Be Excellent with Develop Leaders “The job of a leader is create leaders” (04/12/2018)

Assalamu alaikum Wr . Wb.

Hal itu disampaikan oleh Handry Satriago President and CEO General Electric Indonesia. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menjadi CEO GE Indonesia setelah perusahaan ini beroperasi selama 70 tahun di negeri ini.

Suatu hari Jeff Immelt CEO General Electric pengganti Jack Welch berkunjung ke Indonesia. Maka dia pun dijemput oleh pak Handry ke bandara Soekarno Hatta. Saat di kendaraan maka ditanyalah Jeff Immelt mengapa selama 70 tahun baru sekarang memilih orang Indonesia.

Maka dia pun menjawab “Orang Indonesia lebih mudah mengatakan kata yes (ya) dan sulit mengatakan no (tidak). Sehingga tipikal umum karyawan GE di Indonesia adalah orang-orang penurut, pekerja keras, doers, dapat mencapai target. Namun semua hanya berbasis job description.

Sulit mencari tipe leaders yang mau mencapai lebih dari job description, extra miles. Sulit mencari tipe leaders yang berani menyampaikan pendapat yang berbeda, serta berfikir kreatif mencari  jalan keluar. Cenderung menunggu petunjuk atasan”.

Mari kita cermati sekeliling kita. Tipe mana yang banyak ada di perusahaan ini, apakah doers atau leaders. Secara jujur masih banyak yang bertipe doers. Tidak berani berbeda pendapat, berinisiatif melakukan terobosan. Mengapa? Faktornya ada dua yaitu internal dan eksternal.

Internal yaitu pribadi yang bersangkutan. Secara umum orang Indonesia adalah hasil pendidikan yang “multiple choice” cenderung memilih bukan membuat pilihan. Cenderung menghapal ilmu pengetahuan, bukan memproduksi ilmu pengetahuan.

Lihatlah proses pendidikan kita yang menghapal isi buku kemudian dites dengan apa yang diingat dari isi buku tersebut. Jarang yang menggunakan pendekatan problem solving yang menuntut kreativitas dan terobosan.

Saat belajar di kelas pun hanya mendengar guru, jarang berdiskusi, atau berpendapat apalagi berbeda pandangan dengan guru atau dosen. Jika pun bertanya cenderung apa dan bagaimana, ke hal yang praktis. Jarang yang mengapa, ke hal yang mendasar dan prinsip.    

Hal ini berlanjut di dunia kerja. Mereka yang jadi bawahan lebih nyaman dengan perintah, prosedur, cenderung yes dan menurut saja untuk cari aman. Tidak berani berbeda pendapat apalagi dengan atasan.

Faktor eksternal yaitu di luar pribadi karyawan. Ini terkait dengan budaya perusahaan yang kuat pada budaya hirarki di mana segala berpusat pada atasan. Atasan pun cenderung ingin dituruti, bukan dikritisi.

Atasan pun tidak memberi wewenang lebih kepada bawahannya, sehingga bisa jadi secara jabatan sudah section head atau supervisor bahkan manajer tetapi cara kerja masih seperti staf. Selalu meminta petunjuk, tidak berani berkreasi dan berinisiatif.  Kalau menghadapi masalah tidak berani bertindak sebelum ada persetujuan.

Secara jangka pendek bisa jadi ‘tidak ada masalah’. Namun di masa depan akan muncul masalah besar saat para leaders yang sekarang ada sudah harus pensiun Saat butuh pelanjut ternyata sangat sedikit yang siap karena yang yang lahir bukan leaders tapi doers.

Padahal perusahaan harus terus bertahan, bahkan tumbuh dan berkembang lebih besar lagi. Oleh karena itu saatnya kita mengubah mind set. Jika ingin terus tumbuh dan berkembang maka para leaders harus melahirkan leaders yang lebih banyak lagi.

Sustainable strategy –nya adalah develop  leaders dengan membiasakan berfikir kreatif, analitis, berpendapat, berani dan siap menerima perbedaan pendapat, berinisiatif, dan pendelegasian. Semoga tumbuh para leaders yang berkualitas untuk membawa perusahaan menjadi lebih baik lagi.

“Be Excellent with Develop Leaders”.   

 

-Syamril-

Penulis buku 50 jalan Kalla, kerja ibadah

 


Salam
Pengurus