Hikmah kelima : Tingkat Ketakwaan (15/03/2018)

Kemampuan mengendalikan emosi dan menahan rasa marah adalah batas minimal dari sebuah ketaqwaan. Mencabut rasa jengkel dari dalam hati sampai ke akar-akarnya dan memaafkan kesalahan orang lain dengan sepenuh hati berada satu tingkat di atasnya. Namun puncak dari semuanya adalah ketulusan hati untuk membalas perlakuan buruk dengan sikap yang terbaik.

 

Di hadapan jamaah pengajian, saya pernah mengajukan satu pertanyaan sederhana. Pertanyaannya seperti ini; “Menurut bapak ibu, apakah indikator ketakwaan seseorang?”

           

Di antara jamaah ada yang menjawab; orang yang bertakwa adalah orang yang rajin shalat, bukan hanya shalat wajib, tetapi juga shalat sunnah, bahkan selalu mengupayakan untuk shalat berjamaah di awal waktu.

Ada juga yang menjawab bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang rajin membaca al-Qur’an, mempelajarinya, bahkan menghapalnya.

Ada juga yang menjawab bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang rajin pergi haji dan berkali-kali ‘umrah.

Ada juga yang menjawab bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang rajin berzikir. Lidahnya hampir tidak pernah berhenti melantunkan kalimat-kalimat thayyibah, bahkan di tangannya selalu terselip misbahah (alat penghitung tasbih).

Jawaban-jawaban yang dikemukakan di atas tentulah tidak salah. Semua jawaban tersebut benar, hanya saja belum mencerminkan ketakwaan secara utuh.

Ketakwaan sesungguhnya tidak hanya dinilai dan diukur dari kesalehan personal dalam kaitannya dengan ibadah mahdah seperti shalat, puasa, bacaan al-Quran, zikir dan semacamnya. Lebih dari itu, ketakwaan juga dinilai dan diukur dari kesalehan sosial dalam kaitannya hubungan dengan sesama manusia.

Begitu banyak al-Quran yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya adalah firman Allah swt dalam rangkaian ayat-ayat berikut ini:

 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)

Terjemah:

Dan bersegeralah kalian mencari ampunan dari tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

(QS Ali Imran: 133-135)

 

Rangkaian ayat di atas menguraikan 5 indikator ketakwaan, yaitu:

  1. Berinfak, baik dalam keadaan lapang atau kesusahan
  2. Mengendalikan emosi
  3. Memaafkan kesalahan orang
  4. Membalas keburukan dengan kebaikan
  5. Memohon pengampunan atas dosa-dosa yang dilakukan

 

Dari lima ciri yang dikemukakan di atas, empat ciri yang pertama semuanya berkaitan dengan kesalehan sosial dalam arti hubungan dengan sesama manusia dan hanya ciri yang kelima saja yang berkaitan dengan kesalehan personal dalam arti hubungan dengan Allah swt.

            Selain itu, ciri yang kedua sampai keempat juga berkaitan dengan reaksi yang ditunjukkan terhadap sikap orang lain. Hal ini juga sekaligus menunjukkan level ketakwaan seseorang.

            Level ketakwaan bisa diukur dari reaksi yang ditunjukkan ketika diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh orang lain. Bagi yang mempunyai level ketakwaan yang paling rendah, dia akan berusaha untuk mengendalikan emosi dan menahan amarahnya.

            Sementara bagi yang lebih tinggi lagi level ketakwaannya, dia tidak akan sebatas menahan amarah, tetapi juga berusaha memaafkan. Bukankah ada orang yang sanggup menahan marah, tetapi belum bisa memaafkan?

            Saya pernah mendengar ada orang yang berkata seperti ini: “Saya sudah didzalimi, tetapi saya tidak bisa membalas, saya bersabar saja dan berdo’a mudah-mudahan Allah swt. yang memberikan hukuman atas kedzalimannya”.

            Kalau seperti ini keadaannya, berarti baru sebatas mengendalikan emosi, tetapi belum bisa memaafkan. Orang yang memaafkan adalah mereka yang bisa mencabut rasa marah di dalam hatinya sampai ke akar-akarnya dan menghapusnya sehingga seakan-akan tidak pernah ada masalah sama sekali.

            Namun level ketakwaan yang paling tinggi adalah ketika mampu membalas keburukan tersebut dengan kebaikan. Inilah yang dinamakan dengan ihsan dan inilah yang paling disukai oleh Allah swt.

            Terus meneruslah berusaha meningkatkan level ketakwaan sampai mencapai puncaknya sehingga segala bentuk keburukan dari orang lain senantiasa bisa disikapi dengan kebaikan. 

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THI

 


Salam
Pengurus