Hikmah Kesebelas : Menyikapi Masa Lalu (26/04/2018)

Assalamu Alaikum Wr Wb.

 

Masa lalu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan yang tak mungkin untuk diubah lagi. Masa lalu ada yang terasa indah, namun tidak sedikit pula yang kelam. Masa lalu yang indah bukan hanya untuk dijadikan sebagai kenangan, tetapi untuk dijadikan sebagai alarm pengingat ketika sudah terlalu jauh menyimpang dari yang semestinya. Masa lalu yang kelam bukan untuk disesali, tetapi sebagai pelajaran agar tidak lagi terulang pada diri sendiri dan orang lain.

 

Pernahkah anda sejenak meluangkan waktu untuk mengenang kembali apa yang telah dialami pada masa lalu?

Kalau pernah, kenangan apa yang paling anda ingat?

Kenangan indah yang menyenangkan atau kenangan buruk yang menyesakkan, atau mungkin dua-duanya?

 

Begitulah kehidupan manusia. Ia tidak terlepas dari tiga masa, masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa sekarang adalah lanjutan dari apa yang dialami pada masa lalu, karena itu keadaan di masa sekarang sangat ditentukan oleh cara menjalani hidup di masa lalu.

Bagaimanapun juga, masa lalu adalah bagian dari kehidupan seseorang yang tak terpisahkan dari dirinya yang tak mungkin untuk diubah lagi. Masa lalu ada yang terasa indah, namun tidak sedikit pula yang kelam. Masa lalu yang indah bukan hanya untuk dijadikan sebagai nostalgia dalam kenangan, tetapi banyak manfaat yang bisa diambil untuk kebaikan masa sekarang dan masa yang akan datang.

Masa lalu yang positif karena diisi dengan berbagai kebaikan seyogyanya dijadikan sebagai pengingat dan penyemangat, ketika di masa sekarang sudah mengalami perubahan. Sebagian orang terkadang menjadikan masa lalunya yang positif hanya sebatas kenangan.

 

Ada yang berkata: “Dulu saya pernah belajar agama, tetapi sekarang….

Ada lagi yang berkata: “Dulu saya juga rajin ibadah, tetapi sekarang …

Ada juga yang berkata: “Dulu, Alhamdulillah, saya juga termasuk orang yang baik lah, tetapi sekarang …   ”

 

Kebaikan-kebaikan di masa lalu bukan hanya untuk jadi kenangan, tetapi merupakan bukti nyata bahwa kalau di masa lalu bisa melakukan kebaikan, maka di masa sekarang dan di masa yang akan datang, pasti juga akan bisa melakukannya sepanjang ada kemauan dan usaha keras. 

Sebaliknya, masa lalu yang kelam bukan untuk disesali, tetapi sebagai pelajaran agar tidak lagi terulang pada diri sendiri dan orang lain. Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt. memerintahkan kepada manusia untuk mengambil pelajaran dari berbagai kejadian di masa lalu, baik yang dialami sendiri ataupun yang dialami oleh orang lain, baik kejadian yang bersifat individu yang dialami secara perseorangan ataupun kejadian yang dialami oleh satu komunitas. Allah swt. berfirman:

 

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (137) هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138)

Terjemah:

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah; karena itu berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (pesan-pesan Allah). Ini adalah penjelasan bagi seluruh manusia, petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang bertakwa”.

(QS Ali Imran: 137-138)

 

Dalam ayat di atas, setelah Allah swt. menegaskan sunnah dalam arti hukum kemasyarakatan yang telah terjadi pada orang-orang yang terdahulu, Allah swt. kemudian memerintahkan kepada manusia melalui Rasul-Nya untuk mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan kesudahan orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Allah swt.

Sejarah telah banyak menceritakan betapa banyak orang atau kaum yang pada awalnya mendapatkan kejayaan, namun kemudian mengalami kejatuhan dan keruntuhan setelah meninggalkan tuntunan Allah swt dan mengabaikan hak-hak orang lain.

Semoga masa lalu bisa dijadikan sebagai peringatan dan pertunjuk sehingga masa sekarang bisa lebih baik daripada masa lalu dan masa depan bisa lebih baik lagi daripada masa sekarang.

 

Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI


Salam
Pengurus