Hikmah Keempat Puluh Dua : Keinginan dan Cara Menyikapi (06/05/2019)

Semua manusia pasti mempunyai keinginan, tapi tidak semua keinginan bisa diwujudkan, karena yang pasti terwujud hanyalah keinginan Allah swt. Jangan merasa sombong kalau keinginanmu terwujud, karena ia terwujud bukan karena engkau yang menginginkannya, tetapi karena Allah yang menghendakinya. Keinginan manusia juga tidak ada batas akhirnya, sementara kemampuan manusia untuk mewujudkan keinginannya sangatlah terbatas. Oleh karena itu, sesuaikanlah antara keinginan yang tak terbatas dengan kemampuan yang serba terbatas. Keinginan juga tidak boleh dipaksakan, karena apa yang diinginkan belum tentu itulah yang terbaik dalam hidup. Mohonlah selalu kepada Allah agar apabila yang engkau inginkan akan mendatangkan kebaikan, maka semoga Dia menakdirkan keinginan itu untukmu, memudahkanmu untuk meraihnya dan memberkahimu. Namun apabila yang engkau inginkan akan mendatangkan keburukan, semoga Dia menjauhkanmu darinya dan menggantikannya dengan yang lebih baik dan membuatmu menerima dengan sepenuh hati keinginan-Nya tersebut. 

 

Tidak ada seorang manusia pun yang tidak mempunyai keinginan dalam hidupnya. Semua manusia yang hidup pasti mempunyai keinginan, paling tidak keinginan untuk hidup. Seseorang yang hidup berarti masih punya keinginan hidup, karena seandainya ia tidak lagi mempunyai keinginan hidup, maka ia pasti akan mengakhiri hidupnya.

Keinginan akan selalu menyertai manusia sepanjang hidupnya, maka yang dibutuhkan adalah bagaimana mengelola dan mengendalikan keinginan tersebut. Mengelola keinginan di antaranya dengan cara: 

Pertama, menanamkan keyakinan di dalam hati bahwa tidak semua keinginan akan mampu untuk diwujudkan, karena yang pasti terwujud hanyalah keinginan Allah swt.

Apabila keyakinan seperti ini sudah tertanam di dalam hati, maka tidak akan ada perasaan sombong ketika keinginan terwujud, karena ia terwujud bukan karena manusia yang menginginkannya, tetapi karena Allah yang menghendakinya. Sebaliknya, ketika keinginan tidak terwujud, maka tidak akan merasa kecewa karena sejak awal sudah menyadari yang akan terwujud bukanlah keinginannya, tetapi keinginan Allah swt. 

Kedua, menanamkan kesadaran dalam diri bahwa meskipun keinginan manusia tidak ada batas akhirnya, tetapi kemampuan manusia untuk mewujudkan keinginannya sangatlah terbatas.

Bagi yang menyadari hal ini, ia akan selalu berusaha untuk menyesuaikan antara keinginannya yang tak terbatas dengan kemampuannya yang serba terbatas.

Ketiga, menanamkan keyakinan dalam hati bahwa yang terbaik dalam hidup bukanlah apa yang diinginkan, tetapi yang terbaik dalam hidup adalah apa yang menurut Allah swt. baik.

Apabila keyakinan seperti ini tertanam kuat di dalam hati, maka apapun yang terjadi dalam hidup, semua akan diterima dengan kerelaan hati karena yakin bahwa itu adalah keputusan Allah swt yang akan membawa kebaikan.

Hakikat ini telah diingatkan oleh Allah swt dalam firmannya berikut ini:

 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Terjemah:

Telah diwajibkan kepada kalian berperang meskipun (peperangan) itu adalah sesuatu yang kalian benci Boleh jadi kalian membenci sesuatu, tetapi itulah yang terbaik untuk kalian. Boleh jadi kalian mencintai sesuatu, tetapi itulah yang terburuk untuk kalian. Allah yang lebih mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.

(QS Al-Baqarah: 216)

 

Pemahaman yang baik terhadap ayat di atas akan menjadikan seseorang tidak memaksakan keinginannya, karena apa yang diinginkan belum tentu itulah yang terbaik dalam hidup.

Sebaliknya, ia akan selalu memohon kepada Allah agar apabila yang diinginkan akan mendatangkan kebaikan, maka semoga Dia menakdirkan keinginan itu untuknya, memudahkannya untuk meraihnya dan memberkahinya. Namun apabila yang diinginkan akan mendatangkan keburukan, semoga Dia menjauhkannya darinya dan menggantikannya dengan yang lebih baik dan membuatnya menerima dengan sepenuh hati keinginan-Nya tersebut.

(Dr.Syahrir Nuhun, Lc,M.THI)

 

 


Salam
Pengurus