Hikmah Kedua Puluh Enam : Bersikap Adil (11/09/2018)

Sebesar apapun kebencianmu terhadap seseorang, Itu bukanlah alasan yang benar untuk bersikap tidak adil terhadapnya. Tetaplah bersikap adil bahkan terhadap orang yang paling engkau benci sekalipun ataupun terhadap orang yang memusuhimu. Jika engkau bersikap tidak adil terhadap seseorang karena kebencianmu, maka sikapmu itu sesungguhnya telah membuatmu layak pula untuk ikut dibenci.

 

Kebencian seringkali mematikan akal sehat dan membutakan mata hati. Ketika kebencian kepada seseorang sudah merasuk ke dalam hati dan memenuhi rongga dada, maka biasanya yang diingat pada orang dibenci hanyalah keburukan-keburukannya, sementara kebaikan-kebaikannya menjadi terlupakan.

Perpisahan di antara suami istri tidak jarang menyisakan dendam yang tidak bisa padam. Dua orang yang tadinya bersahabat dekat bisa menjadi bermusuhan sehingga seakan-akan tidak penah ada persahabatan di antara keduanya. Kompetisi yang keras di antara dua pihak tidak jarang membuat pemenang menjadi tidak adil dan semena-mena terhadap pihak yang kalah. Sebaliknya pihak yang kalah menjadi tidak adil dan senang mencari-cari kesalahan pihak yang menang.

Sebesar apapun kebencian terhadap seseorang, seharusnya tidak dijadikan alasan untuk bersikap tidak adil terhadapnya. Tetaplah bersikap adil terhadap orang yang paling dibenci sekalipun, bahkan terhadap orang yang memusuhi.

Allah swt. memerintahkan kepada orang yang beriman dalam firman-Nya sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون

Terjemah:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) kalian menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah Maha teliti terhadap apa yang kalian kerjakan 

(QS al-Maidah: 8)

 

Dalam ayat di atas, secara tegas Allah swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjadi penegak keadilan dan bersikap adil bahkan terhadap orang yang dibenci sekalipun. Ketika seseorang bersikap tidak adil terhadap orang lain hanya karena kebenciannya, maka sikap itu sesungguhnya telah membuatnya layak untuk mendapatkan kebencian pula.

Keadilan dituntut dalam segala hal Di antaranya seperti yang disebutkan dalam hadis berikut ini:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا »

 

Artinya:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan ar rahman ‘azza wa jalla dan kedua tangannya adalah kanan. (Orang-orang yang adil) yaitu orang-orang yang adil dalam keputusan mereka, keluarga dan orang-orang di bawah kewenangan mereka.

(HR. Muslim)

 

Hadis di atas sekaligus menunjukkan keutamaan orang yang adil di sisi Allah swt. karena mereka akan ditempatkan di atas mimbar yang terbuat dari cahaya di sisi kanan Allah swt. Berlaku adillah karena hanya keadilan dalam bersikaplah yang akan sanggup mengantarkan seseorang kepada ketakwaan.

 

(Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc, M.Thi)

 


Salam
Pengurus