Hikmah Keempat Puluh Empat : Mengendalikan Perasaan, Pikiran dan Keinginan (04/07/2019)

Oleh : Dr.Syahrir Nuhun, Lc.M,THI

 

Semua manusia pasti mempunyai perasaan, pikiran dan keinginan. Jangan pernah membiarkan perasaan yang memperdayamu, engkaulah yang harus menundukkannya. Jangan biarkan keinginan yang mengarahkanmu, tetapi engkaulah yang harus mengontrolnya. Jangan biarkan pikiran yang menyetirmu, tetapi engkau yang harus mengendalikannya. Sesuaikanlah perasaan, keinginan dan pikiranmu dengan tuntunan Allah swt.

 

 

Kalau anda seorang laki-laki dan melihat perempuan di jalanan yang tidak menutup auratnya, adakah keinginan di dalam hatimu untuk menatapnya meskipun sesungguhnya perbuatan itu dilarang oleh Allah swt.?

Atau…

Kalau anda seorang perempuan dan melihat uang dalam jumlah besar di jalan, adakah keinginan di dalam dirimu untuk mengambil dan memilikinya, meskipun sebetulnya uang itu bukan hakmu?

Banyak laki-laki yang lebih mudah tergoda oleh kecantikan perempuan, sebagaimana banyak perempuan yang penglihatannya sangat mudah silau oleh kemilau harta.

 

 

Semua manusia pasti mempunyai perasaan, juga pikiran dan keinginan. Namun tidak sepatutnya seseorang membiarkan perasaan yang memperdayanya, dialah yang harus menundukkan perasaannya. Tidak selayaknya membiarkan keinginan yang mengarahkannya, tetapi dialah yang harus mengontrolnya. Jangan membiarkan pikiran yang menyetirnya, tetapi dia yang harus mengendalikan pikirannya.

Perasaan harus tunduk kepada kehendak Allah. Keinginan harus mengikuti keinginan Allah dan pikiran harus selaras dengan tuntunan Allah. Sesuaikanlah perasaan, keinginan dan pikiran dengan aturan Allah swt. Semua potensi yang dikaruniakan oleh Allah swt. mestilah disalurkan dan digunakan sesuai dengan peintah Allah swt, bukan sebaliknya perintah dan larangan Allah swt. yang diabaikan dan ditundukkan kepada perasaan, keinginan dan syahwat manusia.

Allah swt. mengingatkan dalam firmannya:

 

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

Terjemah:

Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan dan Allah membiarkannya tersesat atas sepengetahuannya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menjadikan pada matanya ada penutup. Maka siapakah yang bisa memberinya petunjuk setelah Allah (menyesatkannya)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajarannya?

(QS al-Jatsiyah: 23)

 

            Ayat di atas menegaskan bahwa orang yang mempertuhankan hawa nafsunya akan dibiarkan oleh Allah swt. berada dalam kesesatan, hatinya akan terhalang dari petunjuk, indranya akan kehilangan kemampuan untuk menjadi alat menemukan kebenaran.

            Maka kemampuan untuk menundukkan hawa nafsu di bawah tuntunan agama adalah ciri kesempurnaan iman seseorang.

Rasulullah saw. bersabda:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ "

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang saya bawa.

(HR. al-Baghawi)

 

 

 


Salam
Pengurus