Hikmah Kedua Puluh Satu : Mencintai dan membenci dengan Cara yang Sewajarnya (06/08/2018)

Cinta dan benci adalah emosi jiwa yang bersifat dinamis, sangat mudah berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain. Oleh karenanya, apabila engkau mengagumi seseorang, janganlah memujinya dengan cara yang berlebihan, karena boleh jadi orang yang paling kamu kagumi saat ini akan berubah menjadi orang yang kamu benci suatu saat kelak. Sebaliknya apabila engkau membenci seseorang, janganlah berlebihan dalam mencercanya. Boleh jadi orang yang paling kamu benci saat ini, akan menjadi orang yang paling kamu kagumi suatu saat kelak.

Cinta dan benci adalah emosi jiwa yang bersifat dinamis, sangat mudah berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain. Oleh karenanya, apabila engkau mengagumi seseorang, janganlah memujinya dengan cara yang berlebihan, karena boleh jadi orang yang paling kamu kagumi saat ini akan berubah menjadi orang yang kamu benci suatu saat kelak. Sebaliknya apabila engkau membenci seseorang, janganlah berlebihan dalam mencercanya. Boleh jadi orang yang paling kamu benci saat ini, akan menjadi orang yang paling kamu kagumi suatu saat kelak.

 

Betapa banyak manusia di dunia ini yang dulunya saling memuji, menyanjung dan mencintai, kemudian berubah menjadi saling menghujat, memaki dan membenci. Demikian pula sebaliknya.

Begitulah hati manusia. Hati yang merupakan wadah cinta dan kebencian, keadaannya digambarkan oleh Nabi saw. lebih cepat mengalami perubahan dibandingkan dengan air yang mendidih.

Cinta dan benci adalah emosi jiwa yang bersifat dinamis, sangat mudah berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain. Oleh karena itu, apabila mengagumi seseorang, jangan memujinya dengan cara yang berlebihan, karena boleh jadi orang yang paling kamu kagumi saat ini akan berubah menjadi orang yang kamu benci suatu saat kelak. Sebaliknya apabila engkau membenci seseorang, janganlah berlebihan dalam mencercanya. Boleh jadi orang yang paling kamu benci saat ini, akan menjadi orang yang kamu kagumi suatu saat kelak

Oleh karena perubahan hati manusia yang begitu cepat tersebut, maka seyogyanya cinta dan benci diekspresikan dengan cara yang wajar, tidak berlebihan.

Rasulullah saw. telah mengingatkan hal tersebut melalui hadis berikut:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أُرَاهُ رَفَعَهُ قَالَ « أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا ».

Artinya:

Dari Abu Hurairah, ia menyandarkannya kepada Rasulullah saw: “Cintailah kekasihmu sekedarnya saja karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang kamu benci sekedarnya saja. Bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja karena boleh jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu hari nanti.

(HR. at-Turmudzi)

 

Memperoleh cinta dari orang lain adalah karunia yang sangat besar. Semakin banyak yang mencintai, semakin banyak karunia yang diperoleh. Maka jangan menyia-nyiakan anugerah cinta dari orang lain. Jaga agar cinta itu awet, terjaga dan terpelihara. Jangan membiarkan cinta itu memudar apalagi berubah menjadi kebencian.

 

Oleh :  Dr. Syahrir Nuhun, Lc.,M.THi


Salam
Pengurus