HIKMAH KEENAM : KELEMBUTAN (20/03/2018)

Kelembutan bukanlah tanda kelemahan diri, tetapi dia adalah magnet yang sanggup menarik orang banyak untuk berada di sekelilingmu. Sikap kasar bukanlah tanda kekuatan, tetapi justru merupakan tanda ketidakberdayaan dan kelemahan diri yang akan menjauhkanmu dari orang lain. Anda bisa dengan mudah menguasai fisik seseorang dengan paksaan dan tekanan, tetapi sampai kapanpun anda tidak akan pernah bisa memiliki hatinya.

 

Perang Uhud adalah perang yang mendatangkan kepiluan di hati Rasulullah saw dan kaum muslimin. Dalam peperangan tersebut kaum muslimin mengalami kekalahan. Tujuh puluh sahabat Rasulullah saw. gugur di medan peperangan Nabi saw sendiri juga terluka, gigi beliau tanggal dan wajahnya berlumuran darah. Nabi saw bahkan diberitakan wafat. Banyak sahabat yang melarikan diri dari medan peperangan, sehingga yang tersisa dan bertahan hanya sekitar sepuluh sampai tiga puluh orang. Mereka meninggalkan Nabi saw. di medan peperangan.

Bagi orang biasa, kondisi tersebut tentulah akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam di hati dan akan menjadi sesuatu yang wajar apabila kemudian memberikan reaksi yang keras.

Namun Rasulullah saw. bukanlah orang biasa. Beliau adalah seorang nabi yang diliputi dengan rahmat Allah swt. Dengan rahmat itulah, Nabi saw tetap bersikap lemah lembut terhadap mereka. Hal ini digambarkan oleh Allah swt. dalam ayat berikut: 

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 

Terjemah:

Maka disebabkan kasih sayang dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah dan mohonkanlah ampunan untuk mereka dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang bertawakkal.

(QS Ali Imran: 159).

 

Kelembutan adalah magnet yang bisa menarik banyak orang untuk mendekat. Suami yang lembut dan romantis akan lebih dihormati istrinya daripada suami yang kasar dan sering memarahi. Orang tua yang lembut dan senang memuji akan lebih disayangi anak-anaknya daripada orang tua yang kasar dan suka membentak. Seorang pendidik yang lembut dan memotivasi akan lebih menarik bagi anak didiknya daripada pendidik yang kasar dan suka menghukum. Seorang muballigh yang lembut dan santun akan lebih didengar jamaahnya daripada muballigh yang kasar dan suka menghujat. Seorang pemimpin yang lembut dan selalu merangkul akan lebih ditaati daripada pemimpin yang kasar dan senang memukul. Pendeknya kelembutan adalah hiasan yang akan memperindah pemiliknya.

Kelembutan bukan berarti kelemahan dan ketidaktegasan, karena lawan dari kelembutan bukanlah ketegasan tetapi kekasaran, sementara lawan dari ketegasan adalah sikap plin plan dan tidak konsisten. Bukankah ada orang yang tegas tapi kasar dalam perangai dan tutur katanya. Sebaliknya ada orang yang lembut dalam penyampaiannya, tetapi tegas dalam prinsifnya.

Sikap kasar dan tindakan yang mengintimidasi boleh jadi akan membuat orang lain merasa lemah dan tunduk, tetapi sesungguhnya ketundukannya adalah ketundukan semu. Fisiknya bisa saja dikuasai dan tubuhnya boleh jadi terpenjara, tetapi hatinya tidak akan pernah bisa dimiliki.

Mari kita merenungkan perintah Allah swt. kepada nabi Musa as dan Harun as. Berikut ini:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى.  فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Terjemah:

Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, lalu ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang lembut semoga dia mengambil pelajaran atau merasa takut (kepada Allah).

(QS Taha: 43-44)

 

Subhanallah! Ingatlah selalu ayat ini ketika hendak menasehati orang lain Kalau manusia sebaik nabi Musa as dan Harun as ketika hendak menasehati manusia seperti Fir’aun yang sudah sangat melampaui batas, masih diperintahkan oleh Allah swt untuk menyampaikan perkataan yang lembut, lalu bagaimana dengan orang yang belum sebaik nabi Musa as dan Harun as yang hendak menasehati orang yang belum sejahat Fir’aun? Bukankah perkataannya mestinya jauh lebih lembut? Renungkanlah!

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI

 


Salam
Pengurus