Hikmah Ketiga Puluh : Menjaga Ucapan dan Tindakan (29/10/2018)

Assalamu alaikum Wr. Wb.

 

Satu orang yang membencimu, sudah sangat banyak, karena akan sangat menyesakkan hati dan membuat dunia terasa sempit. Seribu orang yang mencintaimu, masih terlalu sedikit. Maka berhati-hatilah dalam berucap dan bertindak. Jangan membuat orang yang tadinya mencintaimu berubah menjadi orang yang sangat membencimu.

Pernahkah anda mengalami berada di suatu lokasi yang sama dengan orang yang membencimu?

Kalau pernah apa yang anda rasakan ketika itu? Merasa sempit dan terhimpit

 

Begitulah kebencian. Tempat yang boleh jadi luas, tetapi justru akan terasa sangat sempit. Satu orang yang membenci, sudah sangat banyak, karena akan sangat menyesakkan hati dan membuat dunia terasa sempit. Sebaliknya, seribu orang yang mencintai, masih terlalu sedikit.

Cobalah sejenak meluangkan waktu untuk mengingat kembali orang-orang yang dulunya sering bersamamu, selalu menemanimu dalam berbagai suasana, membagi suka dan duka, tetapi kemudian berubah drastis menjadi orang yang membencimu.

Lalu renungkanlah apa sesungguhnya yang menjadi penyebab cinta itu berubah menjadi kebencian?

Boleh jadi ada ucapan dan tutur kata yang telah melukai hatinya atau tindakan buruk yang sulit untuk dia lupakan.

 

Mulailah untuk lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Jangan membuat orang yang tadinya mencintaimu berubah menjadi orang yang sangat membencimu.

Rasulullah saw. pernah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ  ...

Artinya:

Dari Abu Hurairah dari rasulullah saw, beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam…”

(HR. Muslim)

 

            Di dalam hadis di atas Rasulullah saw. memberikan pilihan kepada orang yang beriman untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Keduanya itulah, ucapan baik dan diam ketika tidak bisa berkata baik, yang merupakan indikator keimanan seseorang.

            Pernyataan Rasulullah saw. di atas jauh lebih bijak dibandingkan dengan peribahasa yang menyatakan bahwa diam itu emas dan bicara itu perak. Peribahasa tersebut menyatakan bahwa diam lebih baik daripada bicara, padahal tidak selamanya diam lebih baik daripada bicara. Bicara yang baik justru lebih baik daripada diam. Diam baru lebih baik daripada bicara apabila pembicaraan tidak lagi mendatangkan kebaikan.

            Tidak semua diam bernilai emas. Ada diam yang melambangkan kecerdasan dan kearifan seseorang, namun ada juga diam yang justru menunjukkan kebodohan. Sebaliknya, tidak semua bicara bernilai perak. Ada bicara yang lebih baik daripada diam, yaitu bicara yang baik dan penuh hikmah, namun ada juga bicara yang bahkan lebih rendah daripada perunggu. Bahkan ada bicara yang tidak ada nilainya sama sekali.  

 

Oleh  Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc. M.THi

 


Salam
Pengurus