HIKMAH KETUJUH : KETEGARAN SEORANG PANUTAN (03/04/2018)

Dalam keadaan bagaimanapun, seorang panutan harus selalu menjadi teladan dan memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang lain. Sesekali ia boleh gelisah, tetapi jangan pernah terlihat lemah dan putus asa. Kelemahan seorang panutan akan menularkan perasaan ketidak berdayaan kepada orang yang meneladaninya. Berusahalah untuk tetap kuat dan menguatkan.

 

Seberapa sering anda memotivasi orang lain?

 

Lalu seberapa sering anda menguatkan diri sendiri?

 

Ketika ada seseorang mengalami satu permasalahan hidup yang berat sehingga ia membutuhkan nasehat, semangat dan motivasi untuk menguatkannya, maka akan banyak orang yang bisa melakukannya. Namun ketika seseorang ingin menguatkan dirinya sendiri, maka itu tidaklah mudah untuk dilakukan

Menasehati orang lain tidaklah sulit, yang sulit adalah menasehati diri sendiri. Menyemangati oang lain tidaklah susah, yang susah adalah menyemangati diri sendiri. Menguatkan orang lain tidaklah berat, yang berat adalah menguatkan diri sendiri.

Ketika ada seseorang yang begitu dibutuhkan oleh orang lain, apalagi jika banyak orang yang bergantung kepadanya, membutuhkan dukungannya dalam bentuk apapun, moril, materil, keteladanan dan lainnya, maka seringkali ia harus belajar untuk ‘menyembunyikan keadaan’-nya yang sesungguhnya dan menampakkan apa yang berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

Seorang pemimpin tidak boleh memperlihatkan kepanikannya di hadapan rakyatnya, sesulit apapun krisis yang dihadapi. Seorang panglima perang tidak boleh menampakkan rasa gentar terhadap musuh di hadapan para prajuritnya karena itu akan meruntuhkan mental mereka.

Orang tua yang bijaksana tidak akan mengeluhkan kesulitan yang mereka alami kepada anak-anaknya. Mereka akan selalu tersenyum untuk menyembunyikan kegetiran hidupnya.

Sebagai seorang manusia, siapapun orangnya akan pernah mengalami masalah dalam kehidupannya. Oleh karena itu, sesekali ia boleh gelisah, tetapi jangan pernah terlihat lemah dan putus asa. Kelemahan seorang panutan akan menularkan perasaan ketidak berdayaan kepada orang yang meneladaninya.

Ketika ingin mengeluh dan mengadu, sampaikanlah keluhan dan pengaduan tersebut kepada Allah swt. Nabi saw. pun pernah mengeluh kepada Allah swt. Dalam perjalanan pulang dari Taif menuju ke Makkah, ketika dakwah beliau ditolak oleh penduduk Taif, bahkan beliau dihina, dilempari dengan batu sehingga kaki beliau mengucurkan darah dan diusir dari Taif. Beliau kemudian menyampaikan keluhannya kepada Allah swt. dengan berkata:

 

اللهم إني أشكو إليك ضعف قوتي وهواني على الناس،أرحم الراحمين أنت أرحم الراحمين إلى من تكلني إلى عدو يتجهمني أم إلى قريب ملكته أمري،إن لم تكن غضبان علي فلا أبالي،غير أن عافيتك أوسع لي،أعوذ بوجهك الذي أشرقت له الظلمات وصلح عليه أمر الدنيا والآخرة أن ينزل بي غضبك أو يحل بي سخطك،لك العتبى حتى ترضى ولا حول ولا قوة إلا بالله.

Artinya:

Ya Allah! Sesungguhnya aku mengadukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku dan kehinaanku atas manusia. Wahai yang paling Pengasih di antara yang Pengasih. Engkau yang Paling Pengasih di antara yang Pengasih. Kepada siapa Engkau akan menyerahkanku? Kepada musuh yang akan menyerangku? Atau kepada kerabat yang Engkau berikan kuasa kepadanya atasku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka saya tidak peduli. Hanya saja ‘afiyatmu lebih luas untukku. Saya berlindung dengan wajah-Mu yang telah menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat dari turunnya marah-Mu kepadaku atau murka-Mu yang menimpaku. Bagi-Mu hak sampai Engkau ridha. Tidak ada kekuatan yang menolak keburukan dan tidak ada kekuatan yang mendatangkan kebaikan kecuali dengan izin Allah swt.

(HR al-Tabrani)

 

Dalam keadaan bagaimanapun, seorang panutan harus selalu menjadi teladan dan memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang lain serta berusaha untuk tetap terlihat tegar, kuat dan menguatkan.

 

Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus