasus anak-anak tidak akur karena orang tuanya pilih kasih.

Demikian pula di tempat kerja. Direktur yang berlaku adil, tidak pandang dulu, memberikan sanksi kepada siapapun jika ada pelanggaran maka karyawannya akan bekerja dengan tenang karena adanya kepastian. Siapapun yang berprestasi akan mendapatkan promosi dan penghargaan. Bukan hanya yang ada hubungan keluarga atau pandai melakukan pendekatan. Artinya ada sistem yang berjalan dengan baik. Maka karyawan akan bekerja dengan penuh semangat.

Bahkan di pertandingan olahraga seperti sepakbola, wasit yang adil menjadi syarat utama agar pertandingan berjalan dengan baik. Jika wasit memihak dan berat sebelah maka pertandingan bisa berjalan dengan ricuh dan onar karena banyak protes ketidakpuasan dari pemain dan penonton.

Agar wasit dapat memimpin pertandingan dengan adil maka syarat yang harus dimiliki oleh wasit yaitu tidak ada konflik kepentingan. Wasit dapat bersikap netral. Makanya jika pertandingan antar dua negara seperti di Piala Dunia, wasitnya harus dari negara yang berbeda. Harapannya tidak ada ikatan emosional sehingga dapat mengambil keputusan tanpa ada beban.

Hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh wasit yaitu integritas yang tinggi dan sudah teruji. Dengan integritas yang tinggi maka dia akan jujur apa adanya, amanah sesuai tugas pokok dan fungsinya serta profesional dalam bekerja. Dia akan konsisten, teguh pendirian dan tidak goyah oleh godaan harta, tahta dan wanita. Sogokan tidak akan mempan apalagi hanya sekadar janji manis.

Bangsa Indonesia sedang melangsungkan 'pertandingan' Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang diikuti oleh dua pasangan calon. Yang bertindak sebagai wasit yaitu KPU. Penontonnya yaitu seluruh rakyat Indonesia yang mendukung calonnya masing-masing.

Pilpres bisa berjalan damai dan menjadi hiburan yang menarik sebagai pesta demokrasi jika KPU sebagai wasit tidak ada konflik kepentingan, bersikap netral,  dan tidak memihak kepada salah satu pasangan calon. Juga korps KPU dari pusat sampai kelurahan memiliki integritas tinggi yang kebal dari sogokan sehingga menjalankan tugasnya dengan jujur, amanah, profesional dan teguh pendirian. Menampilkan data apa adanya dan siap membela kebenaran.

Jika yang terjadi adalah sebaliknya maka 'pertandingan' bisa berlangsung dengan ricuh. Antar pemain saling serang dan supporter mudah terprovokasi untuk membuat kerusuhan.

Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Kita ingin Pilpres yang damai. Semoga KPU bisa adil sehingga pesta demokrasi dapat berjalan dengan kemenangan seluruh rakyat Indonesia.

 

Syamril

(Direktur Sekolah Islam Athirah)


Salam
Pengurus

Anak itu bertanya & Cerita Ibuku (17/03/2019)

CERITA IBUKU


Bila bulan suci tiba
Sembilan bidadari turun dari langit
Berkendara pelangi
Ditemani tiga malaikat
Masuk ke rumah
Duduk di dekat anak-anak
Yang makan sahur bersama ibunya

Bidadari itu berkata:
"Wahai malaikat,
bukalah pintu rezeki
untuk anak ini dan ibunya...
Buka pula pintu surga
untuk mereka!"

Di usia dewasaku
Aku tetap berpuasa
Karena cerita ibuku...

(Qasim Mathar)

 

ANAK ITU BERTANYA

au ke mana kita ibu?
Ke Surga, sayang!
Tapi bom dililitkan ke badanku?
Agar secepatnya kita sampai, sayang!
Ke Surga, ya Bu?
Boomm...boommm...bom...!

Anak dan ibunya hangus 
Di tengah mayat-mayat 
Yang terbakar serpihan bom

Roh anak itu bangun
Berdiri di antara polisi
Yang menghitung jumlah yang mati
Roh anak itu masih di situ
Bertanya: Ibu............
Beginikah jalan ke Surga?
Ibunya diam....
Di kantong jenazah
Dalam mobil ambulans
Yang meraung-raung...

(Qasim Mathar)


Salam
Pengurus

Be Excellent with Develop Leaders “The job of a leader is create leaders” (04/12/2018)

Assalamu alaikum Wr . Wb.

Hal itu disampaikan oleh Handry Satriago President and CEO General Electric Indonesia. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menjadi CEO GE Indonesia setelah perusahaan ini beroperasi selama 70 tahun di negeri ini.

Suatu hari Jeff Immelt CEO General Electric pengganti Jack Welch berkunjung ke Indonesia. Maka dia pun dijemput oleh pak Handry ke bandara Soekarno Hatta. Saat di kendaraan maka ditanyalah Jeff Immelt mengapa selama 70 tahun baru sekarang memilih orang Indonesia.

Maka dia pun menjawab “Orang Indonesia lebih mudah mengatakan kata yes (ya) dan sulit mengatakan no (tidak). Sehingga tipikal umum karyawan GE di Indonesia adalah orang-orang penurut, pekerja keras, doers, dapat mencapai target. Namun semua hanya berbasis job description.

Sulit mencari tipe leaders yang mau mencapai lebih dari job description, extra miles. Sulit mencari tipe leaders yang berani menyampaikan pendapat yang berbeda, serta berfikir kreatif mencari  jalan keluar. Cenderung menunggu petunjuk atasan”.

Mari kita cermati sekeliling kita. Tipe mana yang banyak ada di perusahaan ini, apakah doers atau leaders. Secara jujur masih banyak yang bertipe doers. Tidak berani berbeda pendapat, berinisiatif melakukan terobosan. Mengapa? Faktornya ada dua yaitu internal dan eksternal.

Internal yaitu pribadi yang bersangkutan. Secara umum orang Indonesia adalah hasil pendidikan yang “multiple choice” cenderung memilih bukan membuat pilihan. Cenderung menghapal ilmu pengetahuan, bukan memproduksi ilmu pengetahuan.

Lihatlah proses pendidikan kita yang menghapal isi buku kemudian dites dengan apa yang diingat dari isi buku tersebut. Jarang yang menggunakan pendekatan problem solving yang menuntut kreativitas dan terobosan.

Saat belajar di kelas pun hanya mendengar guru, jarang berdiskusi, atau berpendapat apalagi berbeda pandangan dengan guru atau dosen. Jika pun bertanya cenderung apa dan bagaimana, ke hal yang praktis. Jarang yang mengapa, ke hal yang mendasar dan prinsip.    

Hal ini berlanjut di dunia kerja. Mereka yang jadi bawahan lebih nyaman dengan perintah, prosedur, cenderung yes dan menurut saja untuk cari aman. Tidak berani berbeda pendapat apalagi dengan atasan.

Faktor eksternal yaitu di luar pribadi karyawan. Ini terkait dengan budaya perusahaan yang kuat pada budaya hirarki di mana segala berpusat pada atasan. Atasan pun cenderung ingin dituruti, bukan dikritisi.

Atasan pun tidak memberi wewenang lebih kepada bawahannya, sehingga bisa jadi secara jabatan sudah section head atau supervisor bahkan manajer tetapi cara kerja masih seperti staf. Selalu meminta petunjuk, tidak berani berkreasi dan berinisiatif.  Kalau menghadapi masalah tidak berani bertindak sebelum ada persetujuan.

Secara jangka pendek bisa jadi ‘tidak ada masalah’. Namun di masa depan akan muncul masalah besar saat para leaders yang sekarang ada sudah harus pensiun Saat butuh pelanjut ternyata sangat sedikit yang siap karena yang yang lahir bukan leaders tapi doers.

