Kisah Inspirasi, BERTANYA"MENGAPA?" (14/12/2018)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Jika di tengah jalan terdapat sebuah batu besar, kemudian Anda diminta memindahkannya, apa yang pertama Anda tanyakan kepada orang yang menyuruh memindahkan batu tersebut?

Biasanya pertanyaan yang umum yaitu “Ke mana dipindahkannya?” atau “pakai apa?” Jarang sekali yang bertanya “mengapa dipindahkan?” atau “untuk apa dipindahkan?” Pertanyaan yang sering muncul lebih bersifat teknis, bukan filosofis.

Demikian pula dalam kehidupan, sangat jarang kita bertanya yang bersifat filosofis seperti “mengapa saya ada di dunia ini?” Atau “untuk apa saya hidup?” Padahal pertanyaan yang bersifat filosofis ini sangat penting dan menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Seperti halnya batu besar tadi.”Mengapa dipindahkan?” Jika jawabannya “karena menghalangi orang” atau “bisa mencelakakan kendaraan yang lewat”, berarti pemindahannya memiliki tujuan atau manfaat mulia.

Berbeda jika ceritanya seperti ini. Di dekat batu itu ternyata ada lubang besar. Batu sengaja dipasang untuk memberi tanda agar orang tidak terperosok ke dalam lubang. Jika dipindahkan berarti bisa mencelakakan orang.

Jika anda diminta memindahkannya, dan tahu kondisi itu, tentu saja Anda tidak mau memindahkannya.

Dalam ilmu manajemen dikenal ‘five why analysis” sebagai salah satu cara mencari akar masalah dengan bertanya ‘mengapa’ sampai lima kali.

Misalnya mengapa terlambat bangun? Karena terlambat tidur. Mengapa terlambat tidur? Karena begadang. Mengapa begadang? Karena mengerjakan tugas yang belum selesai. Mengapa belum selesai? Karena tugasnya kebanyakan.

Jika dirasa sudah tidak bisa lagi bertanya ‘mengapa?’ maka itulah akar masalahnya.  

Pendekatan ini bisa juga digunakan pada pertanyaan yang bersifat kontemplatif “five why contemplation”.

Cari pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Contohnya “mengapa bekerja?” Karena ingin punya uang. “Mengapa ingin punya uang?” “Karena harus membiayai diri dan keluarga”. Mengapa membiayai diri dan keluarga?” Karena tanggung jawab”. Mengapa tanggung jawab? Karena “amanah dari Sang Pencipta”.

Jadi ujungnya mengapa kita bekerja karena menjalankan amanah dari Sang Pencipta, mencari rejeki untuk membiayai diri dan keluarga. Tentu berbeda kalau hanya sampai jawaban pertama “ingin punya uang”. Jawabannya cenderung materialis. Hanya sekadar mengumpulkan harta.

Mengapa jadi pengusaha? Karena ingin kaya. Kalau hanya sampai di sini, berarti kapitalis. Coba kalau dilanjutkan pertanyaannya,

“mengapa ingin kaya?” Agar bisa membuat usaha lebih banyak lagi”. Mengapa ingin buat usaha lebih banyak lagi?” Agar banyak orang yang bekerja”. Mengapa? Agar bisa membantu banyak orang untuk mandiri secara ekonomi”. Mengapa? “agar tidak membebani orang lain dan Negara.

Jawaban ini tentu lebih bermakna. Itulah yang dinamakan ‘alasan keberadaan’ atau ‘misi’ yang menjawab ‘why we are in’.

Manusia diciptakan ke dunia tentu juga punya misi. Apa misinya? Berbagi. Apa yang dibagi? Manfaat. Maka wajar saja Rasulullah SAW bersabda “yang terbaik di antara kamu yaitu yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain”.

Itulah manifestasi manusia sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi ini. Pemimpin yang melayani. Itulah manifestasi manusia sebagai hamba Allah yang bersyukur dengan menggunakan segala nikmat dari Allah untuk hal-hal yang bermanfaat.

Akhirnya itu semua menjadi manifestasi ibadah manusia, ibadah yang bersifat sosial dan spiritual.

 

Syamril

Direktur Sekolah Islam Athirah

 


Salam
Pengurus