Hikmah Keenam Belas : Memulai dan Mengakhiri dengan cara yang Baik (28/06/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Ketika memulai satu pekerjaan dengan cara yang baik, maka usahakanlah untuk mengakhirinya juga dengan cara yang baik. Namun apabila terlanjur memulainya dengan cara yang buruk, janganlah putus asa. Usahakan untuk mengakhirinya dengan cara yang baik. Sungguh yang dinilai adalah hasil akhir dan prosesnya, bukan hanya awal memulainya.

 

 

“Sudah terlanjur dan saya tidak bisa lagi memperbaikinya.”

Itu keluhan seorang teman yang merasa putus asa atas kesalahan yang dilakukan ketika memulai pekerjaannya.

 

Memulai pekerjaan dengan cara yang baik memang penting, tapi jauh lebih penting mengakhirinya dengan cara yang baik. Oleh karena itu, ketika memulai satu pekerjaan dengan cara yang baik, maka usahakanlah untuk mengakhirinya juga dengan cara yang baik.

Namun apabila terlanjur memulainya dengan cara yang buruk, janganlah putus asa. Usahakan untuk tetap mengakhirinya dengan cara yang baik. Sungguh yang dinilai adalah hasil akhir dan prosesnya, bukan hanya awal memulainya.

Bahkan kehidupan seorang manusia pun di dunia ini akan dinilai dari akhir hidupnya, bukan dari awal hidupnya.

Rasulullah saw. menjelaskan dalam hadis berikut:

 

عَنْ سَهْلٍ أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنِ الْمُسْلِمِينَ فِى غَزْوَةٍ غَزَاهَا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - فَنَظَرَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَاتَّبَعَهُ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ ، وَهْوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ ، حَتَّى جُرِحَ فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ ، فَجَعَلَ ذُبَابَةَ سَيْفِهِ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - مُسْرِعًا فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ . فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ » . قَالَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَيْهِ » . وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِنَا غَنَاءً عَنِ الْمُسْلِمِينَ ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ لاَ يَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ فَلَمَّا جُرِحَ اسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَقَتَلَ نَفْسَهُ . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عِنْدَ ذَلِكَ « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ »

Artinya:

Dari Sahl bahwasanya ada salah seorang dari prajurit kaum muslimin yang pemberani dalam satu peperangan bersama Nabi saw. lalu Nabi saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin melihat kepada seseorang penghuni neraka, maka lihatlah orang ini. Maka salah seorang dari kaumnya mengikutinya, pada saat itu ia merupakan orang yang sangat keras terhadap orang-orang musyrik sampai kemudian ia terluka, lalu ia menyegerakan kematiannya. Serta merta ia mengambil ujung pedangnya, lalu ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan ke dadanya sampai menembus di antara kedua lengannya. Maka laki-laki yang mengikutinya bersegera menghadap kepada Nabi saw. lalu berkata: “Saya bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah”. Rasulullah saw bertanya: “Ada apa?”. Ia menjawab: “Engkau berkata kepada si Fulan: Barang siapa yang ingin melihat kepada seseorang dari penghuni neraka, maka lihatlah orang ini. Sesungguhnya dia merupakan seorang laki-laki pemberani, saya menduga dia akan mati dalam keadaan (baik) seperti itu, namun ternyata ia tidak mati dalam keadaan sepeti itu. Ketika ia terluka, ia menyegerakan kematiannya dan ia bunuh diri. Maka Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba terliha beramal dengan amal penghuni neraka, tetapi dia adalah penghuni surga dan seseorang terlihat beramal dengan amal penghuni surga, tetapi dia adalah penghuni neraka. Sesungguhnya amalan itu tergantung akhirnya. 

(HR al-Bukhari)

            Hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh mudah terpukau dengan apa yang sudah dimulai dan dilakukannya, karena akhirnya belum tentu sama dengan awalnya.

            Mulailah dengan cara yang baik, berproseslah dengan cara yang baik dan usahakan untuk mengakhirinya juga dengan cara yang baik.

 

oleh : Dr. Syahrir Nuhun, Lc, M.THi

 


Salam
Pengurus