Hikmah Keempat Puluh Sembilan : Menentramkan Hati dengan Zikir (16/08/2019)

Oleh : Dr. H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THi

Banyak orang yang menyangka bahwa ketenangan hati akan didapatkan dengan limpahan harta. Tidak sedikit orang yang menduga bahwa ketentraman batin akan diraih dengan jabatan tinggi. Ada pula yang beranggapan bahwa ilmu yang tinggi yang akan melahirkan ketenangan. Ternyata rahasia ketenangan hati dan ketentraman batin, Allah letakkan dalam zikir. Ingatlah kebesaran Allah dalam hatimu, sebut nama-Nya dengan lisanmu, niscaya Allah akan menenangkan hatimu dan menentramkan batinmu.

 

 

Apa sesungguhnya yang bisa mendatangkan ketenangan hati dan ketentraman batin?

 

Harta yang melimpah? Rumah, kendaraan, perhiasan? Jabatan yang tinggi? Kekuasaan yang luas dan hampir tanpa batas? Massa yang banyak? Pendukung yang berjibun? Atau ilmu yang tinggi Popularitas?

 

Memang banyak orang yang menyangka bahwa ketenangan hati akan didapatkan dengan limpahan harta. Tidak sedikit orang yang menduga bahwa ketentraman batin akan diraih dengan jabatan tinggi. Ada pula yang berpandangan bahwa ketenangan akan diperoleh jika punya banyak massa, popularitas atau ilmu yang tinggi.

Padahal sejatinya bukan itu semua yang bisa menenangkan hati dan menentramkan batin. Ketenangan hati dan ketentraman batin, kuncinya Allah swt. jelaskan dalam ayat berikut ini:

 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Terjemah:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah! Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.

(QS ar-Ra’d: 28)

 

Ternyata, menurut ayat di atas, rahasia ketenangan hati dan ketentraman batin, Allah letakkan swt. dalam zikir.

Zikir artinya mengaitkan atau menghubungkan, maka Zikrullah maknanya adalah menghubungkan sesuatu dengan Allah swt. Apabila ada seseorang memperoleh nikmat, lalu ia menghubungkan nikmat tersebut dengan Allah, dalam bentuk mengakui dalam hatinya bahwa nikmat tersebut adalah karunia dari Allah, kemudian memuji Allah dengan lisannya, maka pada hakikatnya, saat itu ia sedang berzikir.

Begitu pula sebaliknya, apabila ada seseorang ditimpa musibah, lalu ia menghubungkan musibah tersebut dengan Allah, dalam bentuk adanya kesadaran dalam hati bahwa musibah tersebut adalah ketetapan Allah swt. sebagai ujian baginya dan mengembalikan musibah tersebut kepada Allah dengan membaca istirja’, maka pada saat itu sedang berzikir.

Zikir akan mengantarkan kepada ketenangan hati dan ketentraman batin apabila zikir itu dimaksudkan untuk mendorong hati menuju kesadaran akan kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Limpahan harta, jabatan tinggi, massa yang banyak, ilmu yang tinggi dan popularitas tidak akan melahirkan ketenangan justru akan melahirkan kecemasan apabila tidak disertai dengan kesadaran akan kemahabesaran Allah swt.

Menyebut nama Allah dengan lisan yang didasari oleh Ingatan akan kebesaran Allah dalam hati, akan mendatangkan ketenangan hati dan ketentraman batin.


Salam
Pengurus