HIKMAH PERTAMA : KEIHLASAN (02/01/2018)

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

"Gunung dengan kekuatannya sanggup menghentikan goncangan bumi. Besi dengan kekuatannya sanggup mengeruk gunung. Api dengan kekuatannya sanggup melunakkan besi. Air dengan kekuatannya sanggup memadamkan api. Angin dengan kekuatannya sanggup membawa air kesana kemari. Namun manusia yang ikhlas jauh lebih kuat dibandingkan dengan makhluk apapun juga"

Seorang aktivis dakwah yang awalnya begitu semangat berdakwah, tiba-tiba kehilangan semangat ketika jamaahnya sudah tidak lagi antusias mendengarkan ceramahnya.

Seorang laki-laki yang tadinya sangat rajin shalat malam dan shalat dhuha atas pemintaan calon istrinya, mendadak menghentikan kebiasaannya tersebut setelah rencana pernikahan mereka gagal.

Di sisi lain, seorang perempuan yang bercerai dari suaminya, tiba-tiba saja mengambil keputusan untuk melepaskan hijabnya. Awalnya memang dia tidak berhijab, namun setelah menikah atas permintaan suaminya, ia kemudian mengenakan hijab. Begitu bercerai, hijabnya kemudian dilepas kembali

Ada lagi seorang gadis muda yang tiba-tiba berubah menjadi begitu liar di media sosial, padahal sebelumnya ia sangat jarang berinteraksi di media sosial, kecuali untuk hal-hal sangat penting. Itupun dilakukan dengan bahasa yang sangat santun karena menjaga perasaan laki-laki yang dicintainya. Namun setelah hubungan mereka kandas, kekecewaan dan kemarahannya dilampiaskan secara membabi buta di media sosial.

Ada juga seorang pegawai yang tadinya sangat disiplin karena ketegasan atasannya, tiba-tiba berubah menjadi sering terlambat masuk dan pulang cepat setelah atasannya dimutasi.

Mengapa semua itu terjadi?

Kemana perginya semangat, kesalehan, hijab, kesantunan dan kedisiplinan itu?

Mengapa semuanya begitu mudah berubah? 

Jawabannya adalah semua itu terjadi karena mereka melakukannya dengan alasan manusia, bukan karena Allah SWT. Sederhananya, mereka tidak Ikhlas.

Ikhlas merupakan kata yang sangat mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sangat susah untuk diamalkan. Secara bahasa, ikhlas mengandung arti hilangnya campuran yang terdapat pada suatu benda atau yang menyatu dengannya, padahal pada mulanya campuran tersebut menyatu dengan benda asalnya.

Ikhlas merupakan ruh dari amal yang dilakukan oleh seseorang. Tanpa keikhlasan, maka amal hanya akan menjadi seperti badan tanpa ruh.

Keikhlasan tidak hanya dituntut dalam pelaksanaan ibadah, tetapi juga dalam muamalah. Allah SWT. Dalam mensyariatkan segala sesuatu, baik yang menyangkut ibadah, maupun muamalah, memiliki dua tujuan, yaitu tujuan utama dan tujuan tambahan. Tujuan utama dari pelaksanaan syariat adalah penghambaan kepada Allah SWT. Meskipun demikian, terdapat tujuan tambahan selain tujuan utama tersebut. Maka apabila ada seseorang yang melakukan suatu ibadah atau muamalah dengan mengharapkan tujuan tambahan, maka dia tetap dikategorikan ikhlas selama tujuan utamanya adalah penghambaan kepada Allah SWT.

Berdasarkan hal tersebut, maka keikhlasan dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan tertinggi, yaitu mereka yang beribadah semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Tingkatan kedua, yaitu mereka yang beribadah selain untuk mendapatkan ridha Allah SWT, juga menghendaki balasan di akhirat, semisal terhindar dari api neraka dan ingin masuk surga.

Tingkatan ketiga, yaitu mereka yang beribadah selain untuk mendapatkan ridha Allah SWT., menghendaki balasan di akhirat, juga menghendaki balasan di dunia yang merupakan tujuan tambahan dari ibadah atau muamalah tersebut.

Sebagai contoh dalam pelaksanaan shalat malam. Keikhlasan yang tertinggi yaitu mereka yang shalat semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Keikhlasan tingkat kedua yaitu mereka yang shalat, selain mengharapkan ridha Allah, juga menginginkan derajat yang tinggi di surga. Adapun keikhlasan yang terendah, yaitu mereka yang shalat malam, selain dengan dua tujuan di atas, juga menghendaki tujuan dunia misalnya dijauhkan dari penyakit.

Dengan keikhlasan, Allah SWT. akan memberikan kekuatan yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut  :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الأَرْضَ جَعَلَتْ تَمِيدُ فَخَلَقَ الْجِبَالَ فَعَادَ بِهَا عَلَيْهَا فَاسْتَقَرَّتْ فَعَجِبَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ شِدَّةِ الْجِبَالِ قَالُوا يَا رَبِّ هَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْجِبَالِ قَالَ نَعَمِ الْحَدِيدُ . قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْحَدِيدِ قَالَ نَعَمِ النَّارُ. فَقَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ النَّارِ قَالَ نَعَمِ الْمَاءُ. قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْمَاءِ قَالَ نَعَمْ الرِّيحُ قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الرِّيحِ قَالَ نَعَمِ ابْنُ آدَمَ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ بِيَمِينِهِ يُخْفِيهَا مِنْ شِمَالِهِ ».

Dari Anas bin Malik dari Nabi saw, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan  bumi, ia bergoncang, maka Allah menciptakan gunung sehingga bumi kembali kepada keadaannya semula yang stabil. Malaikat merasa kagum dengan kekuatan gunung, lalu bertanya: “Wahai Tuhan! Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?”, (Allah menjawab): “Ya, besi”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?”, (Allah menjawab): “Ya, api”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?”, (Allah menjawab): “Ya, air”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air?”, (Allah menjawab): “Ya, angin”. Mereka bertanya: “Adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih kuat daripada angin?”, (Allah menjawab): “Ya, anak Adam, apabila ia bersedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya dari tangan kirinya”.

(HR. at-Turmudzi)

Hadis di atas menunjukkan bahwa orang yang ikhlas akan menjadi jauh lebih kuat dibandingkan dengan makhluk apapun juga. Lebih kuat dibandingkan dengan gunung yang dengan kekuatannya sanggup menghentikan goncangan bumi. Lebih kuat dibandingkan dengan besi yang dengan kekuatannya sanggup mengeruk gunung. Lebih kuat dibandingkan dengan api yang dengan kekuatannya sanggup melunakkan besi. Lebih kuat dibandingkan air yang dengan kekuatannya sanggup memadamkan api. Lebih kuat dibandingkan  dengan angin yang dengan kekuatannya sanggup membawa air kesana kemari. Pendeknya, dia akan menjadi lebih kuat dibandingkan dengan makhluk apapun juga.

Orang yang ikhlas akan menjadi orang yang sangat kuat karena orang yang ikhlas sandarannya adalah Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, Allah SWT.

Penulis : Dr. H. Syahrir Nuhung, Lc, M.THI


Salam
Pengurus