Hikmah Kesembilan : Menunaikan Kewajiban (13/04/2018)

  Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Dalam setiap interaksi yang melibatkan dua pihak, apapun bentuknya, akan selalu meniscayakan adanya kewajiban dan hak. Tunaikanlah kewajiban seikhlas mungkin, tanpa mengharapkan pemenuhan hak secara berlebihan. Yakinlah! Kalau kewajiban sudah ditunaikan, maka Allah pasti akan memenuhi hak. Kalau tidak diperoleh dari orang yang semestinya di tempat yang seharusnya, maka Allah akan memberinya melalui orang lain di tempat yang berbeda. Bahkan kalaupun tidak didapatkan di dunia, maka bersyukurah karena itu artinya Allah telah menginvestasikannya di akhirat dengan balasan yang pasti berlipat ganda. Allah tidak akan pernah menganiaya hamba-hamba-Nya.

 

Seberapa sungguh-sungguh anda berusaha menunaikan kewajiban?

Dan seberapa ngotot anda menuntut hak?

 

Dalam kehidupan manusia di dunia ini, interaksi dengan orang lain adalah suatu keniscayaan. Setiap interaksi yang melibatkan dua pihak, apapun bentuknya, interaksi antara pemimpin dengan rakyat, interaksi antara atasan dengan bawahan, interaksi antara tokoh agama dengan umat, interaksi antara pendidik dengan orang dididik, interaksi antara orang tua dengan anak, interaksi antara suami dengan istri, interaksi di antara dua sahabat, akan selalu melahirkan adanya kewajiban dan hak.

Penunaian kewajiban dengan tuntutan pemenuhan hak mesti diseimbangkan dalam setiap interaksi di antara dua pihak.  Keseimbangan antara pelaksanaan kewajiban dengan tuntutan pemenuhan hak dikemukakan dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Di antaranya Allah swt. berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Terjemah:

Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.

(QS al-Baqarah: 228).

 

Di dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan keseimbangan hak dengan kewajiban di antara suami istri. Keseimbangan akan menciptakan harmoni dalam rumah tangga. Sebaliknya, ketimpangan akan menimbulkan disharmoni dan konflik.

Dalam konteks hubungan yang harmonis antara pemimpin dengan rakyat, Rasulullah saw menjelaskan dalam hadis berikut:

 

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ »

 

Artinya:

Dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan kalian juga mencintai mereka, pemimpin yang mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Sejahat-jahat pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian, pemimpin yang kalian kutuk dan mereka mengutuk kalian.

(HR Muslim)

 

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. membandingkan dua jenis pemimpin, yaitu pemimpin yang baik dan pemimpin yang jahat. Kedua jenis pemimpin tersebut bisa dibedakan berdasarkan interaksinya dengan masyarakat yang dipimpin.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyat. Kecintaan pemimpin kepada rakyatnya, tentunya akan menumbuhkan cinta rakyat kepada pemimpinnya. Pemimpin yang baik juga adalah pemimpin yang mendoakan kebaikan untuk rakyatnya. Ketulusan seorang pemimpin dalam mendoakan kebaikan untuk rakyatnya, tentunya akan mendorong rakyatnya untuk juga mendoakan kebaikan untuk pemimpinnya.

Sebaliknya, pemimpin yang jahat adalah pemimpin yang membenci rakyatnya Kebencian seorang pemimpin kepada rakyatnya akan menumbuhkan kebencian di hati rakyat kepada pemimpinnya. Pemimpin yang jahat juga adalah pemimpin yang terbiasa mengutuk rakyatnya dan mempersalahkan mereka. Kutukan yang dengan mudah keluar dari lisan seorang pemimpin akan menyebabkan rakyat membalas untuk mengutuk mereka. 

Menyeimbangkan antara pelaksanaan kewajiban dengan tuntutan pemenuhan hak adalah sikap yang bijaksana. Jangan sampai yang terjadi adalah tuntutan pemenuhan hak secara belebihan dengan mengeyampingkan pelaksanaan kewajiban. Bahkan akan sangat terpuji apabila seseorang melaksanakan kewajiban dengan seikhlas mungkin, tanpa mengharapkan pemenuhan hak secara berlebihan.

Kalau seseorang sudah menunaikan kewajibannya, maka Allah pasti akan memenuhi hak-haknya dengan cara yang terkadang tidak biasa. Ada yang mendapatkan haknya dari tempat yang semestinya menurut ukuran manusia, namun adapula yang memperolehnya dengan cara yang tidak disadarinya. Terkadang Allah memberikan hak kepada seseorang melalui orang lain di tempat yang berbeda.

Boleh jadi, ada seseorang bekerja keras di suatu tempat dengan mengerahkan upaya yang maksimal, namun mendapatkan imbalan yang tidak seimbang, namun di kali lain ia berkerja di tempat yang berbeda dan malah mendapatkan imbalan yang jauh lebih besar melebihi harapannya. 

Bahkan kalaupun hak tidak didapatkan di dunia, maka tetaplah bersyukur karena itu artinya Allah telah menangguhkan imbalan di dunia dan menginvestasikannya di akhirat dengan balasan yang berlipat ganda.

Yakinlah! Allah tidak akan pernah menganiaya hamba-hamba-Nya.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus