MENUNAIKAN SHALAT (09/03/2019)

Qasim Mathar

(Guru Besar Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar)

 

Alhamdulillah, semangat untuk menunaikan shalat (sembahyang) oleh ummat Islam tampak menggembirakan. Setidaknya hal itu ditunjukkan oleh informasi media sosial yang dikirimkan ke grup-grup media sosial. Ada statistik di media sosial yang menunjukkan bahwa sekitar tiga puluh persen, atau sepertiga dari  seluruh, kaum muda Muslim suka ke mesjid untuk menunaikan shalat. Ada video yang beredar di media sosial yang memperlihatkan dua orang polisi wanita, dengan berkendaraan mobil polisi berkeliling kota, melalui pembesar suara mobil tersebut, menyeru agar kaum laki-laki Muslim bersiap-siap untuk berangkat ke mesjid karena waktu untuk shalat Jumat sudah akan masuk.

Semangat menunaikan shalat yang demikian juga diserukan di mimbar-mimbar mesjid oleh para dai dan muballigh. Ada dai menyatakan mudahnya melakukan salat, sekalipun kita berpergian ke daerah. Katanya, sepanjang daerah, wilayah yang dilewati, terdapat mesjid-mesjid yang berdiri di pinggir jalan yang dilalui. Memang kenyataannya begitu.

Keadaan seperti itu, sekali lagi, tentu menggembirakan. Orang-orang Muslim menunaikan kewajiban dalam agama mereka, yaitu menunaikan shalat. Sesungguhnya, ajakan dan seruan untuk melaksanakan ajaran agama, seperti salat (sembahyang) itu, hendaklah diiringi dengan bimbingan bagaimana ajaran agama tersebut ditunaikan di dalam kondisi zaman sekarang.

Kalau diperhatikan sumber yang meriwayatkan praktik shalat Nabi Muhammad Saw., ternyata Nabi memberi contoh cara shalat yang bermacam-macam. Berkaitan dengan kesulitan dan kemudahan teknis salat, Nabi melakukan shalat jamak dan qasar. Shalat jamak ialah menunaikan dua waktu shalat pada satu waktu. Misalnya, shalat Zuhur dan Asar dilaksanakan pada waktu Zuhur, atau Asar. Jika dilaksanakan pada waktu Zuhur disebut jamak taqdim. Jika di waktu Asar disebut jamak takhir. Shalat Magrib dan Isya juga boleh dijamak demikian.

Shalat qasar ialah shalat yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Salat Magrib dan Subuh tidak diqasar. Shalat subuh tidak boleh dijamak dengan salainnya. Shalat yang boleh dijamak, boleh juga sekaligus diqasar.

Kemudahan salat yang demikian, dibimbingkan juga oleh Nabi tentang teknis yang lain. Misalnya, shalat dalam kondisi duduk, berbaring, dan sesuai kondisi orang Muslim. Salat duduk di pesawat udara, bukan hanya dilakukan oleh yang sedang dalam perjalanan umrah atau haji. Tapi, boleh juga dilakukan kapanpun selain umrah dan haji. Misalnya, dalam kondisi di dalam mobil di jalan yang macet. Tentu dalam kondisi begitu, cukup bertayammum, pengganti wuduk, di bagian mobil itu sebelum salat duduk di mobil.

Kemudahan salat sebagai yang dibimbingkan oleh Nabi, sebaiknya disebarluaskan juga agar shalat dengan mudah bisa ditunaikan dalam kondisi bagaimanapun. Tidak perlu diserukan keseragaman teknis shalat itu. Bagi yang berpergian keluar kota, boleh singgah di mesjid setiap waktu shalat, boleh juga sekali singgah tapi menjamak/mengqasar shalatnya. Jika mau, jalan terus, tapi shalat ditunaikan di dalam mobil, boleh juga. Nabi telah membawa dan mengajarkan Islam dengan segenap kemudahan-kemudahannya. Sebarluaskanlah segenap kemudahan itu dan jangan, memang tidak berguna, mencela tata cara yang bermacam-macam dari kaum Muslimin dalam ber-Islam, khususnya dalam menunaikan shalat. Gembirakanlah mereka dalam beragama dengan berbagai versinya!

 

 


Salam
Pengurus