Hikmah Kelima Belas : Kekayaan Sejati (22/06/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Banyaknya harta bukanlah jaminan kebahagiaan hidup. Tingginya jabatan bukanlah jaminan ketenangan batin. Banyaknya pengikut bukanlah jaminan keselamatan diri. Kebahagiaan, ketenangan dan keselamatan terletak pada hati yang selalu bersyukur kepada Allah swt Kekayaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, tetapi pada kelapangan hati.

            Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial terkenal pada bulan Juni tahun 2017 merilis daftar orang terkaya di dunia. Berdasarkan data dari Forbes, jumlah orang Indonesia yang masuk dalam daftar orang terkaya di dunia sebanyak 20 orang dari 1.810 miliarder di seluruh dunia. Sebagai catatan, orang yang bisa disebut miliarder dunia adalah mereka yang memiliki kekayaan pribadi minimal senilai 1 miliar dolar atau sekitar 13 triliun rupiah (kurs Rp. 13.000).

 

            Apakah sejatinya yang menjadi ukuran kekayaan seseorang?

Kaya artinya tidak membutuhkan yang lain. Sehingga hakikatnya yang kaya hanyalah Allah swt., karena hanya Allah sajalah yang tidak membutuhkan yang lain, sementara selain Allah swt pasti membutuhkan yang lain.

Adapun dari sisi makhluk, maka orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang dia miliki.

Kekayaan seringkali diidentikkan dengan banyaknya harta, padahal banyaknya harta bukan merupakan jaminan bahwa seseorang sudah merasa berkecukupan.

            Masalah manusia sesungguhnya bukanlah pada sedikit banyaknya harta yang dimiliki, tetapi pada merasa cukup atau tidak merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

            Seseorang yang memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup dengan yang apa yang telah dimiliki, maka pada hakikatnya dia adalah orang miskin. Sebaliknya, seseorang yang memiliki harta yang tidak banyak dari segi jumlah, tetapi merasa cukup dengan apa yang telah ia miliki, maka pada hakikatnya dia adalah orang yang kaya.

            Nabi saw telah mengingatkan akan ukuran kekayaan tersebut melalui sabdanya:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw ia bersabda: “ Bukanlah kekayaan itu mempunyai banyak harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati.

(HR. al-Bukhari)

 

Dalam al-Quran pada surah al-Qalam ayat 8 sampai dengan 16, Allah swt. menceritakan tentang Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh yang menyandang sekian banyak sifat buruk seperti pendusta, penyumpah, suka mencela, pengumbar fitnah, penghalang kebaikan, pelampaui batas, pendurhaka, kasar dan sangat terkenal kebejatannya.

Sifat-sifat buruk yang disandangnya itu lahir karena ia adalah seorang yang dikenal, serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak dan terpandang. Ia lupa bahwa banyaknya harta bukanlah jaminan kebahagiaan hidup. Tingginya jabatan bukanlah jaminan ketenangan batin. Banyaknya pengikut bukanlah jaminan keselamatan diri.

Kebahagiaan, ketenangan dan keselamatan terletak pada hati yang selalu bersyukur kepada Allah SWT.

 

Oleh : Dr. Syahrir Nuhun, Lc.M.THi.


Salam
Pengurus