Padahal perusahaan harus terus bertahan, bahkan tumbuh dan berkembang lebih besar lagi. Oleh karena itu saatnya kita mengubah mind set. Jika ingin terus tumbuh dan berkembang maka para leaders harus melahirkan leaders yang lebih banyak lagi.

Sustainable strategy –nya adalah develop  leaders dengan membiasakan berfikir kreatif, analitis, berpendapat, berani dan siap menerima perbedaan pendapat, berinisiatif, dan pendelegasian. Semoga tumbuh para leaders yang berkualitas untuk membawa perusahaan menjadi lebih baik lagi.

“Be Excellent with Develop Leaders”.   

 

-Syamril-

Penulis buku 50 jalan Kalla, kerja ibadah

 


Salam
Pengurus

Jangan jadi Robot (30/11/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb

Kisah Inspirasi, 30 November 2018

JANGAN JADI ROBOT

Apa yang sering Anda ceritakan ke teman atau pasangan Anda setelah pulang kerja? Apakah cerita masalah pekerjaan di kantor yang sulit, berat dan membuat stress? Atau cerita tentang atasan atau rekan kerja yang menyebalkan? 

Atau cerita tentang pekerjaan yang menyenangkan? Cerita dengan penuh kebanggaaan karena berhasil menyelesaikan masalah yang dampaknya besar bagi kemajuan perusahaan. Atau cerita tentang ide-ide besar untuk memajukan perusahaan? 

Atau mungkin tidak ada cerita karena apa yang dikerjakan rutinitas belaka, tidak ada hal menarik atau menggelisahkan.  

Jika kebanyakan cerita Anda adalah tentang hal yang negatif maka itu artinya Anda tidak bahagia di tempat kerja. Bisa jadi dalam lubuk hati yang paling dalam Anda sebenarnya ingin segera berhenti bekerja atau mencari pekerjaan di tempat lain. 

Cuma belum ada peluang atau kesempatan kerja baru. Akhirnya Anda terpaksa bertahan karena tidak ada pilihan. Mau berhenti dan menganggur juga tidak mau karena masih butuh uang. 

Jika tidak ada cerita karena pekerjaan Anda rasanya monoton, tidak ada tantangan dan hanya rutinitas belaka berarti Anda sudah masuk zona nyaman. Anda sudah merasa aman dan puas dengan kondisi sekarang.  

Jika sudah seperti itu, waspadalah. Jika Anda sudah terjebak rutinitas dan tidak banyak inovasi dan kreatifitas berarti Anda sudah mirip dengan ROBOT. Apa ciri robot? 

Tidak ada pengembangan diri. Dia berjalan datar, sama terus. Manusia yang seperti robot berarti sepanjang waktu di tempat kerja dirinya tidak berkembang. Tidak bertambah ilmu dan keterampilan. 

Malah harus lebih waspada lagi karena dunia terus bergerak dan berkembang, jika manusia statis maka sebenarnya dibandingkan dengan perkembangan dunia yang dinamis, dia sebenarnya mundur, terus tertinggal.

Pengembangan diri syaratnya jangan masuk ke zona nyaman. Prinsipnya “tidak ada pertumbuhan di zona nyaman, dan tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan”. Lihatlah bayi yang sedang tumbuh, selalu mencoba hal baru yang beresiko malah terkadang berbahaya. 

Berbeda dengan orang tua yang sudah cenderung statis. Jika diminta mencoba hal baru, tidak berani atau ragu-ragu. 

Pengembangan diri syaratnya masukilah ZONA RESIKO tapi BUKAN ZONA BAHAYA. Apa bedanya? Zona resiko masih dalam batas aman dengan syarat ada pendampingan atau persiapan. Zona bahaya memang penuh bahaya jika dimasuki. Untuk membedakannya lihatlah orang yang naik banana boat. 

Setelah ditarik sama perahu motor maka dalam jarak yang cukup jauh dari pantai, dia akan dijatuhkan. Jika sebelum dijatuhkan dia memakai pelampung dan ada pendamping yang menemani maka meskipun dia masuk ke zona bahaya tapi sebenarnya dia masuk zona resiko. 

Artinya jika dia tidak bisa berenang maka ada pelampung yang menjadi alat bantu. Dan jika pelampung tidak berfungsi maka ada pendamping yang akan menolongnya. Berbeda jika Anda tidak bisa berenang, tidak pakai pelampung dan juga tidak ada pengawal. Saat dijatuhkan, dijamin pasti tenggelam. 

Implementasi di tempat kerja yaitu perusahaan memberikan tugas atau tantangan baru kepada staff atau anggota timnya. Jangan hanya berikan pekerjaan yang berulang. Kalaupun harus berulang, karyawan dituntut untuk mengajukan perbaikan cara kerja agar lebih efektif dan efisien. 

Sehingga setiap saat ada perbaikan untuk mencapai target yang diinginkan. Namun harus diingat, saat staff kita masuk ke zona tantangan, pemimpinnya harus siap memberi bimbingan. Jangan dilepas begitu saja, tapi jangan juga terlalu didikte dan disetir. Beri ruang bagi dia untuk bereksperimen tapi dalam koridor belejar. Intinya adalah…

JANGAN JADI MANUSIA STATIS ATAU ROBOT, TAPI JADILAH MANUSIA YANG DINAMIS. 

Semoga dengan itu Anda akan banyak  cerita ke teman atau pasangan Anda dengan penuh kebanggaaan karena berhasil menyelesaikan masalah yang dampaknya besar bagi kemajuan perusahaan. 

Bisa juga cerita tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan baru yang Anda pelajari dari pekerjaan yang membuat Anda lebih semangat bekerja. Atau cerita tentang ide-ide besar untuk memajukan perusahaan.  

Semoga dengan itu Anda merasakan kepuasan bahkan kebahagiaan di tempat kerja karena telah merasa bermakna, berkontribusi memberi manfaat berupa perbaikan atau pengembangan.  

Jika itu semua dilakukan dengan berlandaskan tauhid, ikhlas, amanah maka itu semua bernilai ibadah di sisi Allah karena kerja adalah ibadah. 

-Syamril-

Direktur Sekolah Islam Athirah


Salam
Pengurus

24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun (15-02-2018)

Seringkali ada rasa keingintahuan bagaimana cara orang-orang besar mengatur waktu dan pekerjaannya. Orang-orang besar maksudnya adalah orang-orang yang diberi amanah besar. Orang-orang yang secara sosial menempati piramida puncak dalam masyarakat. Beberapa diantaranya, Presiden, Menteri, Direktur BUMN, direktur perusahaan, Gubernur, Bupati dan seterusnya. Terlepas dari bagaimana hasil akhir dari kepemimpinan mereka, satu hal yang sama adalah bahwa mereka telah melakukan hal yang lebih banyak daripada yang dilakukan orang kebanyakan.  Tentu dengan jumlah waktu yang sama yang diberikan Tuhan. Yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 hari setahun.

Pak Jokowi misalnya, dengan waktu yang dimiliki, bisa menyelesaikan banyak hal secara efektif dan kelihatan hasilnya. Jokowi keliling Indonesia blusukan, memantau kinerja para menteri, gubernur, dan bupati untuk memastikan bahwa langkah-langkah dan keputusan mereka terkoordinir efektif sesuai visi dan misi pemerintahan. Sambil menjalankan itu, Jokowi masih mampu menghadapi para pengganggunya, membuat strategi politik agar pemerintahan tetap stabil dan tujuan tercapai. Coba perhatikan, menangani Freeport saja sudah bisa dibayangkan beratnya persoalan, banyaknya kepentingan dan pihak-pihak terkait harus dihadapi. Bukan hanya dalam negeri, semisal masyarakat sekitar, Pemda, Aparat, para Petualang Politik dan Bisnis, tapi juga serta luar negeri yang berseberangan kepentingan dengan pemerintah. Semua itu harus dilakukan dan diselesaikan dengan modal yang sama yaitu 24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun

Menangani masalah-masalah baik rutin semacam rapat kabinet, rapat koordinasi gubernur bupati maupun masalah-masalah insidental seperti kebakaran hutan, hubungan negara sahabat, aktivitas mewakili kepala negara dll. Mengatur strategi menempatkan orang-orangnya guna mengendalikan pergerakan politik di Indonesia, bahkan masih sempat untuk kumpul keluarga, menemani cucunya jalan-jalan ke Mall dan lain-lain, dan seterusnya. Dengan jumlah waktu yang sama, Beliau sudah melakukan banyak hal yang tidak (bisa) dilakukan oleh orang kebanyakan. Demikian pada berbagai level dibawahnya, semua orang akan memanfaatkan modal waktu dari Tuhan untuk melakukan berbagai aktivitas yang diembannya. Modalnya sama, 24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun.

Kalau bisa disimpulkan, masing-masing orang punya Modal yang sama namun bisa menghasilkan Output tak terbatas. Ibaratnya, sama-sama punya modal (uang) Rp. 1000,-. Dengan modal tersebut, ada yang bisa memperoleh segalanya, kesejahteraan, rumah, mobil, kesehatan, persahabatan, kebahagiaan, keliling dunia, dan segala macam yang diperlukan sebagai hasil dari kemampuan mengelola modal yang dimiliki. Di lain pihak, dengan modal yang sama, ada yang hanya bisa membeli sekedar kebutuhan makan. Bahkan lebih celaka lagi ada yang menyia-nyiakan modalnya berlalu tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan. Itulah Modal kita semua 24 Jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 setahun.

Masuk kategori dimanakah kita ? Sungguh, Demi Masa. Semua orang berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh. Saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran (Al Ashr 1 – 4).

 

 

Mukhammad Idrus,

Dosen UNM Makassar


Salam
Pengurus

Paradigma Pemimpin Idaman (12/02/2018)

Lima tahun lalu di sebuah obrolan sore dengan seorang Bupati di Sulsel, saya memperoleh dua cerita yang memiliki makna mendalam. Bukan kejadiannya yang perlu ditiru tapi makna di balik kejadian itu.

Pertama, sang bupati tidak tinggal di rumah jabatan tapi lebih memilih di rumah pribadi. Apa alasannya? Kata beliau, biar kalau berhenti atau selesai masa jabatannya tidak pusing lagi pindah rumah. Apa maknanya? Bahwa jadi Bupati itu hanya sementara, akan ada akhirnya. Artinya jabatan ini bukan milik pribadi, tapi amanah dan titipan dari rakyat. Kelak akan berhenti setelah dua periode.

Memang demikianlah hakikat sebuah jabatan, ia hanyalah titipan yang sementara, tidak akan selamanya. Seperti halnya  hidup ini juga sementara. Ada kematian yang akan memutus segalanya.

Allah menciptakan awal dan akhir, lahir dan mati yang semuanya merupakan ujian bagi manusia. Siapa yang lulus ujian ini? Ternyata bukan yang paling tua, bukan yang paling kaya, bukan yang paling berkuasa, bukan yang paling pintar. Tapi yang lulus adalah yang paling baik amalnya. Paling banyak manfaatnya.

Jadi kunci pertama yang harus dimiliki oleh pemimpin yang baik adalah kesadaran bahwa jabatan itu sementara, ada akhirnya dan itu hanyalah titipan, bukan milik pribadi. Jika waktunya tiba, ia akan berakhir. Tinggal finishnya apa berakhir dengan baik (husnul khatimah) atau berakhir dengan buruk (su’ul khatimah) seperti beberapa pejabat di negeri ini yang berakhir jadi tahanan KPK.

Cerita kedua yaitu selama menjabat beliau belum pernah membeli mobil dinas. Mobil yang dipakai sehari hari adalah mobil pribadi karena beliau memang orang yang kaya sebelum menjadi bupati.

Apa makna dari cerita ini dikaitkan dengan kepemimpinan? Ternyata memang ada dua modus kehidupan termasuk kepemimpinan yaitu modus memberi dan memiliki. Orang yang modusnya memiliki maka setelah dilantik yang pertama dipikirkan adalah apa yang dapat saya raih dari jabatan ini. Dihitungnya peluang komisi dari APBD atau setoran upeti yang dapat memperkaya diri.  Lupalah dia bahwa itu semua haram karena hasil korupsi. Tak pedulilah dia bahwa itu semua akan merugikan rakyat. Bagi dia, yang penting saya bahagia meskipun harus mengorbankan orang lain.

Berbeda dengan orang yang modusnya memberi. Setelah dilantik yang dipikirkan adalah manfaat apa yang dapat saya berikan kepada rakyat melalui jabatan ini. Apa masalah rakyat yang dapat saya selesaikan di waktu yang singkat ini. Itu semua membuatnya bekerja keras siang dan malam tak kenal lelah namun bahagia karena melihat orang lain atau rakyatnya bahagia.

Jadi kunci kedua yang harus dimiliki oleh pemimpin yang baik yaitu berparadigma memberi bukan memiliki. Apa bedanya? Paradigma memberi yaitu mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain. Paradigma memiliki yaitu mencari kebahagiaan dengan cara mengorbankan orang lain. Pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang bahagia karena membahagiakan orang yang dipimpinnya.

Semoga calon gubernur dan bupati serta walikota yang akan bertarung pada tahun ini memiliki dua paradigma di atas. Kesadaran bahwa jabatan itu amanah yang sementara dan berbatas waktu. Dengan waktu yang terbatas ia ingin meraih kebahagiaan dengan memberi manfaat dan perubahan bagi rakyat. Bukan mengorbankan rakyat.

 

Syamril, S.T. M.Pd

Direktur Sekolah Islam Athirah

Penulis buku 50 Jalan Kalla, Kerja, Ibadah

 


Salam
Pengurus

Jenazah dan Pengantarnya (16/01/2018)

Hari Sabtu lalu, 12 Januari 2018 Setelah sholat dhuhur berjamaah di salah satu Mesjid di samping GOR Sudiang Makassar, saya menyambangi sebuah warkop (warung kopi) lokasinya berada di sudut sebuah perempatan jalan untuk mengirim beberapa email. Beberapa saat kemudian saya memulai duduk dan menulis kalimat demi kalimat pada beberapa bahan yang akan dikirim ke alamat email yang berbeda. Tidak lama kemudian muncul sebuah  mobil jenazah yang tidak memiliki tanda atau identitas yang menandakan siapa pemiliknya yang lewat di depan warkop menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sudiang yang diantar oleh kurang lebih 30 sepeda motor dan roda empat. Para pengantar itu membunyikan suara kendaraan dengan bunyi yang sangat keras dan dengan penampakan kesan sangat brutal. Tidak lama kemudian datang lagi jenazah dan pengantarnya dimana pengantarnya lebih banyak dari pengantar sebelumnya, tetapi yang berbeda suara kendaraan mereka tidak sekeras yang pertama, menjelang lima menit datang lagi mobil jenazah milik sebuah rumah sakit swasta di Makassar dan pengantarnya jumlah jauh lebih sedikit dari yang pertama, sedangkan suara kendaraan relatif biasa saja, hanya kurang lebih 10 kendaraan yang mengantar, kemudian tiba-tiba muncul lagi  mobil jenazah ke empat dengan poster pengurus sebuah partai politik jumlahnya relatif sangat sedikit dari ketiga mobil jenazah sebelumnya yakni sekitar 10 unit sepeda motor dan roda empat.

Warga yang ada di sekitar warkop yang dilalui mobil jenazah tersebut, tidak menampakkan ekspresi apa-apa, tidak marah atau kelihatan kesal. Cuma kendaraan yang melintas di perempatan memilih berhenti sejenak membiarkan jenazah dan pengantarnya itu melewati jalan tersebut.  Termasuk warga yang berada di Warkop asyik dengan handphone atau laptopnya masing-masing. Hanya ada salah satu remaja perempuan yang mencoba untuk berdiri dan mengamati jalannya mobil jenazah tersebut. Tetapi entah apa yang memotivasinya. Setiap kali ada mobil jenazah yang lewat dia mencoba berdiri sampai mobil jenazah dan pengantarnya agak jauh dari tempat warkop dimana saya duduk. Teringat dengan cerita Suatu hari Rasulullah SAW mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seolah protes, “Itu jenazah orang Yahudi.” “Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah.

Dalam hadits lain riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan berdiri ketika ada jenazah Yahudi, Nasrani, atau Muslim. Bukan berdiri untuk jenazah itu sendiri tapi untuk malaikat yang menyertai jenazah tersebut. Artinya, manusia tak luput dari iring-iringan malaikat, tak hanya ketika hidup tapi juga saat meninggal dunia. Ada yang berpendapat bahwa hadits perintah berdiri menghormati janazah ini mansukh sehingga status berdiri itu sekadar boleh atau dianjurkan belaka. (NUonline, 12/1/2018).

Terlepas dari itu, Rasulullah SAW menunjukkan kepada kita semua bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kemanusiaan, bagaimanapun juga ketika ada peristiwa kematian siapapun dia, apapun agamanya maka kita dituntun untuk menghormatinya. Tetapi melihat perkembangan sebagian sikap manusia saat ini, lebih 1.000 tahun yang lalu Rasulullah SAW sudah memberi teladan bagaimana saling menghormati apakah ketika kita masih hidup atau sudah meninggal. Tetapi sense sebagian orang sudah mulai pupus, seperti tidak peka lagi peristiwa kematian tersebut yang siapapun di dunia ini yang namanya makhluk hidup, suatu saat akan mengalami kematian.

Yang ironis ketika iring-iring pembawa jenazah tersebut mempertontokan sikap yang arogan dan mengancam keselamatan dan mengganggu ketentraman orang-orang yang ada disekitar di mana mereka lewati. Dengan suara kendaraan yang seolah-olah akan memecahkan gendang telinga, dengan kecepatan yang relatif tinggi, dengan konvoi menguasai hampir satu badan jalan, padahal banyak pengendara yang lain sehingga pengendara yang bukan pengantar jenazah merasa tidak nyaman dan aman beriringan dengan pengantar jenazah. Bahkan pernah terjadi peristiwa dimana pengantar jenazah melakukan tindakan anarkis kepada  pengendara lain yang beriringan dengan mereka dengan menggunakan benda tajam yang akhirnya mengakibatkan cacat seumur hidup. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sikap semacam itu.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian khusus dan kesadaran bersama bagi masyarakat dan pemerintah khusunya pemerintah Kota Makassar yang memilih tagline “sombere” (ramah). Alangkah ganjilnya jika masyarakat kota masyarakat yang dikenal sombere tersebut masih mempertahankan sikap-sikap brutal meskipun saat membawa jenazah. Semoga Allah SWT memudahkan dan memberi cahaya bagi hati orang-orang  yang masih memelihara sikap-sikap brutal yang di zaman now ini, sehingga menjadi pribadi yang saleh-saleha, menghormati sesama manusia tanpa mengenal agama, suku, etnik  dan latar belakang sosial.

