Hikmah Ketiga Puluh Sembilan : Sakit dan Cara Menyikapinya (18/04/2019)

Sakit adalah alarm dari Allah swt. agar manusia lebih mensyukuri nikmat kesehatan. Sakit juga adalah tanda kasih sayang Allah kepada manusia, agar semakin menyadari kelemahan dan keterbatasan diri. Sakit juga merupakan cara Allah untuk menunjukkan bahwa sesama manusia saling membutuhkan sehingga seharusnya saling mengingatkan, saling menyayangi dan saling menjaga. Sakit juga merupakan sarana Allah swt. untuk menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah menyesal dan berkeluh kesah jika Allah menguji dengan penyakit. Berdo’alah agar Allah memberimu kesabaran, kesembuhan, ilmu dan hikmah besar di balik penyakit.

            “Adakah di antara Ibu-ibu sekalian yang tidak pernah sakit?”. Begitulah pertanyaan yang saya kemukakan dalam salah satu kesempatan ceramah takziah. Ibu-ibu yang hadir serentak menjawab“Tidak ada Ustadz”.

Setelah itu, saya beralih ke barisan laki-laki, “Kalau Bapak-bapak, ada yang sehat terus?” “Tidak ada juga Ustadz”. Jawaban mereka tidak mau kalah.

Sakit memang sangat akrab dengan manusia. Setiap manusia sepertinya pernah merasakannya. Jangankan menusia biasa. Nabi-nabi Allah swt pun pernah mengalaminya.

Nabi Ibrahim as. diceritakan di dalam al-Qur’an dalam sakitnya bertutur: “Dan apabila saya sakit, maka Dialah yang akan menyembuhkanku” Nabi Ayyub as. diuji oleh Allah swt. dengan penyakit kulit yang kronis dan menjijikkan dalam waktu yang lama, sehingga orang-orang merasa jijik berada di dekatanya. Bahkan Nabi Muhammad saw. pun pernah mengalami sakit.

Bila direnungkan lebih mendalam, sesungguhnya sakit mempunyai banyak hikmah. Di antaranya dijelaskan di dalam hadis berikut:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا ابْتَلَى اللَّهُ الْعَبْدَ الْمُسْلِمَ بِبَلاَءٍ فِى جَسَدِهِ قَالَ لِلْمَلَكِ اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُ فَإِنْ شَفَاهُ غَسَلَهُ وَطَهَّرَهُ وَإِنْ قَبَضَهُ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ »

Artinya:

Dari Anas, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ Apabila Allah menguji seorang hamba yang muslim berupa ujian pada tubuhnya, Allah berfirman kepada malaikat: ”Tulislah untuknya (pahala) atas amal saleh yang biasa ia lakukan. Maka jika Dia menyembuhkannya, berarti Dia telah mencucinya dan mensucikannya. Dan jika Dia menggenggam ruhnya, berarti Dia telah mengampuninya dan merahmatinya.

(HR. al-Bukhari)

 

Hadis di atas menunjukkan bahwa ada tiga kondisi yang bisa dialami oleh orang yang sakit dan tiga-tiganya akan mendatangkan manfaat jika disikapi dengan bijak.

Keadaan pertama, lama dalam kondisi sakit. Apabila ada seseorang yang menderita penyakit dalam waktu yang lama, maka Allah akan memerintahkan kepada Malaikat untuk tetap mencatat pahala atas amal saleh yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit tersebut di waktu sehatnya, namun kemudian terhenti karena sakitnya.

Keadaan kedua, berhenti dari sakit karena sudah sembuh. Bagi orang yang seperti ini, maka ia telah dicuci dan disucikan.

Keadaan ketiga, berhenti dari sakit karena wafat. Bagi orang yang mengalaminya, itu artinya dosa-dosanya telah diampuni dan ia telah mendapatkan rahmat dari Allah swt.  

Selain hikmah yang disebutkan di dalam hadis di atas, sakit juga mempunyai banyak hikmah yang lain. Di antaranya sakit bisa menjadi pengingat bagi manusia agar lebih mensyukuri nikmat kesehatan. Dengan sakit, seseorang akan lebih menyadari betapa berharganya kesehatan.

Sakit juga adalah tanda kasih sayang Allah kepada manusia, agar semakin menyadari kelemahan dan keterbatasan diri. Maka orang yang sakit, akan terjauh dari kesombongan, sebaliknya akan semakin merendahkan diri kepada Allah swt.

Sakit juga merupakan cara Allah untuk menunjukkan bahwa sesama manusia saling membutuhkan sehingga seharusnya saling mengingatkan, saling menyayangi dan saling menjaga.

Dengan banyaknya hikmah yang bisa dipetik dari keadaan sakit, maka tidak selayaknya seorang manusia berkeluh kesah jika Allah mengujinya dengan penyakit.

Sebaliknya, orang yang sakit sepatutnya banyak berdoa kepada Allah swt agar diberi kesabaran, kesembuhan, ilmu dan hikmah besar di balik penyakit yang dialaminya.

 

(Dr. Syahrir Nuhun, Lc,M,TH.I)


Salam
Pengurus