ZAKAT PROFESI (15/06/2021)

 

H. Abdul Rauf, Lc,MA (Ketua Majelis Ulama Indonesia Kec.Biringkanaya Makassar)

Pembahasan mengenai hal ini termasuk baru dalam fiqhi dan hampir tidak dikenal dalam buku-buku fiqhi klasik. Zakat profesi termasuk pembahasan baru dalam dunia fiqhi modern. Tetapi karena maraknya wacana mengenai bab ini (termasuk pro kontra sampai ada yang menyebutnya bid’ah), dan telah banyak dipraktekkan ummat islam di seluruh dunia, maka kami berpendapat bahwa zakat profesi perlu terus dibahas. Pertimbangannya adalah karakter dasar fiqhi yang dinamis, berkembang mengikuti perkembangan zaman. Pertimbangan lain adalah maslahat besar yang dikandungnya khususnya dalam mengangkat derajat ummat Islam dari segi ekonomi. Dan boleh jadi, pertimbangan kedualah yang mengemuka saat ini.

Profesi yang dimaksud dalam hal zakat profesi adalah pekerjaan atau usaha yang menghasilkan uang atau kekayaan baik usaha itu dilakukan sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain, maupun dengan bergantung kepada orang lain, seperti pemerintah, perusahaan maupun dengan perorangan yang memperoleh upah, gaji atau honorarium. Seperti dokter, Insinyur, Desainer, Advokat, Seniman, penjahit, tenaga pengajar, (guru, dosen dan guru besar), konsultan, Pegawai Negeri Sipil, konsultan dan sebagainya.

Zakat profesi berarti zakat penghasilan seperti gaji, honorarium, komisi, bonus dan semacamnya. Dengan kata lain, zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha halal yang dapat mendatangkan uang yang relatif banyak melalui keahlian tertentu. Semua profesi tersebut apabila menghasilkan uang senilai minimal 86 gram emas murni selama setahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

Dasar Hukum Zakat Profesi

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (Al Baqarah: 267)

Dan juga dalil umum tentang zakat, seperti firman Allah:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (Adz Zariyaat: 19)

Dalil lain adalah qiyas zakat profesi dengan zakat panen dalam hal ini qiyasul aula (qiyas lebih utama). Dengan logika, jika seorang petani yang menggarap lahan dengan susah payah, rentang waktu yang lama, modal sekian, hasil belum pasti dan sebagainya, diwajibkan membayar zakat dengan kadar antara 5 sampai 10%, maka orang yang mendapatkan uang banyak dengan relatif mudah, penghasilan tetap, lebih pantas untuk mengeluarkan zakat.

Berdasarkan uraian singkat mengenai zakat profesi ini kami berkesimpulan bahwa zakat jenis ini lebih baik diamalkan mengingat azas manfaat dan maslahatnya yang besar untuk ummat. Diamalkan meskipun ada sedikit perbedaan di kalangan ulama. Dan jika dicermati perbedaan para ulama itu, perbedaannya adalah pada jumlah kadar zakatnya dan apakah harus menunggu haul atau tidak, bukan pada apakah zakat profesi wajib atau bukan wajib. Semoga dengan zakat, (termasuk zakat profesi) harta menjadi bersih, berkemabang, berkah, bermanfaat bagi masyarakat dan meneyelamatkan pemiliknya dari murka Allah SWT.

 


Salam
Pengurus