Hikmah Keempat Puluh Delapan : Nilai Penting dari sebuah Do’a (01/08/2019)

Oleh : Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI

 

Yang terpenting dari sebuah do’a bukanlah dipenuhinya apa yang diminta, tetapi bagaimana menyadari keterbatasan diri dan mampu merasakan kedekatan dengan Sang Maha Kuasa. Apabila kedekatan dengan-Nya sudah dirasakan, maka seperti apapun perlakuan makhluk tidak akan pernah lagi menyusahkan.

 

 

 

Seorang jamaah pengajian mendatangi saya lalu berkata dengan suara pelan: “Ustadz! Minta tolong saya didoakan, mudah-mudahan doa Ustadz lebih didengar oleh Allah swt., karena saya sendiri sudah tidak mau lagi berdoa kepada Allah swt.?”

 

Saya kaget sekaligus prihatin dengan apa yang disampaikannya. Ucapan tersebut menyiratkan keputusasaan dan perasaan ketidakberdayaan.

 

Masalah apa Pak yang sedang dihadapi?

Dengan wajah yang menunjukkan kesedihan, bapak tersebut kemudian menjawab: “Tolong doakan saya supaya bisa sembuh dari impotensi. Sudah dua kali saya menikah dan kedua istri saya meninggalkan saya karena masalah tersebut. Saya sudah tidak yakin lagi bahwa Allah akan mengabulkan doa saya. Siapa tahu kalau Ustadz yang berdoa lebih mudah diijabah oleh Allah swt. karena lebih dekat kepada-Nya.”

 

Perasaan yang dialami oleh Bapak yang saya ceritakan kisahnya di atas, boleh jadi juga pernah dirasakan oleh anda. Perasaan dan asumsi seperti itu biasa muncul karena adanya anggapan bahwa suatu doa baru dinilai dikabulkan apabila Allah swt. memberi sesuai dengan permintaan.

Sejatinya Allah swt. mengabulkan doa dengan berbagai macam cara. Selain Allah swt. mengabulkan doa dengan cara memberi sesuai dengan permintaan, Allah swt. juga terkadang memberi berbeda dengan yang diminta karena Allah swt. yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya. Selain itu, Allah swt. juga bisa mengabulkan doa dengan cara tidak memberikan apa-apa, tetapi sebagai ‘kompensasi’-nya, Allah swt. menghindarkan dari satu bala’.

Bahkan, sekiranya Allah swt. tidak memberikan apapun di dunia, maka tetaplah bersyukur karena itu artinya Allah swt. telah meng’investasi’kannya untuk kehidupan di akhirat.

Doa adalah ibadah, senjata, benteng, obat dan pintu segala kebaikan. Doa mempunyai banyak keutamaan. Dengan izin Allah doa bisa mengubah segalanya, bahkan doa juga tetap mempunyai manfaat terhadap qadha (putusan takdir) karena doa termasuk bagian dari qadha yang bisa menolak bala (petaka). Jadi doa merupakan penyebab untuk menolak bala dan untuk menghadirkan rahmat, sebagaimana sebuah tameng yang menjadi penyebab untuk menghalau anak panah, dan air yang menjadi penyebab tumbuhnya tanaman. Maka sebagaimana tameng itu menolak panah, yang berarti saling mendorong, begitu pula antara doa dan bala.

Dalam beberapa hadis, Rasulullah saw. bersabda:

"Doa itu bermanfaat terhadap sesuatu yang telah turun (terjadi) maupun sesuatu yang belum terjadi, maka kalian wahai hamba Allah berdoalah." (HR. At-Tirmidzi).

            Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda:

"Tidak bisa menolak qadha (takdir yang sudah terjadi) kecuali doa, dan tidak bisa menambah umur selain kebaikan." (HR. At-Tirmidzi).

Agar doa lebih mudah diijabah oleh Allah swt, maka seyogyanya senantiasa menjaga adab-adabnya, di antaranya:

  • Ikhlas.

Keikhlasan adalah sesuatu yang paling utama untuk diperhatikan oleh setiap orang yang berdoa. Ikhlas artinya memurnikan doa hanya untuk Allah semata, baik dalam ucapan, perbuatan maupun tujuan.

  • Mencari waktu-waktu mulia untuk memanjatkan doa, seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum'at, sepertiga akhir malam dan waktu lainnya.
  • Memanfaatkan kondisi-kondisi tertentu yang dinyatakan sebagai saat ijabah oleh syari'at Islam. Seperti waktu sujud, ketika berpuasa, bepergian, waktu sakit, ketika minum air zam-zam dan sebagainya.

 


Salam
Pengurus