Hikmah Kedua Puluh Tujuh : Proporsional dalam Menilai (17/09/2018)

Assalamu Alaikum Wr.WB

 

Apabila engkau hanya mengingat keburukan seseorang, lalu menyebarkannya kepada orang banyak, sementara engkau melupakan kebaikannya, berarti engkau telah menganiayanya. Sebanyak apapun keburukan seseorang, pasti ada kebaikannya sesedikit apapun. Sebaliknya sebanyak apapun kebaikanmu, pasti ada keburukanmu sesedikit apapun. Tetap ingat kebaikan orang lain dan senantiasalah mengingat keburukanmu.

  

Sifat apakah yang paling mudah anda ingat dari orang lain?

Sifat baik atau Sifat buruknya?

Perbuatan apakah yang paling sering anda ceritakan tentang orang lain?

Perbuatan baik atau perbuatan buruknya?

 

Kalau anda menjawab bahwa sifat buruk orang lain yang paling mudah anda ingat dan perbuatan buruk orang lain yang paling sering anda ceritakan, maka berhati-hatilah Itu artinya anda sudah melakukan kesewenang-wenangan.

Ketika seseorang hanya mengingat keburukan orang lain, lalu menyebarkannya kepada orang banyak, sementara kebaikannya dilupakan atau disembunyikan, berarti ia telah menganiayanya.

Ibnu Sirin pernah berkata:

 

عَنِ ابْنِ سِيْريْنَ قَالَ ظَلَمْتَ أَخَاكَ إِذَا ذَكَرْتَ مَسَاوِئَه وَلَمْ تَذْكُرْ مَحَاسِنَه

Artinya:

Dari Ibn Sirin ia berkata: “Engkau telah menganiaya saudaramu apabila engkau menyebut keburukannya dan tidak menyebut kebaikannya.

(al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi)

           

Ungkapan di atas sangat populer di kalangan ulama hadis, terutama di kalangan ulama al-Jarh wat Ta’dil. Salah satu cabang ilmu di antara sekian banyak cabang dalam disiplin ilmu hadis, yaitu ilmu al-Jarh wat Ta’dil. Ilmu al-Jarh wat Ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah dalam memberikan penilaian terpuji kepada seorang periwayat hadis dan memberikan penilaian tercela.

            Meskipun dalam ilmu tersebut, para ulama hadis memberikan penilaian tercela selain tentu saja penilaian terpuji terhadap seorang periwayat hadis, tetapi tetap saja adab dan etika dijunjung tinggi. Di antara adab dalam melakukan penilaian terhadap seorang periwayat hadis yaitu proporsional dalam memberikan penilaian, teliti dalam melakukan pembahasan dan penilaian serta selalu menjaga etika kesopanan.

Proporsional yang dimaksud, yaitu tetap menyebutkan pujian terhadap periwayat selain penilaian yang tercela. Sikap semacam ini seyogyanya juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang lain. Begitu banyak orang yang hanya bisa mengingat keburukan-keburukan orang lain, tetapi dengan mudahnya melupakan kebaikannya.

Sebanyak apapun keburukan seseorang, pasti ada kebaikannya sesedikit apapun. Sebaliknya sebanyak apapun kebaikan diri sendiri, pasti ada keburukan sesedikit apapun. Begitulah keadaan setiap manusia. Oleh karena itu, berusahalah untuk tetap mengingat kebaikan orang lain dan senantiasalah mengingat keburukan diri sendiri.

 

(Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc, M.THi)


Salam
Pengurus