HIKMAH KEDELAPAN : MENEPATI JANJI (09/04/2018)

 

Orang yang selalu menepati janji akan mendapatkan kepercayaan, persahabatan, cinta dan kehormatan. Sementara orang yang sering mengingkari janjinya akan kehilangan semuanya.

 

Kesan apa yang anda rasakan ketika ada seseorang yang berkali-kali berjanji, namun seringkali mengingkarinya?

Perasaan jengkel, kesal dan marah. Mungkin itulah yang anda rasakan.

 

Begitulah pentingnya menepati janji. Integritas seseorang, salah satunya diukur dari kesungguhannya untuk menepati janji. Orang yang selalu berusaha untuk menepati janjinya akan mendapatkan kepercayaan, persahabatan, cinta dan kehormatan. Sementara orang yang tidak menepati janji akan kehilangan semuanya.

Dalam agama, seseorang yang apabila berjanji kemudian mengingkarinya dipandang sebagai orang yang memiliki ciri-ciri kemunafikan.

Rasulullah saw. bersabda:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila ia bicara, ia dusta, apabila ia berjanji ia mengingkari dan apabila diberi amanah ia mengkhianatinya.

(HR al-Bukhari)

 

            Ada banyak faktor yang bisa menjadikan seseorang sering mengingkari janji. Di antaranya menganggap sepele sebuah janji. Pada dasarnya sebuah janji adalah komitmen diri dan salah satu ukuran kepribadian seseorang, maka tidak seharusnya janji disepelekan.

            Penyebab lainnya adalah karena tidak mengukur kemampuan diri ketika berjanji. Sikap seperti ini seringkali terjadi ketika seseorang hanya mencari jalan pintas untuk meraih sebuah keinginan atau mendapatkan sesuatu dari orang lain.

Misalnya saja, ketika ada yang ingin berhutang dan mendapatkan pinjaman dari orang lain, maka dengan mudahnya dia berjanji akan mengembalikannya pada waktu tertentu tanpa mengukur kemampuannya, karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan pinjaman.

            Begitu pula adanya, ketika ada seseorang yang mencalonkan diri menjadi pejabat, maka demi mendapatkan jabatan tersebut, dengan mudahnya ia menjanjikan sesuatu kepada siapapun yang diharapkan bisa memuluskan keadaannya.

            Jangan terlalu mudah berjanji dan jangan terlalu sering berjanji. Pikirkan sebelumnya dengan seksama. Ukur dulu kemampuan diri. Setelah yakin atau menduga kuat akan bisa menunaikannya, maka silahkan berjanji.

Jangan lupa ketika berjanji untuk mengembalikannya kepada Allah swt. dengan ucapan ‘insyaallah’ karena manusia hanya bisa merencanakan dan mengupayakan, tetapi hanya Allah yang kuasa mewujudkannya. 

 

Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus