HIKMAH KE EMPAT : KETELADANAN (05/03/2018)

Kesan apa yang anda rasakan ketika menjumpai seseorang yang menyuruh orang lain melakukan sesuatu perbuatan atau meninggalkan suatu perbuatan, tetapi dia sendiri tidak mencontohkannya?

 

Boleh jadi anda merasa dongkol, lalu kehilangan rasa hormat terhadap yang bersangkutan.

 

Jawaban anda sesungguhnya menunjukkan betapa pentingnya keteladanan. Sebatas mengajarkan sesuatu kepada orang lain tanpa menunjukkan keteladanan hanya akan memberikan bekas dalam pikirannya akan tetapi tidak akan memberikan pengaruh positif di dalam hatinya.

Keteladanan dibutuhkan di semua tempat, di rumah, di lembaga pendidikan formal maupun non formal apalagi di lingkungan masyarakat

Dalam keluarga, orang tua mesti memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Anak ibarat kertas putih, yang bisa ditulisi dengan tulisan apa saja. Peran orangtua sangatlah vital karena melalui orang tualah, anak akan menjadi manusia yang baik atau tidak. Satu hal yang sangat penting adalah keteladanan dalam melakukan hal-hal yang terpuji. Inilah yang harus dilakukan orangtua. Bukan hanya memerintah dan menyalahkan, tapi yang lebih penting adalah memberikan contoh kongkret.

Rasulullah SAW, sebagai teladan paripurna, telah memberikan tuntunan bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak. Bahkan jauh sebelum Rasulullah saw, nabi Ibrahim as juga telah menunjukkan hal tersebut.

Mari kita simak doa Nabi Ibrahim as berikut ini:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

Terjemah:

Tuhan jadikanlah saya orang mendirikan shalat dan (begitu pula) anak keturunanku. Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Maha menerima doa.

(QS Ibrahim: 40)

 

Menyimak doa Nabi Ibrahim as di atas, kita bisa melihat bahwasanya nabi Ibrahim as terlebih dahulu meminta kepada Allah swt. untuk dijadikan sebagai orang yang mendirikan shalat sebelum meminta anugerah yang sama untuk anak keturunannya.

            Terkadang ada orang tua yang menegur anaknya dengan keras ketika menemukan anaknya asyik menonton televisi atau bermain game dan menyuruh anaknya untuk segera ke masjid pergi shalat, tetapi yang terjadi kemudian malah dia sendiri yang asyik nonton televisi.

            Ada juga orang tua yang rajin menasehati anaknya untuk selalu berbicara yang santun dan tidak berkata-kata kasar, sementara dia sendiri terlampau sering berkata-kata kasar kepada pasangan hidupnya di hadapan anak-anaknya.

Seorang tokoh agama, penyampai pesan-pesan ilahi, sudah selayaknya menghiasi diri dengan keteladanan. Seindah apapun retorika yang disampaikan, sekuat apapun hujjah yang dikemukakan, namun apabila tidak disertai dengan keteladanan, maka hanya akan menjadi cibiran di kalangan umat. Oleh karena itu, Allah swt mencela dengan keras seseorang yang mengucapkan apa yang ia tidak lakukan dan menilainya sebagai keburukan yang besar di sisi-Nya.

Seorang pemimpin masyarakat juga harus bisa memberikan keteladanan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Tanpa keteladanan, maka ia akan kehilangan rasa hormat dari masyarakatnya.

Masyarakat akan lebih bisa menerima kondisi susah yang disampaikan dengan penuh kejujuran dibandingkan dengan kesenangan semu yang disampaikan dengan kebohongan.

Bagaimanapun juga, tidak ada yang lebih besar pengaruhnya untuk mengubah orang lain dibandingkan dengan keteladanan. 

 

(Dr. H.Syahrir Nuhun, Lc, MTHI)

 

Pengasuh rubrik Tanya Ustadz

 

 


Salam
Pengurus