Hikmah Keempat Puluh Satu : Menyikapi Peristiwa Hidup (02/05/2019)

Peristiwa apapun yang terjadi dalam hidup, semuanya akan mendatangkan kebaikan asalkan disikapi dengan cara yang benar. Sesungguhnya yang menentukan baik buruknya bukanlah peristiwanya, tetapi cara menyikapinya. Satu peristiwa yang sama, disikapi dengan cara yang berbeda akan mendatangkan nilai yang berbeda. Peristiwa yang menyenangkan hati, kalau disikapi dengan rasa syukur, akan mendatangkan kebaikan. Namun jika disikapi dengan kesombongan, akan mendatangkan keburukan. Peristiwa yang menyusahkan hati, kalau disikapi dengan kesabaran, akan mendatangkan kebaikan. Namun jika disikapi dengan keluh kesah, akan membawa keburukan. Biasakanlah bersyukur dan bersabar. Hindari kesombongan dan keluh kesah.

 

Apabila ingin disederhanakan, maka semua peristiwa dan kejadian dalam kehidupan ini sesungguhnya tidak terlepas dari salah satu di antara dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, peristiwa yang sesuai dengan keinginan hati dan kemungkinan kedua, peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan hati.

Peristiwa yang sesuai dengan keinginan hati, biasanya akan mendatangkan kegembiraan, sementara peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan hati biasanya akan menimbulkan kesedihan.

Namun apabila direnungkan lebih mendalam, pada hakikatnya tidak semua peistiwa yang sesuai dengan keinginan hati sudah pasti akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, tidak semua peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan hati akan mendatangkan keburukan.

 

Mengapa demikian?

 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan memberikan dua contoh kasus yang sederhana. Kasus pertama, ada dua orang yang sama-sama mendapatkan promosi jabatan dan diangkat menjadi pimpinan di tempat kerjanya. Peristiwa ini tentu menyenangkan hati keduanya. Meskipun demikian, kedua orang tersebut menyikapi peristiwa tersebut dengan cara yang berbeda. Orang pertama, menyikapinya dengan rasa syukur dan menyadari sepenuhnya bahwa jabatan itu adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan dengan cara yang sebaik-baiknya. Sebaliknya orang kedua, menyikapinya dengan kesombongan dan kemudian menilai dirinya lebih daripada orang lain, lalu meremehkan mereka.

Kasus kedua, ada dua orang yang sama-sama dipecat dari pekerjaannya. Peristiwa ini, pada awalnya tentu akan menimbulkan kesedihan di hati keduanya. Namun setelahnya itu, keduanya menunjukkan respon yang berbeda. Orang petama memberikan respon yang positif, dia bersabar atas pemecatan tesebut dan menjadikannya sebagai peluang untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Sementara orang kedua, memberikan respon yang negatif, dia menjadi putus asa dan kehilangan semangat kerja.

Dua contoh kasus ini menunjukkan bahwa sebetulnya yang menentukan baik buruknya satu kejadian, bukanlah peristiwanya, tetapi cara menyikapinya.

Hakikat ini telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadis berikut:

 

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »

Artinya:

Dari Suhaib ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik. Hal yang semacam ini tidak akan dialami kecuali oleh orang yang beriman. Apabila ia mengalami sesuatu yang menyenangkan hati ia bersyukur, maka itu menjadi baik baginya. Dan jika ia ditimpa sesuatu yang menyusahkan, ia bersabar. Maka itu pun baik baginya.

(HR. Muslim)

 

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. menyampaikan pujian dan kekagumannya kepada orang yang beriman karena sikap mereka yang bijaksana dalam menghadapi peristiwa hidup. Peristiwa yang menyenangkan hati, mereka sikapi dengan rasa syukur, sehingga peristiwa tersebut mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, Peristiwa yang menyusahkan hati, mereka sikapi dengan kesabaran, sehingga peristiwa tersebut juga mendatangkan kebaikan.

Oleh karena itu, biasakanlah bersyukur dan bersabar. Hindari kesombongan dan keluh kesah.

(Dr. Syahrir Nuhun, Lc., M.THI)


Salam
Pengurus