Keutamaan Shalat berjamaah di Masjid

Assalamu Alaikum Wr Wb ,

 Tanya Ustadz ,

 Saya ingin bertanya mengenai keutamaan sholat berjamaah di masjid , di
 lingkungan masjid rumah saya kebanyakan yang ke masjid sholat berjamaah
 adalah laki-laki. Karena mungkin perempuan sibuk dirumah, atau memang merasa
 tidak perlu ke masjid untuk berjamaah.

 Anggaplah kasusnya seperti ini : "seorang suami pergi ke masjid
 berjamaah, sedangkan istrinya sholat sendiri di rumah."

 Pertanyaannya : suami (kepala keluarga) harusnya bagaimana? sholat
 berjamaah dimasjid ? atau berjamaah dirumah (mengimami) istri ?

 Salam

(Hamba Allah)
 
Jawaban :

Wa’alaikumussalam Wr Wb

Tidak diragukan lagi bahwa shalat berjamaah mempunyai keutamaan yang sangat banyak. Meskipun demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki. Sebagian ulama berpendapat bahwa jamaah adalah syarat sah shalat, sebagian ulama lainnya berpendapat fardhu ‘ain, ada yang berpendapat fardhu kifayah dan ada yang hanya menyatakan sunnah mu’akkadah.

Shalat jama’ah adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana hal ini adalah pendapat ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya) dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashor Al Muzanniy. Imam Asy Syafi’i mengatakan:

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر

Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” 

Menurut Hanafiyyah, mayoritas Malikiyah, dan juga pendapat sebagian Syafi’iyah bahwa shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah mu’akkad. Adapun pendapat yang paling kuat dari Syaf’iyah, shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu kifayah. Pendapat ini juga adalah pendapat sebagian ulama Hanafiyah semacam Al Karkhiy dan Ath Thohawiy. Adapun menurut Hanabilah, juga salah satu pendapat Hanafiyyah dan Syafi’iyyah bahwa shalat jama’ah adalah wajib, namun bukan syarat sah shalat.

Keutamaan shalat berjamaah bagi perempuan juga berlaku, hanya saja mereka lebih dianjurkan untuk shalat di rumah dibandingkan di masjid. Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi perempuan untuk shalat di masjid.

            Selain itu, seseorang yang sudah melaksanakan shalat, diperbolehkan untuk shalat lagi kembali apabila ada alasan syar’i semisal mengimami jamaah yang lain. Praktek semacam ini pernah dilakukan sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Beliau shalat di masjid Nabawi menjadi makmum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian pulang ke kampungnya dan mengimami jamaah isya di kampungnya.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمُ الصَّلاَةَ

Bahwa Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ikut shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di masjid nabawi). Kemudian dia pulang ke kampungnya, dan mengimami mereka shalat. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tindakan Muadz ini tidak diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini menunjukkan bahwa beliau setuju dengan sikap Muadz. Dan persetujuan (taqrir) Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalil yang diterima.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jawaban atas pertanyaan Bapak sebagai berikut:

  1. Sebagai laki-laki, Bapak sebaiknya tetap shalat berjamaah di masjid, bahkan wajib menurut sebagian ulama
  2. Setelah shalat berjamaah di masjid, Bapak bisa mengimami istri di rumah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bish Shawab


Salam
Pengurus