Hikmah Kedua Puluh Delapan : Bijak dalam Memutuskan (26/09/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb

Pertimbangkanlah segala sesuatunya dengan matang, lalu putuskanlah dengan hati yang tenang dan kepala dingin. Keputusan yang diambil dalam keadaan emosi, terlalu sedih atau terlalu bahagia seringkali tidak bijaksana. Kalaupun terlanjur memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana, jangan pernah merasa malu untuk mempertimbangkan kembali dan membuat keputusan yang lain. Menyesal karena mengambil keputusan yang salah seharusnya diikuti dengan perbaikan. Kalau tidak, maka penyesalan pertama akan diikuti dengan penyesalan yang berikutnya.

 

Salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh ibu-ibu pengajian berkaitan dengan urusan keluarga adalah tentang sikap suami yang karena emosi dan kemarahan cenderung mudah mengambil keputusan dan dengan gampangnya mengucapkan kata-kata cerai.

 

Kondisi hati seseorang akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil. Perasaan marah menyebabkan daya nalar seseorang berubah sehingga tidak dapat menempatkan persoalan secara proporsional dan akhirnya mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.

Maka sebelum mengambil keputusan, hendaklah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang, lalu memutuskan dengan hati yang tenang dan kepala dingin.

Keputusan yang diambil dalam keadaan emosi seringkali tidak bijaksana. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan agar tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ.قَالَ كَتَبَ أَبِى - وَكَتَبْتُ لَهُ - إِلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ وَهُوَ قَاضٍ بِسِجِسْتَانَ أَنْ لاَ تَحْكُمَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ يَحْكُمْ أَحَدٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ ».

 

Artinya:

Dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah ia berkata, bapakku menulis surat kepadaku-dan saya menulis untuknya- kepada ‘Ubaidillah bin Abi Bakrah ketika menjadi hakim di Sijistan agar tidak memutus perkara di antara dua orang dalam keadaan marah karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seseorang di antara kalian memutus perkara di antara dua orang dalam keadaan marah.”

(HR Muslim)

           

Hadis di atas secara tegas menunjukkan larangan bagi seorang hakim untuk memutuskan perkara dalam keadaan marah karena keputusan yang diambil dalam keadaan seperti itu berpotensi menyimpang dari kebenaran atau menjadikan seorang hakim tidak mengetahui kebenaran sehingga memberikan keputusan yang salah.

Meskipun hadis di atas berkaitan dengan hakim ketika hendak mengambil keputusan, tetapi ia bisa berlaku umum bagi siapa saja ketika hendak mengambil keputusan.

Sebagaimana pula, meskipun di dalam hadis hanya menyebutkan larangan memutuskan perkara dalam keadaan marah, tetapi sesungguhnya larangan ini mencakup semua hal yang dapat mengubah cara berpikir atau dapat mengganggu konsentrasi jiwa sehingga menyebabkan keputusan yang diambil menjadi tidak bijaksana, misalnya terlalu sedih, terlalu bahagia, sangat lapar dan haus atau sangat mengantuk.

            Kondisi seperti ini juga berpotensi untuk mengganggu daya nalar sehingga memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana.

Lalu bagaimana jika seseorang terlanjur memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana dalam kehidupan ini?

Kalaupun terlanjur memutuskan sesuatu dengan tidak bijaksana, jangan pernah merasa malu untuk mempertimbangkan kembali dan mengubahnya serta mengambil keputusan yang lain. Menyesal karena mengambil keputusan yang salah seharusnya diikuti dengan perbaikan. Kalau tidak, maka penyesalan pertama akan diikuti dengan penyesalan yang berikutnya.

Seringkali ada orang yang tidak mau mengubah keputusan yang sudah diambil meskipun ia sadar bahwa keputusan itu salah karena rasa malu atau gengsi.

Mengubah keputusan yang salah adalah sikap yang bijaksana dan jauh lebih baik daripada membiarkan diri dalam keputusan yang salah. 

 

Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc.,THi

 


Salam
Pengurus