Hikmah Ketiga Puluh Enam : Mensyukuri Nikmat (01/03/2019)

Assalamu alaikum Wr Wb

 

Ketika nikmat Allah masih ada dalam genggaman, seringkali manusia tidak menyadari nilainya, sehingga ia kemudian menyia-nyiakannya. Namun ketika nikmat itu Allah cabut darinya, barulah manusia tersadar dan menyesali diri. Tidak ada yang lebih mengetahui nilai sebuah nikmat dibandingkan dengan mereka yang telah kehilangan nikmat tersebut. Namun mereka yang mendapatkannya kembali akan jauh lebih menyadari nilainya. Manfaatkanlah nikmat yang Allah karuniakan kepadamu sebelum engkau kehilangannya dan bersyukurlah apabila engkau diberi kesempatan kedua untuk memperoleh nikmat tersebut.

 

            Siapakah yang lebih menyadari nikmatnya kesehatan?

Bukan orang yang sehat, tetapi orang yang sakit.

Siapakah yang lebih menyadari nikmatnya waktu luang?

Bukan orang yang memiliki waktu luang, tetapi orang yang punya banyak kesibukan.

Siapakah yang lebih menyadari nikmatnya usia muda?

Bukan orang yang masih muda, tetapi orang yang sudah lanjut usia.

 

Begitulah nikmat Allah, ketika masih ada dalam genggaman, seringkali manusia tidak menyadari nilainya, sehingga ia kemudian disia-siakan. Namun ketika nikmat itu Allah cabut darinya, barulah manusia tersadar dan menyesali diri.

Sungguh benar ungkapan yang menyatakan: “Tidak ada yang lebih mengetahui nilai sebuah nikmat dibandingkan dengan mereka yang telah kehilangan nikmat tersebut”.

 

Bersyukur bukanlah perkara mudah. Secara jelas Allah swt. menyatakan di dalam al-Qur’an bahwa hanya sedikit di antara manusia yang tahu bersyukur.

Untuk memudahkan besyukur kepada Allah swt., Nabi saw. telah memberikan tuntunan. Di antara tuntunan tersebut, terdapat di dalam hadis berikut ini:

 

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Artinya:

Dari Nu’man bin Basyir ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan mensyukuri nikmat yang banyak. Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah swt. adalah wujud rasa syukur dan meninggalkannya adalah bentuk kekufuran. Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah azab.

(HR. Ahmad)

 

Di dalam hadis di atas, Rasulullah saw memberikan beberapa tuntunan untuk bisa bersyukur kepada Allah swt. Di antara tuntunan tersebut adalah:

Pertama, mensyukuri nikmat yang sedikit. Allah swt. memberikan nikmat kepada manusia, biasanya tidak langsung dalam jumlah yang banyak, tetapi bertahap. Apabila seseorang bisa mensyukuri nikmat yang sedikit tersebut, maka Allah swt menjanjikan akan menambah nikmat-Nya

Kedua,berterima kasih kepada manusia. Kemauan seseorang untuk berterima kasih kepada sesama menunjukkan kerendahhatian dan pengakuan terhadap orang lain. Sikap ini pada akhirnya akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Allah swt.

Ketiga, menceritakan nikmat kepada orang lain dan tidak menyembunyikannya. Menceritakan nikmat kepada orang lain diperbolehkan, bahkan dianjurkan selama itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt. dan ingin membagi rasa syukur tersebut dengan orang lain, bukan sebagai ungkapan kesombongan dan keinginan untuk membuat iri orang lain.     

 

Bersyukurlah atas nikmat yang telah Allah swt. karuniakan dengan mengakui di dalam hati bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah swt., lalu pujilah Allah swt dengan lisan yang tulus, kemudian gunakan nikmat tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Bersyukurlah atas segala nikmat-Nya, sebelum nikmat tersebut dicabut karena tidak disyukuri. Manfaatkanlah nikmat yang Allah karuniakan kepadamu sebelum engkau kehilangannya dan bersyukurlah apabila engkau diberi kesempatan kedua untuk memperoleh nikmat tersebut.

 

(Dr..Syahrir Nuhun, Lc.M.Th.I)

 


Salam
Pengurus