Puasa Ular atau Puasa Ulat? (04/06/2019)

Oleh : Syamril

(Direktur Sekolah Islam Athirah)

Apa persamaan ular dan ulat? Keduanya jalannya merayap. Bukan cuma itu, ternyata ular dan ulat sama sama dalam fase hidupnya menjalani puasa. Namun terdapat perbedaan ‘hasil’ dari puasanya. Puasa ular hanya menghasilkan pergantian kulit. Ular tetap jadi ular dengan karakter yang sama dengan sebelumnya. Tetap berbisa dan berbahaya bagi manusia.

Berbeda dengan ulat. Setelah puasa dalam kepompong, ulat berubah menjadi kupu kupu yang cantik. Tidak hanya secara fisik berubah juga karakternya. Jika saat masih berwujud ulat, ia adalah musuh tumbuh-tumbuhan karena memakan daun dengan sangat rakus. Namun setelah berubah menjadi kupu-kupu, ia menjadi sahabat tumbuh-tumbuhan karena membantu penyerbukan. 

Puasa yang dijalani oleh umat Islam selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan ini juga bisa seperti ular atau ulat. Jika puasanya hanya sekadar ritual rutin belaka, saat lebaran hanya berubah jadi memakai baju baru tanpa ada perubahan akhlak baru yang lebih baik maka itu tipe puasa ular. 

Jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, hanya menggugurkan kewajiban saja, tidak mendapatkan pahala dan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah bersabda : “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani, shahih lighairihi)

Mengapa hanya mendapatkan lapar dan dahaga? Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga harus menahan lisan dari berkata-kata yanga tidak baik, berkata kotor, menggunjing, menggibah, dan mengadu domba. 

Jadi puasa melatih pembiasaan akhlakul karimah salah satunya dengan menjaga lisan untuk hanya membicarakan kebaikan. Jika ini bisa dilakukan maka puasa akan menghasilkan perubahan akhlak pada  orang yang mengerjakannya. Setelah selesai puasa, diharapkan menjadi karakter baik yang sudah menjadi kebiasaan baru. Maka itulah puasa tipe ulat karena berubah menjadi lebih baik. 

Kebiasaan baik yang menjadi karakter, tidak akan bisa terwujud jika hanya karena dorongan kewajiban belaka. Akhlak yang baik akan kokoh tumbuh pada diri jika didasarkan pada kesadaran yang dibangun oleh iman. 

Iman berarti keyakinan yang kokoh khususnya pada Allah dan Hari Akhir. Bukan hanya keyakinan bahwa Allah itu Ada tapi juga Allah Maha Melihat, Menyaksikan apa diperbuat oleh manusia. Lalu semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia kelak di Hari Akhir akan dipertanggungjawabkan di Majelis Akhirat.  

Semoga ibadah puasa yang kita lakukan terhindar dari tipe puasa ular yang hanya mendapatkan baju baru tanpa ada karakter baru. Mari berusaha meraih puasa tipe ulat yang menghasilkan perubahan akhlak baru yang lebih baik, bermanfaat dan memberi rahmat bagi seluruh alam. Amin.


Salam
Pengurus