 

Wallahu a’lam bissawab

 

Oleh: Jumardi Lanta[1]

Ketua Pengurus Masjid Raudhatul Jannah

 

 


Salam
Pengurus

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (08/01/2018)

Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia internasional. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Adapun tujuan pendidikan anak usia dini adalah untuk membantu mengembangkan berbagai potensi baik psihis maupun pisik yang meliputi moral, nilai-nilai agama, social emosional, kognitif, bahasa, fisik atau motorik, kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikan dasar. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah dikaitkan dengan undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional memiliki fungsi dan tujuan yaitu dapat dikategorikan dalam tiga ranah yaitu (1) Ranah kognitif mencakup kecakapan dan berilmu (2) Ranah afektif mencakup berakhlak mulia, sehat, beriman, dan bertaqwa, mandiri dan demokratis (3) Ranah psikomotorik mencakup kreatif, keterampilan.

Pada usia dini adalah masa peka bagi anak perkembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psihis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini adalah masa untuk meletakkan dasar, pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, social emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni moral, dan nilai-nilai agama agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal.

Berdasarkan undang-undang system pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 pendidikan diorientasikan kepada penguasaan kompetensi dasar dan dikaitkan dengan peraturan pemerintah no. 25 tahun 2000 tentang otonomi daerah yaitu pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah . Dari pusat yaitu standar kompetensi anak dan warga belajar, pedoman pelaksanaan kurikulum, penilaian standar nasional, pedoman materi pihak pembelajaran. Untuk daerah yaitu sekolah membuat silabus menentukan kompetensi dasar, menentukan hasil belajar, memberikan kebebasan memajukan sekolahnya seluas-luasnya demi tercapainya manajemen berbasis sekolah (basic school manajemen of quality improvement).

Anak usia dini memiliki potensi yang perlu ditumbuhkembangkan, menurut pakar pendidikan anak usia dini bahwa “ Anak usia dini memiliki potensi kurang lebih 60 % sebagai berikut:

  1. Anak usia tersebut belum mampu memikirkan latar belakang yang akan terjadi pada dirinya.
  2. Pikirannya belum mengalami ketegangan dan masih muda terpengaruh.
  3. Potensi yang ada pada usia dini masih subur dan murni unuk dikembangkan.
  4. Potensi ini ada pada usia dini dan belum banyak gangguan atau pemikiran yang bercabang.
  5. Masih terkonsentrasi (masih murni).

        Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah yaitu pendidikan pra sekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga, sebelum memasuki pendidikan dasar yang diselenggarakan dalam sekolah atau pendidikan di luar sekolah.

        Program kegiatan belajar TK/RA merupakan satu kesatuan program kegiatan belajar yang utuh. Program kegiatan ini berisi bahan-bahan pembelajaran yang disusun menurut pendekatan tematik. Dengan demikian bahan tersebut merupakan tema yang dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi program kegiatan pembelajaran yang operasional.

Dalam pembahasan pendidikan TK/RA dinyatakan bahwa; TK/RA adalah salah satu bentuk pendidikan sekolah yang bertujuan untuk membantu dan meletakkan dasar ke arah/perkembangan sikap, perilaku, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan keluarganya dan untuk pertumbuhan seraya perkembangan selanjutnya. Pendidikan di TK/RA menganut prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain karena bermain anak adalah dunia belajar.

        Pendidikan pra sekolah memperhatikan beberapa prinsip pendidikan, antara lain (1). TK/RA merupakan salah satu bentuk awal pendidikan sekolah, untuk itu TK/RA perlu menciptakan situasi pendidikan yang dapat memberikan rasa aman dan menyenangkan. (2).Masing-masing anak perlu mendapat perhatian yang bersifat individual sesuai dengan kebutuhan anak usia dini. (3). Perkembangan adalah hasil proses kematangan dan proses belajar.(4). Kegiatan belajar di TK/RA adalah pembentukan perilaku dengan melalui pembiasaan yang terwujud dalam kegiatan sehari-hari. (5). Sifat kegiatan belajar di TK/RA merupakan perkembangan kemampuan yang telah diperoleh di rumah. (6). Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak usia dini.

 

               Penulis :

               DR. H. A. Muhammad Natsir, S.Pd, M.Pd

              (Dosen UNM Mks, Pemerhati Masalah Pendidikan Anak, Warga GMA)


Salam
Pengurus